Seputar Paroki

Penuh Sukacita dan Semarak

SEMARAK Sinode 2019 Keuskupan Bogor kian merebak di Paroki St. Fransiskus Asisi–Sukasari. Minggu (17/3/2019), Paroki Sukasari menjadi penyelenggara ke-5 untuk sinode Orang Muda Katolik (OMK) tingkat paroki. Sekitar 130 kaum muda memadati Aula St. Mikael untuk saling berbagi pengalaman iman dan aspirasi bagi pastoral kaum muda Keuskupan Bogor.

Acara dibuka dengan doa dan sambutan dari Pastor Paroki St. Fransiskus Asisi–Sukasari RD. Markus Lukas. Dalam sambutannya, Romo Markus mengajak para OMK untuk semakin terlibat dalam kehidupan menggereja dan di masyarakat. Ia mengimbau agar OMK ikut menggunakan hak pilihnya di pemilu mendatang untuk memilih pemimpin-pemimpin terbaik bagi negara kita.

“Jika Gereja dianalogikan sebagai sebuah lingkaran, Anda ini berada di dalamnya. Anda semua terlibat di dalam Gereja, bukan hanya sebagai penonton. Sinode ini pun salah satu cara bagi kaum muda untuk mengembangkan Gereja,” ujar Romo Markus.

Senada dengan pesan dari Romo Markus, Ronald Kurniawan selaku Seksi Kepemudaan Paroki (SKP) Sukasari pun mengajak semua OMK untuk terlibat aktif tanpa melihat ‘baju’ masing-masing. Seluruh kaum muda yang tergabung dalam misdinar, lektor, pendamping BIA, maupun OMK wilayah, semuanya merupakan anggota dari OMK paroki.

OMK: Gereja masa kini dan misionaris Kristus

Perhelatan sinode tingkat paroki melibatkan kolaborasi antara tim pelaksana paroki dan tim keuskupan. Tim pelaksana paroki menyiapkan sarana dan prasarana untuk mendukung kegiatan, sementara tim keuskupan menjadi pengawas dan fasilitator di hari pelaksanaan kegiatan.

Dalam Sinode OMK di Paroki Sukasari, RD Habel Jadera Bersama tim fasilitator OMK yang terdiri dari RD Jeremias Uskono, RD Dion Manopo, Agatha Lydia, Regina Dori, Fransiska Cecilia, dan Mentari, hadir membawakan materi pengantar dan menjadi pemandu dalam sesi sharing.

Sebelum memasuki sesi sharing, Romo Habel yang juga merupakan anggota tim pengarah (steering committee/SC) Sinode 2019 menjelaskan tentang makna sinode dan mengapa OMK menjadi bagian penting dari Gereja. Ia juga mengapresiasi OMK Sukasari yang selalu penuh semangat dan kreativitas, serta mengimbau mereka untuk berani menjadi pewarta Kabar Sukacita seperti Bunda Maria.

“Sejak 4-5 tahun lalu saat saya bertugas di Komisi Kepemudaan, OMK Sukasari selalu saya jadikan contoh untuk OMK paroki-paroki lain. Maka untuk seterusnya, saya berharap OMK Sukasari juga akan semakin berani keluar, menyadari diri bahwa kalian bukan hanya Gereja masa depan, tapi juga Gereja masa kini. Kalian semua adalah misionaris Kristus,” ujar Romo Habel.

Sesuai panduan dari tim pengarah keuskupan, pelaksanaan sinode di tiap paroki terdiri dari empat kegiatan utama: 1) pembukaan; terdiri dari doa, sambutan, dan pemutaran lagu tema Sinode 2019 “Walking Together”, 2) penjelasan pengantar Sinode dan sub-tema bahasan, 3) sesi sharing, dan 4) Perayaan Ekaristi. Dalam sesi sharing, tim fasilitator mengajak para OMK paroki untuk saling bertukar pengalaman dan pikiran mengenai 6 sub-tema seputar kehidupan OMK:

  • Identitas OMK,
  • Kegiatan OMK di Paroki,
  • Keluarga & Lingkungan Sosial,
  • Teknologi,
  • Lingkungan Hidup & Sosial Masyarakat, dan
  • Kritik & saran bagi pastoral OMK di Keuskupan Bogor.

Satu per satu, para kaum muda menceritakan pengalaman mengenai sukacita dan berbagai tantangan yang mereka hadapi sebagai OMK. Sesi sharing juga dimeriahkan oleh aneka nyanyian dan games yang dipandu oleh Pilipus dan Nini, serta musik akustik yang dibawakan oleh grup band OMK Sukasari, Tum Band.

“Semoga ke depannya, kegiatan-kegiatan OMK dapat semakin merangkul semua OMK dari wilayah dan kategori apapun. Kita semua adalah OMK, jangan sampai terpisah-pisah,” tutur Stanley, OMK dari Wilayah Bondongan yang juga aktif melayani sebagai misdinar, menutup sesi sharing dalam Sinode OMK Paroki Sukasari.

Sinode sebagai upaya transformasi

Sinode hari itu diakhiri dengan Perayaan Ekaristi pada pukul 17.00 yang dipersembahkan oleh Romo Markus, Romo Garbito, dan Romo Habel. Dalam homilinya, Romo Habel mengupas mengenai makna transfigurasi Kristus sebagaimana dikisahkan dalam bacaan Injil hari Minggu itu. Menurut Romo Habel, cahaya kemuliaan yang tampak dari wajah Yesus pada peristiwa itu mengajarkan kita mengenai harapan akan kebangkitan.

Sebagai umat beriman, kita harus memiliki harapan untuk bertransformasi; berubah menjadi lebih baik. Harapan yang berakar pada kebangkitan Kristus tersebut membawa kita pada kesadaran untuk bertobat dan berubah, dan akhirnya memampukan kita untuk berani mengikuti Kristus dengan tuntunan Roh Kudus.

“Transformasi diri ini perlu kita usahakan sepanjang hidup kita. Tanpa transformasi, kita seperti sudah ‘mati’. Orang muda yang mengikuti sinode hari ini juga mengupayakan transformasi tersebut. Dengan berjalan bersama, mereka berusaha untuk membuat pastoral OMK menjadi lebih baik lagi,” ujar Romo Habel.

Setelah Serang, Herkulanus, Semplak, Rangkasbitung, dan Sukasari, paroki selanjutnya yang akan menyelenggarakan sinode adalah Paroki St. Paulus Depok pada 23-24 Maret, bersamaan dengan sinode umum di Paroki Sukasari pada tanggal 24 Maret. Sinode tingkat paroki masih akan terus berlanjut di paroki-paroki lainnya hingga Juli 2019, dan akan diteruskan dengan sinode tingkat dekanat dan keuskupan pada Agustus hingga Desember 2019.

Untuk mempersiapkan diri dan mengetahui berita-berita terkini tentang pelaksanaan Sinode, Anda dapat mengakses informasi dan materi terkait pada laman web resmi Sinode 2019: https://keuskupanbogor.org/sinode-2019

Mari berpartisipasi dan berikan dukungan terus-menerus bagi pelaksanaan Sinode 2019 Keuskupan Bogor melalui doa kita. 

(Mentari)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *