Melihat Kembali Penderitaan Tuhan Yesus

“Penyelenggaraan ini  luar biasa, sangat menyentuh sekali,  saya lihat tadi malam hari terakhir pameran itu penuh sekali, setiap beberapa menit itu ada rombongan  berikutnya yang antri untuk melihat pameran”

Demikian yang diungkapkan salah seorang peserta yang bernama  Bernardus Taufik Masak dari Paroki BMV Katedral Bogor, saat mengunjungi pameran kain kafan Jumat (14/2) di  Aula St. Michael Paroki Fransiskus Asisi, Sukasari. Pameran kain kafan diadakan dari tanggal 10 – 14 Februari, sementara seminarnya diadakan pada 15 Februari.  Sekitar 1800 peserta hadir dalam pameran dan kurang lebih 300 peserta dalam seminar. Di Keuskupan Bogor Tahun 2004 pernah diadakan di Katedral Bogor, jadi baru 16 tahun kemudian diadakan lagi yang bertempat di Paroki Sukasari. Pada hari  terakhir pameran Uskup Bogor Mgr. Paskalis Bruno Syukur menyempatkan diri hadir mengunjungi pameran. 

“Ini sebenarnya bukan kain kafan itu sendiri, tapi apa yang tergambar dari kain kafan itu adalah,  sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus“ Demikian yang diungkapkan Pastor Gabriele Antonelli CP, saat menjadi nara sumber pada Seminar Kain Kafan Yesus di Aula St. Michael Paroki St. Fransiskus Asisi, Sukasari. Lebih lanjut Pastor Gabriele Seminar Pameran dan  seminar ini  semacam retret kisah sengsara Yesus  untuk seluruh umat, jadi ini salah satu bentuk baru retret kisah sengsara Yesus yang ada di Indonesia.   Apa yang tergambar dalam kain kafan itu  sesuai atau cocok sekali seperti yang kita baca dalam injil. Dan misi konggregasi pasionis adalah justru untuk mewartakan  sengsara, wafat dan kebangkitan yesus. Jadi pameran dan semiar ini adalah ringkasan dari semuanya.  Meskipun Gereja secara resmi belum mengesahkan kain kafan ini, tetapi apa yang tergambar dalam kain kafan sama dengan yang ada di kitab suci.

Lebih lanjut  Pastor Gabriele Antonelli mengungkapkan  setidaknya ada beberapa hal yang pasti secara ilmiah  menurut ilmuan dan ilmu kedokteran yaitu : Pertama, ada tubuh manusia di Kain Kafan yang didera. Kedua, kepala  memperlihatkan banyak luka tusukan, seperti suatu topi duri. Ketiga, punggungnya menunjukkan luka-luka memar, kiri lebih rendah sedangkan kanan  lebih tinggi.  Tanda bahwa dia memikul “patibulum”. Keempat, lututnya “terutama kiri” memperlihatkan bekas benturan keras dengan batu. Kelima, banyak luka memar pada wajahnya akibat pukulan dan benturan karena jatuh berkali-kali.  Keenam, pergelangan tangan dan kakinya terembus oleh Paku. Ketujuh, lambungnya tertembus oleh tombak. Kedelapan, tubuhnya dilepaskan dari salib, telanjang dan tanpa dimandikan, dibaringkan di atas sehelai kain baru dan bersih dan ditutup lagi dengan kain yang sama.

“Sebelumnya kita mengetahui bahwa Yesus mati untuk kita tetapi dengan pameran ini, itu luar biasa, menurut saya ini kekayaan gereja yang sangat luar biasa, orang yang datang itu memang orang pilihan, orang yang sungguh-sungguh  butuh  untuk lebih lagi melihat bagaimana penderitaan Yesus Kristus itu. Umumnya yang kita tau itu ia menderita, ia sakit dicambuk dan sebagainya, tetapi disini dikatakan berapa kali Yesus dicambuk? berapa kali dia jatuh? dan berapa kali dihina dan sebagainya, ini membuat kita menjadi sungguh luar biasa sekali manfaatnya. Luar biasa sekali kasihnya,  dan kegiatan ini saya pikir sangat baik sekali untuk diadaan di keuskupan-keuskupan.

Sementara sebagai ketua panitia Ignatius Dwi Siswahyuwono mengatakan antusias umat begitu banyak sehingga umat lebih interaktif.  Nara sumbernya  juga sangat-sangat  baik membawakannya.  Pertanyaan yang sebelumnya kita belum mendapatkan, akhirnya terjawab sudah.  Fasilitatornya kegiatan ini sebenarnya komunitas Emaus Journey  yang tiap rabu mengadakan pertemuan. Kita mau  menjawab tantangan  kira-kira  apa yang akan diberikan kepada umat ? sehingga kita memutuskan untuk mengadakan kegiatan seperti ini. 

Dalam penjelasannya Pastor Marius Lami CP yang juga sebagai salah satu pembicara menjelaskan  Dalam kain kafan para ahli menemukan ada 9 (Sembilan)  item dan  9 (sembilan) item itu sama dengan pewartaan injil, walaupun sampai hari ini,  gereja secara resmi, belum menetapkan itu adalah sah kain kafan  yang  asli dipakai untuk menutupi jenazah Yesus. Namun ia berharap dari kegiatan ini dapat   menangkap 2 (dua) point. Point pertama adalah mengajak umat untuk kembali melihat siapakah Tuhan yang kita imani?  sebagaimana Yohanes ia mewartakan  Allah adalah Kasih, disinilah point pertama kesengsaraan yang ada di kain kafan yang kita padukan dengan kesengsaraan dalam pewartaan injil. Kita diajak kembali melihat sosok Tuhan yang kita imani, Ia adalah Allah sang Kasih, dengan kasih yang besar. Dia menempuh cara yang sulit dipahami, dengan alam pikiran kita manusia yaitu dengan melewati jalan sengsara.  Dimana lewat sengsara, wafat dan kebangkitannya manusia dianugrahi hidup,  itu point yang pertama.  Sedangkan point yang ke dua, umat juga diajak untuk mengenali kembali, siapa dirinya, apa toh hebatnya kita manusia di mata Tuhan? Sampai Tuhan rela mau berkorban di kayu salib, walaupun Dia tahu Dia ketika masuk ke Yerusalem, Dia akan ditangkap, Dia akan ditolak dan Dia akan dibunuh, tapi Dia masuk. Apa hebatnya manusia.  Disini umat diajak untuk melihat kita adalah citra Allah. Martabat dan harkat diri kita sebagai citra  Allah  inilah yang mengundang Allah untuk kembali menampakan cinta kasihnya, untuk memulihkan martabat manusia dan aspek pastoralnya. Dengan mengambil 2 point ini, kita diajak  kembali mengenal sosok Allah yang maha kasih. Mengenal kembali martabat manusia sebagai citra Allah, kita harus kembali, kembali hidup sebagai orang yang sudah diciptakan baru oleh Tuhan. Menjadi orang yang taat kepada Tuhan dalam iman, mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. “Maka ini akan menggiring umat untuk memasuki masa pra paskah. Kasih yang begitu besar, ia menghantar kita untuk mengalami kebangkitan pada Paskah nanti”, ungkap Pastor Marius.

“Saya berpikir sedemikian dalamnya pengorbanannya untuk menebus kita, dosa-dosa kita, semua diambil alih kesengsaraannya seperti itu. Disisi lain  positifnya, meningatkan kita bahwa penderitaan yang kita alami sendiri,  ini kalau  dibandingkan dengan penderitaan Yesus, itu tidak ada apa-apanya. Sehingga kita mempunyai rasa semangat kalau kita menderita belum seberapanya seperti yang diderita Tuhan Yesus. Jadi kita bisa mengkaitkan hidup kita sehari-hari  dengan apa yang telah dilakukan oleh Tuhan Yesus untuk kita”, ujar Fx. Hery Suryanto dari wilayah Tajur. 

( A. Sudarmanto )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *