Sajian Utama

Baik Buruk Media Sosial

Pada bulan Januari 2018 riset yang dilakukan oleh We Are Social sebuah perusahaan media asal Inggris yang bekerja sama dengan Hootsuite, memberikan paparan  rata-rata orang Indonesia menghabiskan 3 (tiga) jam 23 menit sehari untuk mengakses media sosial seperti yang dilansir  Kompas.com (1/3/18).   Sungguh luar biasa. Kalau jam kerja adalah 8 jam, berarti hampir separu jam kerja atau waktu bersama keluarga dihabiskan hanya untuk “bermain” di media sosial.

Para pemegang telepon genggam atau gadget pada umumnya “menyemplungkan” dirinya pada group-group petemanan baik itu di facebook, twitter, instragram, whatsapp dan lain sejenisnya. Baik pertemanan saat sekolah, tempat tinggal, pekerjaan, lingkungan keagamaan dan masih banyak lagi. Sebagain orang beranggapan masuk groups pertemananan agar dapat dianggap menjadi anggota groups. Karena bila tidak, nanti bisa dianggap di luar groups. Padahal tidaklah demikian seharusnya. Pertemanan tidak berarti harus menjadi anggota groups dalam pertemanan media sosial.     

Rasa keingintahuan dan memperoleh informasi dalam groups menjadi salah satu alasan orang masuk dalam jejaring sosial media. Tentu saja sosial media  bak pedang bermata dua, satu sisi dapat berpengaruh positif dan satu sisi lagi dapat berpengaruh buruk. Banyaknya informasi yang kita peroleh di media sosial setiap detiknya. Informasi tersebut bisa sesuatu yang berguna dapat juga berita bohong (hoax, fake news) terutama dalam suasana politik yang sedang memanas. Disitulah perlu kesadaran penuh dan memakai akal sehat untuk menyaring segala informasi dan terlebih untuk menelurkannya ke groups sosial media yang kita miliki.

Sama halnya dalam motif ekonomi, banyak orang yang dengan sengaja mengambil profile kita di media sosial dengan maksud menipu agar mendapat keuntungan materil. Bahkan baru-baru ini akun Facebook Bapa Uskup Bogor Mgr. Paskalis Bruno Syukur  OFM juga telah di hac (curi) oleh seseorang yang mengaku sebagai Bapa Uskup dan meminta sejumlah materi kepada pertemanan di akun sosial media tersebut.  Tentu ini merugikan dan membahayakan bagi pengguna akun media sosial tersebut. Disinilah perlunya kehati-hatian kita sebagai pengguna sosial media. Pun dalam menerima pertemanan. Jangan sekali-sekali menerima permintaan pertemanan dari orang yang tidak kita kenal sebelumnya. Ada baiknya kita selidiki terlebih dahulu siapa orang tersebut. Maksud hati ingin banyak teman, tapi siapa sangka akan menjadi bumerang.

Dalam pertemanan di media sosial yang sedang menjadi life style saat ini, hal yang perlu diperhatikan juga adalah perubahan sikap manusia. Dimana pertemanan di media sosial dapat merubah kepribadian penggunanya. Orang menjadi asik dengan gadget sehingga lupa akan orang disekitarnya. Sibuk sendiri (autis)  dengan gadget di tangan bahkan dalam kehidupan berkeluarga di rumah. Anggota keluarga masing-masing menjadi sibuk dengan gadgetnya. Maka benarlah apa yang dikata bahwa pertemanan media sosial menjadikan “yang jauh menjadi dekat dan yang dekat menjadi jauh”!   

“Ada fenomena berbahaya dari anak-anak muda menjadi ‘pertapa sosial’ yang berisiko mengasingkan diri sepenuhnya dari masyarakat,” ungkap pernyataan dari Paus Fransiskus seperti yang dikutip dari Dailymail.co.uk.  pada 24 Januari 2019 saat kunjungan ke di Panama menghadiri acara Hari Pemuda Sedunia. Sikap individualisme yang  tak terkendali ini ditemukan di media sosial yang kadang-kadang berakhir memicu kebencian terhadap yang lainnya dan menimbulkan kecurigaan.   Di saat yang bersamaan, Paus memperingatkan orang-orang tentang jejaring sosial yang mengambil keuntungan dari data pribadi orang dan mungkin memanipulasinya untuk keuntungan politik atau ekonomi tanpa menghormati orang dan hak-haknya.

Selanjutnya Paus Fransiskus  menuturkan tantangan saat ini dalam komunikasi adalah meningkatnya isolasi dari dunia nyata. Tentu dengan adanya media sosial membuat sebagian besar menjadi kurang berkomunikasi dengan orang-orang di sekitar. Namun demikian Paus Fransiskus  menjelaskan, pada akhirnya Gereja Katolik percaya bahwa internet adalah alat yang dapat dimanfaatkan untuk kebaikan, jika hanya orang yang akan mulai menggunakannya untuk dialog, untuk pertemuan, untuk senyum dan ekspresi kelembutan.

(A. Sudarmanto) dari berbagai sumber.