Pesan untuk Petugas Liturgi: jangan lupa “Pulang”, meski sibuk mengatur jalan. Jujur saja, bagi para pelayan liturgi, Rabu Abu itu seringkali jadi medan perang tersendiri. Persiapannya kadang lebih bikin deg-degan daripada ujian skripsi. Kenapa? Karena urusan teknis peracikan abu itu seni tingkat tinggi. Kalau terlalu kering, abunya terbang ke mana-mana, masuk mata umat, masuk hidung, sampai Romo-nya bersin-bersin di Altar. Tapi kalau terlalu basah? Wah, itu bukan mau tobat, tapi mau luluran. Nempel di jempol, susah dioles, dan hasilnya di dahi umat malah jadi kayak stempel kelurahan yang tintanya mblobor.

Di balik kekhusyukan misa, ada chaos suci yang harus dikendalikan. Bayangkan teman-teman Tata Laksana. Ini pahlawan tanpa tanda jasa yang harus mengatur lalu lintas jalur penerimaan abu yang ruwetnya ngalahin simpang lima saat jam pulang kerja. “Bu, geser dikit ya, jangan memotong jalur lambat!” Sambil senyum ramah, padahal kaki sudah pegal linu karena umat membludak sampai parkiran.

Bagaimana dengan Lektor dan Pemazmur? Membacakan bacaan Nabi Yoel tentang “Koyakkanlah hatimu” itu butuh skill akting batin. Jangan sampai suaranya terlalu drama kayak sinetron, tapi juga jangan datar kayak robot Google Translate. Salah nada dikit, pesannya nggak sampai. Dan tentu saja, Dirigen beserta Koor. Menyanyikan lagu “Hanya Debulah Aku” berulang-ulang dengan penuh penghayatan, sementara mata melirik takut kalau-kalau abunya masuk mulut pas lagi ambil napas panjang. Itu seni tingkat tinggi!

Kita tertawa, kita sibuk, kita ribet dengan teknis. Sampai kadang kita lupa satu hal… Di tengah keriuhan mengatur mik, menata kursi, atau menahan mangkuk abu, ada momen magis yang sering terlewat karena kita terlalu fokus pada tugas. Sebuah Sentuhan yang Menyamakan Kedudukan Teman-teman pelayan liturgi, pernah nggak Njenengan merinding saat giliran Njenengan sendiri yang maju menerima abu? Saat dahi kita disentuh dan terdengar bisikan: “Bertobatlah, dan percayalah kepada Injil.” Di momen itu, jabatan kita hilang. Mau dia Dirigen yang perfeksionis, Misdinar yang imut, Lektor yang suaranya emas, atau Tata Laksana yang tegas, semua sama. Sama-sama debu. Sama-sama rapuh. Sama-sama punya dosa yang mungkin kalau ditampilkan di layar proyektor gereja, kita bakal lari keluar karena malu. Tugas kita memang melayani, mengatur jalan supaya umat bisa bertemu Tuhan. Tapi jangan lupa, kita juga butuh pulang. Abu itu dingin di kulit, tapi seharusnya hangat di hati. Itu bukan tanda kalau kita sudah suci karena jadi petugas.

Rabu Abu
Rabu Abu

Justru itu tanda kalau kita ini kangen dan rindu. Seperti anak kecil yang main tanah sampai kotor, lalu pulang ke rumah bapaknya minta dimandikan. Rabu Abu adalah momen kita mengetuk pintu rumah Bapa dan bilang, “Bapa, aku kotor lagi nih. Boleh masuk nggak?” Dan jawaban Tuhan selalu sama: “Pintu itu tak pernah dikunci.” Jadi, buat Njenengan semua yang bertugas di hari Rabu Abu: Lakukan tugas dengan gembira. Jangan cuma fokus pada abunya yang membentuk tanda salib estetik dan instagenic/instagramable. Tangani abu itu dengan gemetar, bukan sekadar rutinitas. Bernyanyilah, bacalah, dan aturlah umat dengan cinta.

Karena di balik setiap dahi yang berabu, ada kerinduan untuk diterima kembali, persis seperti kerinduan di hati kita sendiri. Dan buat seluruh umat: Datanglah. Bukan karena takut dosa. Bukan karena nggak enak sama tetangga. Apalagi cuma buat update status Selfie with Ash. Datanglah karena rindu. Karena sejauh apapun kita pergi, debu pasti akan kembali ke tanah. Dan sebandel apapun kita, hati ini tahu ke mana ia harus pulang. Sebab dari debu kita berasal, dan kepada Kasih-Nya lah kita akan kembali. Jangan lupa siapin tisu, barangkali abunya masuk mata (atau hatinya yang kelilipan haru).

Berkah Dalem.