Basilica di San Pietro in Vincoli

Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam ruang itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya, katanya “ Bangunlah segera” maka gugurlah rantai itu dari tangan Petrus (Kis 12:7).

Rantai santo Petrus ini sekarang disimpan didalam altar utama Basilica di San Pietro in Vincoli (Saint Peter in Chains) di Roma, setelah melalui jalan panjang dari Yerusalem. Pada tahun 313 dalam salah satu kunjungannya ke tanah suci, Aelia Eudocia, istri dari Kaisar Valentianan II mendapat rantai santo Petrus sebagai hadiah dari Patriarch/Uskup Yerusalem Iuvanelis dan kemudian dibawa ke Konstantinopel. Rantai itu kemudian diberikan pada puterinya Licinia Eudoxia yang melanjutkan janji ibunya untuk membangun sebuah basilika sebagai tempat menyimpan rantai itu. Peristiwa perjalanan rantai dari Yerusalem sampai di Roma ini dilukiskan dalam fresko atau lukisan diatas langit-langit di altar utama pada tahun 1577 oleh pelukis Jacopo Coppi juga disebut Migliore.

Basilika itu sendiri awalnya adalah sebuah villa yang besar dan pada pertengahan abad ketiga mengalami renovasi besar-besaran. Patut diingat bahwa umat kristiani awal sangat merahasiakan kepercayaan mereka dan komunitas kristiani yang pertama berkumpul dalam rumah pribadi atau ecclesiae domesticae atau gereja keluarga. Pada abad ketiga, seiring dengan berkembangnya umat kristiani dan kebutuhan untuk tempat ibadah yang lebih besar,  ecclesiae domesticae berubah menjadi domus ecclesiae yang mendasari renovasi villa yang kemudian menjadi basilika ini. Istilah basilika sendiri aslinya merujuk pada bangunan publik di Roma yang tertutup dan berbentuk rektangular, dibagi beberapa “gang” oleh pilar-pilar atau kolom, pintu masuknya biasanya dari salah satu sisinya yang panjang.

Basilika ini terletak di bukit Oppian tidak jauh dari Colloseum, namun karena kurangnya petunjuk arah, maka agak sulit ditemukan (pengalaman pribadi). Panjang bangunan mencapai 70 m dan lebarnya 40 m. Bagian depan atau Portico terlihat sederhana dengan lambang Kepausan Clement XI di pintu masuk utamanya.

Namun begitu masuk kedalam, tampaklah kemegahan yang mengagumkan dari basilika ini. Menuju altar utama yang dipagari kolum-kolum kokoh menjulang setinggi 6.2m, tampaklah langit-langit yang dihiasi mural yang menggambarkan kisah nyata yang terjadi di tahun 969 tentang pengusiran setan/exorcism oleh Paus Alexander dengan menggunakan rantai santo Petrus terhadap seorang bangsawan dan pengikut raja Otto I, rantai ini detempelkan ke leher bangsawan itu dan seketika ia pun terbebas dari pengaruh setan.

Basilika ini juga menjadi tempat pemakaman beberapa Paus dan Kardinal yaitu Kardinal Galli, makamnya terletak dibawah organ; Kardinal Vecchiarelli, di lantai didepan makamnya tersusun marmer warna warni yang indah yang menggambarkan lambang keluarga dan diahiri dengan kalimat berbahasa latin,  terjemahannya kira-kira berbunyi “ setelah kematian, maka jiwa kembali ke surga” . Pada makam Kardinal Nicholas dari Cusa, beliau dipahatkan sedang menyembah santo Petrus yang sedang memegang kunsi ditangan kanan dan menerima rantai dari malaikat ditangan kiri. Makam  Paus Yulius II adalah musoleum dengan hiasan indah, letaknya di dekat latar utama di  gang sisi kanan. Selain makam-makam itu, disini juga ada sarcophagus di ruang bawah tanah yang dipercaya berisi relik keluarga ibu dan tujuh anak laki-laki dari Kisah Makabe ( 2 Makabe 7 ). 

Rantai santo Petrus terletak di altar utama, dan disimpan didalam sebuah kabinet dengan dua pintu yang disepuh perunggu. Selain menjadi tempat penyimpanan rantai santo Petrus, basilika ini juga menyimpan hasil karya seniman Michelangelo yang termahsyur yaitu patung Musa, sebagai bagian dari makam Paus Yulius II. Patung ini sangat impresif dengan pahatan yang detail, Musa dibuat dengan dua tanduk dikepalanya yang melambangkan sinar Ilahi karena ia telah bertemu dengan Allah. Hal ini disebabkan karena kemiripan dalam bahasa Hibrani antara kata “sinar” dengan “tanduk”, dan untuk seorang seniman lebih mudah membuat tanduk daripada membuat sinar.

Disamping kanan dan kiri Musa terdapat patung Rahel dan Lea, istri-istri Yakub. Rahel yang sangat dikasihi Yakub sehingga Allah menutup rahimnya, namun tidak pernah putus asa dan selalu berdoa dan berharap agar dapat dikaruniai anak dari Yakub. Rahel digambarkan dengan kepala mendongak keatas sebagai simbol iman dan pengharapan. Lea selamanya berusaha untuk dicintai Yakub sehingga Allah menaruh belas kasihan dan mengaruniakan banyak anak laki untuk Yakub. Lea digambarkan dengan karangan bunga dan cermin sebagai lambang kerja keras.

Pengamatan yang mendetail terhadap karya Michelangelo ini mampu memberikan  pengertian tentang kedalaman theologi-nya; bahwa keselamatan umat manusia sangat tergantung dari rahmat kemurahan Allah yang dalam hal ini diwakili oleh figur Musa. Setiap orang dalam mendapatkan keselamatannya harus memiliki iman/kepercayaan yang diwakili oleh Rahel dan usaha/kerja yang dalam hal ini diwakili oleh Lea.

( Ignatia Diah Praswati – PCC SFA )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *