Artikel

Retret Kuria Roma – hari 2-3 (2-3 Maret 2020)

RETRET KURIA ROMA – HARI 2-3 (2-3 Maret 2020) : PANGGILAN ALLAH DATANG SEBAGAI SEBUAH KEJUTAN

Dalam lanjutan retret tahunan Kuria Roma di Rumah Sang Guru Ilahi, Ariccia, Pastor Pietro Bovati, SJ, kepala retret tahunan Kuria Roma dan sekretaris Komisi Kitab Suci Kepausan merenungkan bagaimana Allah memanggil Musa untuk memimpin umat-Nya, dan memperingatkan terhadap godaan untuk menentang kehendak Allah. Tema panggilan dan perlawanan kita terhadap rahmat Allah menjadi pusatnya.

Hari 2 (Senin, 2 Maret 2020 – sesi 2) : Panggilan sebagai titik balik

Dalam renungannya Senin sore tersebut, Pastor Pietro Bovati, SJ mengatakan kepada para anggota Kuria Roma bahwa Tuhan memanggil kita masing-masing secara terpisah. Panggilan, kata Pastor Bovati, “adalah perjumpaan yang menentukan yang di dalamnya Allah berbicara kepada kita”. Oleh karena itu panggilan menandai titik balik dalam kehidupan kita. Kita hendaknya sering kembali ke saat “kelahiran kembali” itu untuk mengingat suara Tuhan.

Pastor Bovati memusatkan renungannya pada bacaan dari Kel 3:1-12; Mat 16:13-23; dan Mzm 63. “Tuhan senantiasa bekerja untuk menuntun orang menuju penemuan dimensi kehidupan yang lebih tinggi, pemberian diri yang semakin bermanfaat dan pelayanan kepada saudara-saudari kita”, kata Pastor Bovati. “Tuhan memanggil di tengah hiruk pikuk kehidupan, bahkan di saat-saat keletihan. Inilah kondisi untuk bercita-cita – bahkan secara tidak sadar – menuju kenyataan yang lebih tinggi : yang hanya Allah yang mampu mengungkapkan dan menggenapinya”.

Beralih ke perjumpaan dengan semak duri yang menyala, Pastor Bovati mengatakan bahwa Musa bahkan tidak sadar bahwa ia sedang mendekati tempat suci. Ketidaktahuannya tentang apa yang akan terjadi, kata Pastor Bovati, sangat penting untuk memahami dimensi kenabian panggilan. “Panggilan selalu merupakan pewahyuan Allah, tidak pernah kesadaran diri yang jernih atau ketetapan diri sendiri”.

Ketika Allah memanggil namanya, Musa dapat memberikan tanggapan pribadinya, dengan mengatakan “Inilah aku” dan membuka diri untuk “sebuah perjalanan kesadaran dan kepatuhan”.

Hari 3 (Selasa, 3 Maret 2020 – sesi 1) : Menolak rahmat Allah

Pada hari Selasa pagi, 3 Maret 2020, Pastor Bovati berfokus pada cara kita menghalangi curahan rahmat Allah dengan merenungkan bacaan dari Kel 5:1-23; Mat 13:1-23; dan Mzm 78.

Pastor Bovati memberikan contoh Firaun, yang menolak panggilan Allah melalui Musa untuk membebaskan orang Israel dari perbudakan. Beliau mengatakan bahwa pertanyaan Firaun – “Siapakah Tuhan?” – adalah “penjelmaan kekuasaan sebagai kekuatan untuk menghancurkan segenap perlawanan”. Tetapi Allah Israel, kata Pastor Bovati, mengedepankan “perubahan radikal dalam sudut pandang ketika Ia mengutamakan hak orang asing, orang yang tertindas, dan orang yang dieksploitasi”.

Pastor Bovati mengatakan bahwa menentang kehendak Allah untuk mengutamakan kekuasaan adalah suatu bentuk “menghalangi rahmat dan menentang Roh”. Di zaman kita yang modern, suatu bentuk kesombongan mendorong kita untuk menolak untuk mematuhi Allah dan para nabi-Nya, kata Pastor Bovati. “Bahkan tanpa perangkap kekayaan, budaya, atau kekuatan paksaan, kesombongan mengambil bentuk kebanggaan pribadi, hanya atas nama hak ketetapan diri, pilihan pribadi, dan kehendak bebas pribadi”.

( Peter Suriadi – Bogor, 4 Maret 2020 )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *