Kesetian Bunda Maria Mengikuti Yesus

Iman adalah sebuah pijakan manusia membangun relasi dengan Allah. Relasi ini semakin erat ketika manusia selalu membangunnya secara intens, yakni dengan doa yang diwujudkan pula dalam tindakan nyata. Pola ini ini sering menjadi orientasi manusia membangun sebuah iman, tepatnya dua sisi ini sering kita sebut “Fides Quae Creditur” dan “Fides Qua Creditur”. Sepintas makna itu sama, yakni persoalan membangun sebuah iman. Namun ketika kita telusuri mempunyai konsekwensi yang setidaknya luar biasa kaya akan makna ketika  manusia membangun sebuah iman.

Pertama adalah “Fides Quae Creditur”. Kalimat ini dipahami  sebagai sebuah bentuk keyakinan iman yang dipercaya. Manusia yakin akan kebesaran Allah, yang kepadanya manusia bersandar. Kesadaran manusia bersandar pada Allah itu didasarkan pada keyakinan bahwa Allah adalah segalanya yang mempunyai aneka atribut melebihi apa yang yang bisa dijangkau oleh manusia. Deus Omnipotens Est, demikian gambaran singkat untuk Allah yang tidak terjngkau dengan segala aspek difinisi kehidupan, namun manusia menyadari dan mengakui itu sebagai sebuah sandaran yang benar. Dari aspek ini, manusia ingin mengapai dengan merumuskan bagaimana sang Omnipotens itu terjangkau sehingga manusia setidaknya dapat membangun relasi. Omnipotens mempunyai sifat transenden sekaligus imanen itu dijabarkan dalam pola kehidupan manusia beragama, tentu itu berbasis pada iman. Untaian keyakinan menjadi kesepakatan yang membentuk sebuah komunitas dengan asusmsi mereka mempunyai konsep yang setidikanya sama untuk diyakini.

Keyakinan akan Allah itu dijabarkan dalam diri manusia dengan aneka keyakinan tertuaang dalam bentuk doa-doa. Doa-doa resmi, seperti Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan dan aneka doa gerejani adalah wujud dari sebuah keyanian, yang dalam konteks ini bisa disebut Fides quae creditur. Sebagai orang katolik, doa-doa itu tentu menjadi keyakian yang tidak bisa terpisahkan. Doa gereja ini bisa jadi dibaca orang lain yang tidak menyakini, maka itu tidak akan menjadi sebuah keyakinan. Demikian juga setiap agama mempunyai keyakinan masing-masing kala merumuskan Allah yang Omnipotens itu.

Kedua adalah “Fides Qua Creditur”. Iman itu bukan berhenti pada sisi keyakinan belaka, namun iman itu senantiasa harus tampak dalam kehidupan nyata. Ibarat manusia itu sehat bisa dilihat setidaknya dari penampilan sehari-hari. Artinya iman tidak terhenti pada sisi hafalan akan rumusan keyakinan, namun iman harus sampai pada wujud nyata dalam kehidupan. Surat Yokubus menegaskan 2:20 Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?Ini adalah gambaran bahwa mengimani bukan sekedar sebuah hafalan dan pemahaman pada tataran akal budi, melainkan mewujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi singkatnya bahwa kehidupan iman yang diyakini tidak terhenti pada sisi pemahaman saja namun mesti diwujudkan.

Pola ini ini telah ditampilkan dalam diri Maria, Bunda Gereja, yang juga model umat beriman. Kesedian Maria menerima tugas melalui malaikat Gabriel telah ditampilkan dalam injil Lukas secara gamblang. Pembicaran antara Malaikat dan Maria ini adalah sebuah proses iman hingga pada sebuah titik puncak yang kita sebut keyakinan. “1:38 Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. Keraguan Maria pun tidak lepas muncul ketika mendapat tugas ini. Kegundahan itu tergambar dalam percakapan dengan Malaikat, “Bagaimana hal itu terjadi….”. Ini sebuah tampilan kemanusiaan yang kerap kali muncul ketika mau membangun sebuah keyakinan. Keraguan itu bukan berarti menolak, namun bisa lagi memperteguh akan keyakinan yang sudah ada. Ibarat manusia mencari penegasan dari orang lain terhadap kebenaran apa yang akan diyakini. Maria telah menegaskan keyakinan itu hingga pada sisi menerima. Inilah konsep “Fides Quae Creditur”.

Perjalanan keyakinan Maria itu tidak serta merta berhenti pada persetujuan menjalankan tugas, melainkan Maria menampilkan cara meyakini itu seperti apa. Perjalanan Maria sejak melahirkan, membesarkan, dan akhirnya menerima Yesus dalam pangkuannya setelah disalibkan adalah wujud penghayatan iman. Keyakinan yang dibentuk itu tidak menyurutkan Maria terus berjalan, sekalipun Simeon telah mengingakannya. Lukas 2:35 — dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri –, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang. Pandangan Simeon itu tidak menyurutkan Maria meneruskan jalan hidupnya terhadap apa yang diyakini kala berdialog dengan Malaikat itu. Semua itu menjadi bagian bahwa beriman itu bukan sekadar dalam jalan rata, namun mesti juga melewati jalan terjal. Perjalanan Maria hingga di bawah kayu salib  adalah wujud dari perjalankan iman dalam kehidupan sehari-hari. Itulah FIDES QUA CREDITUR.

Pola beriman Maria ini adalah model bagi umat beriman membangun sebuah iman. Beriman tidak berhenti pada hafalan yang diharuskan sebagai syarat babtis saja, namun beriman harus diwujudkan dalam karya nyata. Pelayanan itu adalah sebuah wujud dari iman yang tidak terbantahkan, syaratnya dijalani dengan hati tulus. Maria dalam konteks ini telah memberikan contoh secara gamblang bagaimana beriman yang baik, benar, dan tulus. Kesemuanya itu adalah wujud dari kesadaran dan konsekwensi akan keyakinan yang tertanam dalam hidup kita. Maria pun juga tidak lepas dari badai yang mengancam hidupnya, namun kesetiaan akan iman yang telah dibangun itu membawa pada karya keselamatan. Demikian model ini harus menjadi pola hidup beriman jaman sekarang sehingga iman itu tidak mati tetapi berkembang sampai akhir jaman. Maria adalah teladannya.

( RD. Nikasius Jatmiko )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *