Pertemuan Sinode II Keuskupan Bogor

Dalam rangka menyambut Sinode ke II (dua) Tahun 2019 Keuskupan Suffragan Bogor, yang berlangsung  selama 1 (satu) tahun.  Rangkaian kegiatan diawali dengan pertemuan-pertemuan di setiap Paroki selama Maret – Juli  di 21 (dua puluh satu)  Paroki yang ada. Lalu dilanjutkan pertemuan di dekanat-dekanat pada Agustus – Oktober 2019 dan diakhir pertemuan tingkat Keuskupan pada November – Desember.  

Pada Minggu (24/3)  giliran Paroki St. Fransiskus Asisi, Sukasari, Bogor – Selatan mengadakan pertemuan Sinode. Pertemuan diikuti PastorParoki, Dewan Paroki dan Perwakilan Umat dari wilayah dan kategorial. Pertemuan di fasilitasi oleh  Bruder Advetus Syamsyulois Nakang Parera sebagai Fasilitator. Dalam paparannya   Bruder Sam menjelaskan  makna Sinode 2019 yang merupakan perjumpaan bagi seluruh umat beriman di Keuskupan Bogor karena besar Kasih Allah dalam perjalanan pastoral Keuskupan Bogor    

Setidaknya ada 5 point yang menjadi perhatian yaitu : tentang transformasi Gereja,  keluarga, pendidikan, orang muda, kelestarian alam dan kehidupan sosial masyarakat. Umat sangat berantusias dalam mengikuti pertemuan sinode tersebut,  banyak sharing yang dilontarkan. Diantaranya dalam pendidikan sulitnya mendidik kaum milineal karena guru tidak dipersiapkan untuk itu. Lalu tidak adanya tempat atau sulitnya menyekolahkan anak berkebutuhan khusus di sekolah katolik Keuskupan Bogor. Sehingga harus menyekolahkan anak di sekolah yang non-katolik, padahal dalam Peraturan Menteri No. 70 tahun 2009 sudah diatur untuk dapat menyekolahkan anak berkebutuhan khusus yang didampingi oleh salah satu guru pendamping. Karena keberlangsungan Sekolah Katolik menjadi tanggung jawab umat maka hendaknya umat dapat menyekolahkan anak-anaknya di Sekolah Katolik dengan biaya yang terjangkau.  

Kemudian dalam keluarga saat dirasa  sulitnya mencari panggilan untuk calon imam, biarawan/biarawati karena jumlah anak yang sedikit dan dorongan dari orang tua. Kehidupan keluarga kudus menjadi perhatian Gereja. Tentang kelestarian alam dan kehidupan sosial masyarakat juga menjadi pembahasan yang tak kalah menarik.  Dimana akhir-akhir ini di pertemuan-pertemuan lingkup Gereja sudah tidak diperkenankan lagi menggunakan air mineral kemasan dengan gelas dan botol plastik.  Demikian juga dalam kehidupan sosial masyakarat umat diharapkan mempunyai peranan dalam kehidupan sosial masyarakatnya menjadi pribadi yang inkulusif (terbuka) di tempat tinggalnya.  RD. Markus Lukas selaku Pastor Paroki dalam sambutannya meneruskan apa yang dipesankan oleh Bapak Uskup Bogor Mgr. Paskalis agar umat untuk tanggal 17 April nanti datang ke TPS untuk ikut serta dalam Pemilu, jangan Golput.  

(A. Sudarmanto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *