Sinode Dekanat Tengah Keuskupan Bogor

Dalam rangka mengikuti alur proses Sinode Keuskupan Bogor yang akan dilaksanakan bulan Desember 2019. Dekanat Tengah Keuskupan Bogor  mengadakan  Sinode Dekanat Tengah di Gedung Pusat Pastoral, Katedral Sabtu (21/10). Iring-iringan panji-panji dari setiap Paroki yang ada di Dekanat Tengah menandai dibukanya Sinode tingkat Dekanat Tengah.

“Ketika saya masih menjadi frater saya mempunyai teman seorang Romo yg sudah berusia lanjut kemudian , setelah saya lulus dan menjadi imam saya mendengar Romo yang saya kenal tadi telah keluar dan dibebas tugaskan diusia yang tidak muda lagi”, tutur Romo Markus Lukas selaku Romo Dekan Dekanat Tengah. Kemudian ia melanjutkan satu cerita lagi, beberapa waktu yang lalu ia menerima surat resmi pemberitahuan dari Keuskupan Sakramento di California salah satu negara bagian di Amerika Serikat, yang mengeluarkan surat  bahwa pasangan A dan B yang kawinnya di Sukasari telah pisah dan dibebaskan di salah satu Keuskupan di California. “Saya mau  mengatakan bahwa tidak ada titik aman dalam hidup kita. Baik kehidupan sebagai religius atau suami istri yang sudah puluhan tahun bisa saja berpisah. Demikian pula dengan Gereja, bila kita pandang sebagai organisasi, sama saja tidak punya titik aman. Maka dari itu diperlukan masukan-masukan, dan perlunya kita berjalan bersama dalam Sinode”, ungkap Romo Markus.   

Sementara  itu Vikjen Keuskupan Bogor RD. Haruno mengatakan dari awal kegiatan sinode ini saya sudah mengatakan was-was, saya tidak percaya, saya berkecil hati, mungkinkah sinode ini dapat berjalan dengan baik? Tapi kenyataannya sungguh luar biasa, bahwa Sinode di paroki-paroki dan paroki mahasiswa, bahkan degan vikaris kita Romo Untung, kemarin juga ada sinode siswa-siswi Katolik yang bersekolah di sekolah negeri. Dan hasilnya sungguh-sungguh luar biasa.

Di tempat yang sama Josep Sopamena selaku Ketua Panitia mengatakan bahwa persiapan untuk acara ini dimulai sejak bulan April. Dan yang perlu disiapkan dari panitia yaitu memikirkan tempatnya. Kemudian run down acaranya. Kemudian mengundang setiap paroki itu untuk mengirim peserta sebanyak 25 orang. Dari 25 peserta dibagi menjadi 15 peserta awam, 8 OMK dan 2 orang dari hidup bakti. Umat yang bisa ikut adalah umat yang sudah pernah ikut di sinode paroki. Kemudian aktif di dalam kepengurusan Paroki minimal  1 th.

Harapannya dari Sinode Dekanat Tengah ini, Gereja bisa mendapatkan masukan-masukan dari semua umat. Baik berupa ide atau saran. “Untuk peserta semingu sebelumnya, usulan sudah dibagikan ke semua peserta dan  mereka sudah membaca, sehingga ketika mereka hadir di kegiatan ini, mereka sudah punya gambaran apa yang akan diberikan dalam draf usulan sinode”, ungkap Josep. “Harapannya masukan-masukan dari umat ini. Nantinya dari keuskupan dapat merumuskan kebijakan-kebijakan yang nanti di diskusikan lagi di Sinode tingkat Keuskupan”,imbuhnya. 

Peserta yang hadir sangat berantusias dalam mengikuti Sinode tingkat Dekanat ini. Terlihat dari banyaknya animo umat yang mengajukan usulan dan masukan dalam setiap sesinya.

( A. Sudarmanto )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *