Valentine!!, budaya atau tradisi?

Ketika semua mengibarkan bendera dan memasang pernak-pernik bernuansa merah putih, semua orang Indonesia tahu, bahwa sudah saatnya kita memperingati hari Kemerdekaan, dan Ketika dimana-mana telah terpasang ornamen Natal, tentu saja kita juga tahu bahwa sudah saatnya memperingati Hari Natal, lalu bagaimana dengan hari Kasih sayang yang kita kenal dengan Valentine? apakah serempak semua orang berganti ornamen dengan nuansa Pink dan Hati? apakah semua orang mengamini bahwa Valentine sebagai suatu moment yang pantas kita rayakan bersama? tentu saja tidak!!, karena pada dasarnya manusia memiliki sifat dasar cinta untuk mengasihi sesama, jadi tidak harus menunggu moment tertentu untuk berbuat baik, berbuat kasih, dan berbagi dengan sesama, bahkan dengan hewan dan tumbuhan sekalipun, dan itu bisa kita lakukan sehari-hari tanpa paksaan, dan mungkin tanpa sadar, kita telah melakukannya hari ini. Lalu…. mengapa masih ada saja orang yang berbuat jahat ya..?!!

“Akhirnya, selesai juga paragraf awal dari karya tulis ku tentang Valentine.., ternyata memaknai tentang hari kasih sayang itu tidak mudah ya”, gumal Andrea dalam hati, di sela-sela kesibukannya menyambut acara Valentine yang akan diadakan di sekolahnya 2 pekan mendatang.

Moment Valentine memang menjadi moment istimewa bagi anak-anak seusia kami, entah karena memang mengerti atau hanya ikut ikutan saja, tapi yang jelas.. tahun ini saatnya aku membuat suatu acara yang berbeda, bukan hanya sekedar bagi-bagi coklat dan bunga, atau sekedar membuat pesta kecil sesama teman atau pasangan, tapi harus ada edukasi didalamnya, agar moment Kasih sayang ini bukan sekedar hura-hura semata. “hehehee… mumpung diangkat jadi ketua panitia” bisik Andrea sambil tersenyum bangga.

“Yo… yang lain mana?? Koq belum ada yang datang? Kan kita sudah janji hari ini akan konsolidasi panitia..!”. Memang sulit mengatur anak remaja seperti kami, masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri, ada yang memang lupa, ada pula yang terlalu asik dengan kekasihnya, sampai-sampai orang sekitarnya pun tak dianggap dan lupa dengan janji hari ini.

“Dre… sorry, ada masalah penting banget.. tadi Tasya telepon, ia tak bisa datang karena Sindy kena musibah” ucap Yoyo tergesa-gesa.

“Loh… ada masalah apa?? Kena musibah, Musibah apa? Kamu klo ngomong yang jelas dong Yo!!, sekarang Tasya dimana?” timpal Andre sedikit bingung, “Kamu tanya langsung saja Dre… aku langsung ke tempat Sindy” Jawab Yoyo sambil berlari meninggalkan aula sekolah dan meninggalkan Andre sendiri.

“Aku harus kesana… aku harus bisa menolong Sindy” Andre pun berlari mengejar Yoyo yang sudah menghilang entah kemana.

Sesampainya di lokasi yang memang tidak terlalu jauh dari sekolah, ternyata suasana rumah Sindy sudah sangat ramai, tidak hanya teman-teman sekolah yang datang, tapi para tetangga dan saudara terdekat pun datang, apa gerangan yang terjadi padanya?.

Dari kejauahan, Aku mendengar seorang ibu setengah baya menangis keras dan sesekali memanggil-manggil nama Sindy. Tanpa berfikir panjang, akupun segera merangsak masuk menembus kerumunan dan berusaha mencari jawaban atas apa yang terjadi padanya.

Kulihat Sindy terbaring lemas tak berdaya sambil di temani seorang Omah dan Tasya yang terus berusaha untuk menyadarkan Sindy dari kondisinya saat itu , suasana begitu kacau dan riuh, sampai-sampai sepatu kotor yang kupakai pun ikut masuk sampai ke kamarnya.

Sindy belum siuman, namun Dokter sudah datang dan sedang memeriksa kondisinya. Setelah suasana berangsur tenang, aku mulai berani mencari tahu dan menanyakan apa yang terjadi padanya. “Tasya… aku mau bicara” sambil menarik tangannya dan bergegas keluar. “Ada apa ini Tasya?? Tolong jelaskan padaku..!” pintaku pada Tasya, “Itu Dre… Sindy mencoba untuk bunuh diri” Ucap Tasya sambil meneteskan air mata. Yaa…Tuhan, apa yang terjadi padanya, hingga ia begitu mudahnya mencoba untuk mengakhiri hidupnya. Jujur aku sendiri kurang begitu dekat dengannya, namun Tasya sering bercerita tentang nya, Tasya cukup dekat dan mungkin satu-satunya orang yang mau mendengarkan keluh kesahnya. Bagi teman sekelasnya, Sindy memang agak aneh dan sering menyendiri, kurang lebih 3 bulan sepeninggalan ibunya, ia mulai menampakan kelakuan yang tidak biasa, menurutku.. seperti orang yang kehilangan harapan hidup, terlebih ketika mengetahui Ayah yang ia banggakan, pergi dan menikah lagi dengan wanita lain.

Awal kami mengenalnya, iya merupakan sosok anak yang penuh sukacita dan religius, demikian pula dengan keluarganya, selain lahir dari keluarga berada dan berstatus sebagai anak tunggal, Sindy punya latar belakang pendidikan yang baik pula, singkatnya apapun yang ia mau.. pasti dipenuhi oleh keluarganya.

Hati dan pikiranku mulai tenang sekarang, tatkala mendengar kondisinya baik-baik saja dan hanya membutuhkan perawatan ringan pada saluran pernafasannya yang terganggu akibat peristiwa tersebut. Rumah Sindy cukup besar dan nyaman, namun dalam kondisi riuh sekalipun, dimana banyak orang datang, bagiku terasa sepi dan dingin, seperti tidak ada kehangatan didalamnya, terlebih ketika melihat sehelai kain selendang yang masih terikat pada balok kayu ventilasi diatas pintu kamarnya, membuatku langsung merinding dan ingin segera berlari meninggalkan tempat ini.

Ingin rasanya segera mengeluarkan seluruh pikiran buruk yang sedari tadi menghantui dan membuatku penasaran, apa yang membuatnya begitu rapuh, begitu mudah hancur, dan begitu mudah mengambil tindakan yang tidak pantas dilakukan oleh orang yang cukup dekat dengan Tuhan, dan tahu akibat yang harus ia pertanggung jawabkan kelak pada sang pencipta.

Rencanaku hari ini untuk mempersiapkan perayaan Valentine pun batal dan kami pulang dengan se gudang permasalahan baru yang bagiku harus ada jalan pemecahannya, ini bukan hanya sekedar tragedi kemanusiaan namun dapat menjadi bom waktu yang setiap saat menghantui kami para generasi millenial ini, hari ini Sindy, besok mungkin Aku, Tasya, Yoyo, dan yang lainnya.. semua memiliki kemungkinan yang sama, karena kami merasa begitu rapuh dan tidak tahan banting, apakah ini akibat pergaulan, kesalahan pola asuh atau pendidikan orang tua yang salah?, sehingga melahirkan generasi yang begitu mudah jatuh dan sulit untuk bangkit kembali.

“Aku harus bangkit… aku harus bisa membawa perubahan bagi generasiku walaupun dalam lingkup yang sempit, aku harus bisa…!!” Sambil berdiri dan menggenggam erat handphone ditangannya, Andre berikrar untuk membuat sesuatu yang berbeda dalam perayaan Valentine mendatang. Belum sempat api semangat itu berkobar dan membakar seluruh isi rumah, tiba-tiba Yoyo menepuk keras pundak Andre yang sekejap itu pula melompat dari tempat tidurnya, “Woooy… kemasukan setan ya?? Senyam-senyum sendiri” tanya Yoyo yang datang tiba-tiba, “Eh… dasar cumi, masuk seenaknya aja… bikin kaget orang” teriak Andre membalas sapaan Yoyo. “Hahaha… Tenang bro, tenang, ada yg bisa aku bantu?, kayanya lagi sibuk mikir nii”. Sambung Yoyo, “Iya Yo, kamu tahu kan, kalau aku sedang buat event besar, dan baru saja Sindy punya masalah, nah… menurutku ada kecocokan antara kasusnya Sindy dengan Valentine” jawab Andre meyakinkan Yoyo anak game online itu.

“Dree…dree… kamu tuh makan apa sih? Koq bisa-bisanya berfikir seperti itu?, aku blm paham maksudnya” dengan bingung Yoyo bertanya balik pada sahabatnya tersebut.

Andre berusaha meyakinkan Yoyo, bahwa kejadian yang menimpa Sindy ada hubungannya dengan apa yang dia alami dalam keluarganya, bayangkan saja.. apakah yang akan kita lakukan jika mengalami suatu perubahan pola asuh yang sedemikian drastis, yang awalnya penuh dengan cinta kemudian dalam sekejap kehilangan segalanya, belum lagi sikap orang-orang di sekeliling yang cenderung memojokan kita ketika melihat ada sikap kita yang dianggap aneh, menyimpang dari kewajaran, padahal itu dilakukan sebagai bentuk pelarian diri untuk lepas dari masalah utamanya, Sikap orang-orang tersebut justru membuatnya semakin terpuruk, dibully, dicemooh, direndahkan dan bahkan dianggap sebagai orang gila. Bagaimana bisa kembali pada kehidupan normal jika situasinya dibuat sedemikian sulitnya, hingga akhirnya mati dianggap sebagai jalan pintas terbaik.

“Paham Yo??” sambung Andre, “Ok.. Aku paham sekarang, lalu… apa hubungan dengan hari Valentine?” sambil menyantap pisang goreng yang telah tersedia di meja, Andre melanjutkan cerita yang intinya adalah, Valentine yang kita kenal sebagai hari kasih sayang tidak menjadikan semua orang paham bahwa kasih sayang itu bukan sekedar diungkapkan melalui ucapan Cinta, hadiah bagi sahabat dan orang yang kita cintai, namun lebih dari semua itu, kasih sayang harus mampu membuat orang lain merasa nyaman, dikasihi, diperhatikan, meskipun tidak jarang ada juga orang yang lebih merasa senang ketika diberi materi ketimbang di perhatian.

Perhatian antara Orang tua dan anak misalnya, seringkali diartikan dalam bentuk fasilitas unlimited, yang penting semua kebutuhan anaknya tercukup, maka orang tua sudah merasa memberikan perhatian dan cinta terhadap anaknya. Anak akan merasakan kebahagiaan sesaat, namun dalam jangka panjang memberikan kehampaan bagi pertumbuhannya, yang akhirnya menjadi sangat rapuh seperti yang Sindy alami. “Paham kamu Yo?… Yoooo?!!,  loh.. kamu koq malah tidur sih? Hadeeeh… dasar cumi !”.

Ehh… koq aku sok tahu banget yaa? Hahaha… biarin deh, karena banyak mendengar dan belajar dari sana sini makanya aku sedikit tahu tentang arti kasih sayang yang sebenarnya, terutama dari Papa dan Mama yang selalu memberiku support dan perhatian, materi memang penting namun masih ada hal yang lebih penting yaitu Cinta kasih, makanya cocok deh dengan moment Valentine yang sedang aku gaungkan ini, “kira-kira enaknya buat apa ya… yang memberikan edukasi buat semua?, emm… Seminar atau talkshow mungkin cocok !!”.

Disaat aku berfikir keras, tiba-tiba ingatanku kembali tertuju pada sahabat kecilku Tasya yang menurutku punya hati yang kuat, banyangkan saja! Ia telah kehilangan kedua orang tuanya sekaligus, namun tetap mampu bangkit berkat kasih sayang yang Neneknya berikan dengan tulus, terlebih ketika aku hadir kembali dalam kehidupannya, pastinya semakin berbunga dan menyenangkan baginya, “Hahahhaaa…. pede banget sih Ndreee”, gumalku dalam hati. “Tasya… I’am coming, you are my Valentine…”.

“Apa Dree… siapa yang coming??” setengah sadar Yoyo berucap spontan, “udah sana tidur lagi sampai tua…!! dasar cumi, dijelasin malah tidur” bentak Andre, sambil mengunci pintu kamar dan membiarkan Yoyo sendiri.

Jadi apa arti Valentine bagi anda?? Kegiatan kasih yang dilakukan setiap saat? atau kebiasaan yang dilaksanakan pada saat-saat tertentu saja?, Valentine sebagai budaya atau tradisi?.

“Dree… buka pintunya dree…please!”.

( Wellyanto )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *