Dia yang Memilih, Dia juga yang Menyelesaikan

Pada 4 Februari 2020 Pastor Paroki kita, RD. Markus Lukas merayakan pesta 30 tahun imamat. Berikut petikan tanya-jawab Redaksi Berita Paroki bersama Romo Markus Lukas.

Kapan tepatnya Romo merayakan 30 tahun imamat?

Ulang tahun imamat ke-30 jatuh pada tgl 4 Februari 2020.

Apa yang mendorong Romo saat itu hingga memutuskan jadi Imam?

Yang mendorong saya untuk menjadi imam ada banyak hal, jadi tidak tunggal. Tetapi  hal-hal itu sebenarnya tidak ada yang sangat jelas. Semua serba samar-samar. Misalnya, sewaktu kelas VI SD saya sudah berniat masuk seminari kecil. Tetapi keinginan itu tidak berlanjut, lenyap begitu saja. Kemudian waktu masih di Mudika, keinginan itu muncul lagi.  Tetapi lagi-lagi keinginan itu hilang.  Lalu waktu sudah bekerja (saya pernah bekerja di BUMD milik Pemda DKI dengan status honda, honorer daerah, ditempatkan di bagian pembelian barang-barang teknik) keinginan masuk seminari muncul kembali. Tetapi seperti yang sudah-sudah, keinginan ini sirna. Saya sudah merasa mantap menjalani hidup yang sekarang ini. Tidak ada keinginan mau masuk seminari, sudah merasa senang tiap malam minggu bisa kumpul dengan teman-teman dan tidur larut malam.  Meskipun demikian kewajiban ikut misa tidak pernah terlewatkan, dan sengaja ikut misa hari Sabtu sore supaya kalau esoknya terlambat bangun tidak ada masalah dengan kewajiban pergi ke gereja.

Saya tetap bekerja seperti biasa. Dari hasil kerja itu saya bisa menabung sedikit-sedikit.  Uang itu akan saya gunakan untuk biaya kuliah.  Karena saya pikir masih muda dan masih semangat untuk belajar. atau kalau tidak kuliah bisa untuk persiapan kawin. Tetapi, entah kesamber setan apa, begitu, demikian istilah saya, tiba-tiba ada dorongan kuat untuk masuk seminari menjadi imam. Di usia menjelang duapuluh lima tahun saya putuskan dengan bulat, saya mau jadi imam. Saya sadar bahwa jalan ini tidak selalu mudah.  Maka uang tabungan akhirnya tidak terpakai sebagaimana maksud  semula.  

Setelah masuk seminari saya baru tahu kalau adik saya yang perempuan juga masuk menjadi calon suster, tetap tidak lanjut. Kemudian adik sepupu yang juga tidak saya ketahui telah lebih dahulu masuk seminari dan kini menjadi imam di Keuskupan Agung Jakarta. Terakhir adik ibu saya yang terkecil juga menjadi biarawati.  Sekarang bertugas di Yogyakarta dan sudah lanjut usia. Ini pun tidak saya ketahui kapan beliau mulai membiara.

Foto bersama Mgr. Ignatius Harsono pada awal tahun 1990
menjelang tahbisan. Lokasi di depan Wisma Keuskupan,
Jl. Ahmad Yani – Bogor.

Jadi apa yang mendorong saya untuk memutuskan jadi imam? Seperti dikatakan di atas, yaitu tidak sangat jelas. Muncul panggilan sudah lama, sejak sekolah dasar, tetapi samar-samar dan timbul-tenggelam. Baru di tahun-tahun berikutnya panggilan menjadi lebih mantap.

 Kapan menerima tahbisan imamat dan  siapa saja teman-teman seangkatan Romo?

Saya beserta teman-teman seangkatan menerima tahbisan imam dari tangan Mgr Ign Harsono pada tanggal 4 Februari 1990 di Paroki St Paulus Depok berjumlah lima orang, yaitu: 1) Rm YM Ridwan Amo, 2) Rm Christoforus Oferus Lamen Sani,3) Agustinus Surianto, 4) Rm Agustinus Suyatno, 5) Rm Markus Lukas,  dan ditambah satu frater yang berasal dari kakak kelas, yaitu Rm Yohanes Hardono. Dengan demikian yang ditahbiskan bersama-sama ada enam orang. Dari lima orang teman seangkatan, satu orang, Rm A. Suyatno telah dipanggil Tuhan pada tanggal 6 Januari 2020. Jadi sekarang ada empat orang.

Dalam  perayaan 30 tahun Pesta Imamat ini, Romo dan teman-teman akan mengadakan acara apa dan dimana ?

Sebagai tanda syukur atas peringatan tahbisan tahun ke-30 saya  dan teman seangkatan akan mengadakan pertemuan untuk merefleksikan perjalanan hidup panggilan imamat kami. Refleksi dilaksanakan dengan doa, sharing, bertukar pengalaman dalam berpastoral. Untuk keperluan ini kami menyediakan waktu dua harian. Pertemuan tahunan ini sebenarnya sudah kami jalani sejak masih frater di tingkat awal, yaitu tahun 1982. Hingga sekarang pertemuan tersebut belum pernah terputus.

Perjalanan 30 Tahun Imamat adalah waktu yang cukup panjang, bagaimana Romo memaknai ini?

Rentang waktu 30 tahun tampaknya waktu yang panjang.  Tetapi bagi saya yang menjalaninya, waktu 30 tahun ternyata tidaklah lama. Saya menjalankan tugas-tugas pelayanan dengan ringan dan gembira.Tidak ada beban yang terlampau berat.  Justru apa yang saya hadapi malah ada yang membuat saya tertawa terbahak-bahak. Contohnya peristiwa berikut ini: setelah tahbisan saya ditugaskan di suatu paroki kecil bersama seorang rekan romo yang lebih senior.  Suatu hari kami kedatangan tamu suami istri. Rupanya mereka sedang dalam kesulitan berat. Benar juga. Mereka berceritera bahwa dalam perjalanan sang istri melahirkan. Dan itu terjadi di dalam kereta api yang sedang berjalan.  Bayi yang dilahirkan tidak tertolong, meninggal. Mereka tampak sedih dan merana.  Rekan Romo saya memberi bantuan apa-apa yang diperlukan secukupnya.

Beberapa tahun kemudian saya dimutasi ke paroki yang berjarak kira-kira 60 km dari paroki asal. Suatu hari datanglah tamu suami-istri mau bertemu Romo. Saya yang menerima.  Saya masih ingat betul rupa-rupanya tamu ini sama dengan orang yang melahirkan anak di kereta dan anaknya meninggal. Mereka tidak mengenali saya dan mungkin juga tidak tahu bahwa para Romo itu sering berpindah tugas dari paroki A ke paroki B.  Kali ini mereka datang minta bantuan karena sedang sakit. Sakitnya adalah Sang suami terkena  kusta. Tangan kirinya ditunjukkan ke saya dan saya lihat jari tangan kiri tidak utuh, hanya ibu jari dan kelingking.  Jari-jari yang lain sudah putus,buntung.

Dua tahun kemudian saya mutasi lagi ke paroki lain yang berjarak hampir  200 km dari paroki yang lama. Lagi-lagi orang yang sama datang dan saya lah yang menemui mereka. Rupanya mereka sudah mengenali saya, sehingga tampak mereka sangat terkejut.  Saya pun kaget melihat jari-jari yang dulu putus, buntung, kini jarinya utuh sempurna tidak ada bekas-bekas luka.  Ternyata mereka penipu. Pekerjaannya minta-minta dari pastoran yang satu ke pastoran lain. 

Menurut saya itulah hidup, yang penuh warna. Bahwa ada hal-hal yang sedikit sulit, konyol, memang betul. Namun kesulitan itu tidak sampai melemahkan panggilan saya dan saya kategorikan kesulitan itu tidak berat. Hal ini saya maknai sebagai tanda penyertaan Tuhan atas hidup saya.  Saya percaya bahwa Dia yang memilih saya, Dia pula yang akan menyelesaikannya.

Sudah 6 tahun ini Romo ditugaskan di Paroki Sukasari, menurut Romo apa yang menarik di Paroki Sukasari ?

Partisipasi umat dalam berbagai kegiatan di paroki ini cukup baik. Kegiatan tersebut adalah kegiatan sekitar peribadatan dan kegiatan di luar peribadatan. Ada beberapa yang menarik perhatian saya dari paroki SFA ini, yaitu  sifat kedermawanan umat yang tinggi. Untuk menghimpun sejumlah dana guna membantu suatu pembangunan gedung gereja, misalnya, tidaklah sulit. Umat dengan rela menyumbangkan dananya.

Hal lain lagi yang cukup menarik, yaitu soal penerimaan Sakramen Tobat. Umat yang menerima Sakramen Tobat cukup tinggi. Dan di antara mereka –di luar siswa sekolah-banyak kaum muda. Saya tertarik soal ini karena banyak orang yang mengatakan bahwa sekarang orang malas menerima Sakramen Tobat. Di masa Adven bulan Desember 2019 yang lalu yang menerima sakramen ini berjumlah 268 orang. Mereka terdiri dari laki-laki berjumlah 121 dan perempuan 147 orang. Ini adalah penerimaan Sakramen Tobat dari satu imam. Kita bisa memperkirakan berapa persen umat yang menerima sakramen ini dari tiga imam yang ada di paroki ini dan waktunya adalah sepanjang tahun, tidak hanya masa Adven. Saya kira prosentasenya tidak mengecewakan.

Oleh karena  partisipasi umat dalam berbagai kegiatan di paroki ini  cukup baik, maka pastor tidak kuatir akan kekurangan tenaga-tenaga pelayan. Namun di pihak lain ada yang harus diperhatikan lebih, yaitu soal regenerasi anggota di beberapa kelompok pelayanan. Contoh anggota Pro-diakon yang banyak sudah berusia lanjut. Kemudian Legio Maria yang jumlah anggota aktifnya tidak lebih dari 15 orang.  Selain itu anggota Legio juga  banyak yang sudah berusia lanjut.

Bagaimana menurut Romo Markus dengan Paroki Sukasari apa yang  perlu dikembangkan lagi ke depan ?

Untuk ke depannya selain regenerasi, yang harus diperhatikan adalah pastoral keluarga dan pastoral untuk orang muda. Dua bidang ini termasuk program prioritas di paroki kita. Untuk diketahui saja, tahun 2019 di paroki kita ada perkawinan 52 pasang. Enam di antaranya adalah perkawinan beda agama (empat Budha dan dua Islam).

Kemudian hal lain yang perlu dikembangkan adalah mengajak umat ikut-serta secara penuh dalam kehidupan berparoki. Umat diajak semakin menyadari peranannya sebagai anggota Gereja. Umat tidak lagi hanya menggantungkan diri ke orang lain atau kelompok lain; melainkan tahu dan sadar bahwa setiap anggota Gereja bertanggungjawab atas pertumbuhan Gerejanya. Umat didorong juga untuk tertib administrasi. Misalnya, memiliki Kartu Keluarga Katolik, dan menyimpan dengan baik dokumen-dokumen  sebagai warga gereja Katolik, dan sebagainya.  Pernak-pernik ini kiranya penting walaupun tidak ada kaitannya dengan iman.

Tentu bidang-bidang lainnya selain dua bidang tersebut, juga perlu mendapat perhatian yang sama. Tujuannya agar umat semakin menyadari peranannya sebagai anggota Gereja. Umat tidak lagi hanya menggantungkan diri ke orang lain atau kelompok lain; melainkan tahu dan sadar bahwa setiap anggota Gereja bertanggungjawab atas pertumbuhan Gerejanya.

Jumlah anak-anak yang meminta berkat cukup banyak ini merupakan aset atau generasi umat kita di masa depan, ini perlu dibina terus agar tetap menjadi aset paroki di masa depan. Apa yang diharapkan Romo kepada pembinaan  iman anak.

Pastoral orang muda di dalamnya termasuk anak-anak. Jumlah anak di paroki kita ada banyak. Hal itu bisa dilihat ketika misa natal khusus anak dan anak yang minta berkat pada misa hari minggu. Paroki sangat menaruh perhatian pada anak-anak ini.  Mulai tahun 2020 ini paroki mengadakan pembinaan khusus untuk anak usia remaja (BIR). BIR ini melengkapi pembinaan untuk orang muda yang selama ini sudah ada. 

( A.Sudarmanto )

IDENTITAS

Nama Lengkap           : Markus Lukas

Tempat tanggal lahir   : Lampung Selatan, 23-10-1955

Tahbisan Diakonat      : Bogor, Katedral BMV, 6-8-1989

Tahbisan Presbyterat  : Depok, St Paulus, 4-2-1990

Anak ketiga dari enam bersaudara.

PENDIDIKAN

Pendidikan Dasar sampai menengah di

Sekolah St Joseph, Jakarta Pusat       

Sekolah St Fransisikus, Jakarta Pusat dan

Sekolah St Fransisikus , Kp Ambon, Jakarta Timur.

Seminari Menengah Stella Maris tahun 1980/82

Seminari Tinggi Petrus & Paulus 1983/1989

PELAYANAN

  1. Sebelum masuk seminari bekerja di Perusahaan Daerah “Tastra Jaya”, DKI Jakarta
  2. Setelah tahbisan:
    1. Pastor rekan & Perwakilan Yayasan Mardi Yuana, Rangkasbitung
    2. Pastor Rekan & Ketua Perwakilan Yayasan Mardi Yuana, Serang-Cilegon
    3. Ketua Yayasan Mardi Yuana Pusat, Sukabumi
    4. Mengurus harta benda Gereja
    5. Anggota Dewan Pengawas Inti Dana Pensiun KWI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *