Meneladan Pilihan Hidup Para Imam

Seperti biasa, setiap pagi aku harus bangun dan mengurus segala kebutuhan pribadi ku sendiri, kecuali sarapan dan pakaian yang masih dikerjakan oleh Mama, bukan karena aku tidak bisa mengerjakan sendiri loh… tapi Mama memang ingin melakukannya, alasannya cukup sederhana, karena ini merupakan panggilan hidup sebagai orang tua, dengan kata lain Mama memiliki tanggung jawab untuk mengurus segala keperluan keluarga sebagaimana pilihan yang telah Mama tentukan dalam hidupnya. Manusia memang diciptakan Tuhan dengan segala kelebihan dan juga keterbatasannya, sama seperti mahluk ciptaan-Nya yang lain, namun satu hal yang membuat nya berbeda, manusia memiliki kehendak bebas, Tuhan telah menentukan segalanya bagi kehidupan kita, namun manusia juga memiliki hak untuk memilih. Wow… pantas saja yaa, dunia jadi seperti ini, ada orang baik, ada juga orang jahat, semua tergantung kita, mau memilih jadi seperti apa.

Hari sudah mulai terang dan aku pun harus segera berangkat, apalagi sudah dua hari ini aku selalu mengantar adikku lebih dahulu, karena Mama memang sedang ada kerjaan yang harus diselesaikan pada pagi hari, Puji Tuhan pesanan Katring Mama sedang ramai akhir-akhir ini. “Dree… jangan lupa belikan bekal untuk adikmu yaa”, sahut Mama sambil mengantar kami keluar dari halaman rumah. Aku bergegas berangkat dan syukurlah jalanan masih tampak lengang, mungkin karena perubahan jadwal aktifitas orang memasuki libur panjang sekolah yaa.. jadi tidak perlu tergesa-gesa untuk sampai tepat waktu. Ohh…ya, Helen adikku yang manis ini kini sudah duduk di bangku sekolah dasar dan sekolahnya pun berdekatan dengan ku, masih satu yayasan… jadi setiap saat aku bisa melihatnya belajar dan  bermain. Sesampainya di sekolah, kami pun segera menuju lantai dua dimana kelas adikku berada, dan segera ku tinggalkan ia yang dengan cepat berbaur dengan teman-teman sekelasnya. “Yaaa… ampun, hampir saja aku lupa”, aku belum membelikan bekal, kasihan sekali adikku kalau sampai tidak bisa makan siang akibat kelalaianku.

“Done…selesai sudah tugasku mengantar adik, sekarang giliran tugasku belajar dengan giat” gumalku dalam hati.

Jadwal kami pagi ini dimulai dengan pelajaran Agama, Bu Mariska merupakan salah satu guru Agama Katolik di sekolah kami, aku sangat suka dengan caranya mengajar yang penuh dengan pesan-pesan moral dan mampu menjelaskan kitab suci dengan cara yang mudah dipahami anak-anak milenial seperti kami. “Siapa diantara kalian yang bercita-cita ingin menjadi Imam?” tanya beliau pada kami yang dengan seketika membisu tanpa satu orangpun yang berani mengeluarkan pendapatnya. “Sekali lagi ibu tanya, apakah ada diantara kalian yang berniat menjadi Romo atau Suster atau mungkin menjadi biarawan biarawati?” Bu Mariska kembali mengulang pertanyaan nya. Tiba-tiba dibelakangku terdengar gerakan orang sedang berusaha berdiri, dan benar saja, Rudi sahabatku memberanikan diri untuk berpendapat, “Saya bu… saya ingin menjadi Romo”. serentak semua mata menatap kearahnya, ia terlihat begitu mantab dengan pilihannya. “Rudi, apa alasan kamu ingin menjadi Romo?” tanya Bu Mariska kembali, “Sejak kecil saya sangat aktif di sekolah minggu, dan kini telah menjadi putra altar, lagipula siapa yang mau denganku yang buruk rupa ini”. Jawaban Rudi sambil tersipu malu, hal ini terkesan sederhana baginya, namun bagiku terdapat point yang sangat mengganggu pikiranku, mengapa ia harus berkata seperti itu. Apakah menjadi seorang Imam merupakan bentuk pilihan hidup, atau pelarian diri?. Bu Mariska kemudian melanjutkan pelajaran hari ini dengan menyisakan satu tanda tanya besar dibenak ku.

Rudi seorang anak yang dilahirkan dari keluarga broken home, saat ini ia hidup bersama papanya yang bekerja di luar kota dan sesekali menemuinya ketika ada kesempatan, ibunya sudah lama pergi entah kemana, jadi… kini ia lebih banyak menghabiskan waktu bersama Nenek dan Kakeknya yang memang mengurusnya sedari kecil. Dalam pergaulan sehari-hari ia terlihat biasa saja, walau disela-sela kegiatannya sesekali ia terlihat menyendiri dan seperti ada kekecewaan yang ia pendam. Aku sering kali bertukar fikiran dengannya, terutama untuk masalah keyakinan, Theologi dan pemahamannya mengenai Kitab Suci, wow… luar biasa, ia memang sangat menguasai bidang tersebut, dan pantas saja jika ia memiliki cita-cita untuk menjadi seorang Imam.  “Rud… tadi saat pelajaran agama, aku dengar salah satu alasanmu ingin menjadi Romo, karena kau merasa tidak menarik, mengapa begitu”?  “Heheheee… itu alasan klasik koq Dree, bukankah dengan menjadi imam, kita tidak boleh menikah?, klo begitu, artinya aku tak usah bersusah payah mencari pasangan bukan?, aku tak seberuntung kamu Dree… tampan, menarik, banyak wanita yang suka padamu, lagipula dengan hidup sendiri aku terbebas dari kemungkinan gagal dalam membina keluarga.” Jawab Rudi dengan santainya, namun itu membuatku bertambah kaget. “Oh… My God, mengapa kamu berkata begitu Rud, bukankah semua yang kita miliki ini merupakan anugrah Tuhan dan kita tidak pernah tahu akan rencana-Nya, jadi jangalah kau sesali, meskipun tidak sesuai dengan harapan kita”. Sebenarnya masih banyak yang ingin aku ungkapkan, sayangnya percakapan kami harus berhenti sampai sini, karena kami harus melanjutkan pelajaran berikutnya.

Sepulang sekolah aku beristirahat sejenak, berbaring di sofa sambil meneguk es teh manis kesukaanku. Mama masih saja sibuk dengan urusan dapurnya, dan adikku seperti biasa sedang terlelap dalam tidur siangnya, Papa hari ini pulang agak malam, karena ada tamu penting di kantornya, jadi kami bertiga akan makan malam tanpa Papa. Sambil mengisi waktu, aku melihat-lihat chat dan sosmed yang ternyata sudah menumpuk banyak sekali, hari ini aku benar-benar tidak sempat melihat HP dan baru saat ini ku buka, “Heeemmm… ramai sekali medsos ini, ada kabar apa ya??” ternyata semua nya kompak membicarakan hal yang sama, “Seorang muda nan tampan, berbakat dan berpendidikan tinggi menjadi Romo”??. Seketika itu pula aku teringat akan Rudi temanku. “Oh…rupanya tidak semua orang punya pendapat yang sama dengannya, buktinya seorang yang memiliki segala-galanya, memilih menjadi seorang Romo”, ucapku sambil tersenyum puas. Tidak cukup sampai disitu, kemudian aku melihat-lihat pendapat orang lain mengenai hal tersebut, namun apa yang ku harapkan tidak sepenuhnya terjadi, sebagian besar orang justru menyayangkan pilihan hidupnya menjadi seorang imam karena fisiknya yang sempurna, lebih cocok menjadi seorang artis kata mereka.

Saat makan malam pun tiba, kami telah siap menyantap makanan yang terhidang, Mama memang luar biasa dalam meracik makanan, dari bahan yang sederhana saja mampu diolah menjadi makanan yang mengundang selera, tidak berlebihan jika aku pun mengundang temanku Tasya untuk ikut menikmati kebersamaan kami, Tasya sudah sering kami undang, dan mama sudah menganggap nya seperti anak sendiri, Tasya duduk tepat di seberangku, dan kami pun berbincang bersama sambil menyantap semua hidangan malam ini, kami semua bahagia walau Papa tidak bersama kami. Ditengah percakapan yang seru, tiba-tiba aku bertanya sesuatu pada Mama. “Mah… aku boleh tidak jadi seorang Romo?” Seketika itu pula mama melempar sendok yang ada di genggamannya, seperti orang yang terkejut hebat. “Dree… kamu tidak bercanda kan? Mama tidak sedang bermimpi kan?”.

Aku tertawa terbahak-bahak melihat reaksi mama yang begitu kagetnya, ternyata orang tua ku yang begitu mencintai Yesus pun tidak rela anaknya memilih jalan hidup menjadi seoarang Imam, menjadi pelayan dan gembala bagi Gereja dan ajaran-Nya. Tidak cukup sampai disitu, Tasya pun ikut berpendapat, “Tante…akupun ingin menjadi suster biarawati loh”. Mamaku langsung syok…dan pingsan mendengarnya.

Makan malam kami pun akhirnya berakhir dengan satu pengalaman penting, meskipun aku hanya bercanda, Mama ternyata belum bisa menerimanya. “Sudahlah Mah… aku dan Tasya hanya bercanda koq” rayuku menenangkan Mama yang masih terlihat syok, “kamu jangan begitu Dree… bikin Mama kaget setengah mati, walaupun Mama sangat mencintai Yesus, tapi masih banyak cara lain yang bisa kamu pilih untuk menunjukan kasihmu.” sambung Mama memberi penjelasan, Sebenarnya aku hanya ingin mencari tahu, mengapa banyak umat Katolik diluar sana yang sangat mendukung misi Gereja menjaring calon Imam, namun berlaku sebaliknya ketika hal tersebut berhubungan dengan keluarganya. “Kalau orang lain boleh jadi Romo, asalkan bukan anakku”, atau “sayang yaa…ganteng-ganteng koq jadi Romo, atau Cantik-cantik koq jadi suster” itulah seklias pernyataan yang sering kita dengar, seakan-akan melebelkan para Imam itu hanya untuk orang-orang yang kurang beruntung atau tidak memiliki pilihan hidup lain.

Ironis bukan, melihat kenyataan bahwa tidak banyak orang yang tertarik untuk memilih hidup bakti, menjadi pengikut Yesus yang setia setiap saat, rela meninggalkan keduniawian dan lebih fokus melayani sesama, bahkan orang tua yang mengajarkan kita tentang iman sedari kecil pun banyak yang tidak sanggup menerima buah hatinya memilih jalan hidup dan mengabdi sepenuhnya kepada Tuhan. Meskipun di beberapa daerah di Indonesia bagian timur, ada kebiasaan untuk menjadikan anak sulung mereka menjadi Imam, dengan penyerahan yang tulus dari keluarga, mereka lebih mudah dalam menentukan pilihan hidupnya, walaupun segalanya kembali pada pribadi-pribadi yang terpanggil dan tentu saja pada kehendak-Nya. Semoga semakin banyak orang-orang yang terpanggil untuk menjalani hidup sebagai seorang Imam, sehingga Kerajaan Allah semakin dimuliakan.

“Kira-kira… kalau aku menjadi seorang Imam, cocok tidak yaa..?” pikirku sambil berkelakar.  Yaaa…sudahlah, apapun yang akan kujalani nanti, kuserahkan sepenuhnya pada kehendak-Nya, semoga kelak aku bisa memenuhi keinginan orang tuaku dan tentunya bermanfaat bagi Gereja dan sesama. Teman-teman ikuti terus kisahku ya… yang pasti akan semakin banyak kisah kehidupan yang akan ku ceritakan dan tentunya menarik untuk di simak, sampai jumpa di lain kesempatan… Tuhan Yesus memberkati

(Wellyanto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *