“Memento Mori” Ingatlah akan Kematian

Paskah adalah hari raya terbesar bagi umat Katolik di seluruh dunia. Di berbagai negara, umat merayakan Paskah dengan berbagai macam tradisi yang unik dan menarik. Termasuk di Indonesia yang juga memiliki tradisi unik dan berbeda di berbagai daerah. Salah satunya di Kalimantan Tengah. Umat di Kalimantan Tengah merayakan Paskah dengan mengunjungi makam keluarga pada Sabtu Suci. Mereka menyalakan lilin, menaburkan bunga, dan berkumpul sampai subuh. Pada Minggu Paskah mereka mengadakan kebaktian di tenda-tenda yang disediakan gereja di dekat makam. Mereka menamakan tradisi ini “Memento Mori”. Sebuah ungkapan dari Bahasa Latin yang berarti “Ingatlah Akan Kematian”.

Pembicaraan dan pemikiran tentang kematian bukanlah sesuatu yang menyenangkan, bahkan membangkitkan keresahan dan perasaan tidak nyaman. Tapi para filsuf dunia seperti Socrates, Seneca, dan Epictetus menyuarakan filosofi yang sama dengan kata-kata yang berbeda. Socrates berkata bahwa praktek filosofi yang tepat adalah “Tidak lain tentang mati dan kematian”. Seneca, dalam biografinya yang berjudul ‘Dying Every Day’ (Mati Setiap Hari), meminta para muridnya untuk selalu mengingatkan diri masing-masing sebelum tidur dengan merenungkan “Saya mungkin tidak bangun lagi besok”. Demikian pula Epictetus yang mengajarkan para muridnya, “Ingatlah kematian dan pengasingan di depan mata Anda setiap hari, bersama dengan segala sesuatu yang tampak mengerikan. Dengan melakukan itu, Anda tidak akan pernah memiliki dasar pemikiran dan hasrat yang berlebihan.”  

Tidak hanya filsuf, salah satu penguasa Roma yang terkenal, Marcus Aurelius, menulis untuk dirinya sendiri, “Anda bisa meninggalkan kehidupan saat ini setiap saat. Jadikan hal itu untuk menentukan apa yang Anda lakukan dan katakan dan pikirkan.” Dengan mengedepankan pikiran tentang kematian, Sang Kaisar, orang yang berkuasa di dunia saat itu menjalankan kewajiban dan kehidupannya dengan ‘power of now’. Kekuatan saat ini. Bukan terperangkap di masa lalu yang sudah terjadi dan tidak bisa dirubah. Bukan pula terjebak dalam pemikiran tentang masa depan yang belum pasti. 

Filosofi memento mori terus menggema. Seorang pelukis Perancis yang terkenal, Philippe de Champaigne menggambarkan memento mori dalam lukisannya yang terkenal, yaitu Still Life. Lukisan tersebut menggambarkan tiga esensi penting kehidupan yaitu bunga tulip yang melambangkan kehidupan, tengkorak yang melambangkan kematian, dan jam pasir yang melambangkan waktu. Sampai saat ini, lukisan Still Life menjadi ‘lambang’ dari filosofi memento mori.  

Mortalitas manusia secara sempurna digambarkan dalam filosofi memento mori. Tapi pemikiran tentang mortalitas tanpa pemahaman yang tepat malah membawa kita ke arah yang keliru. Adalah suatu kenyataan dan kepastian bahwa satu saat kita pasti mati. Seperti apa kehidupan yang ingin kita rancang dan jalani saat ini? Bagaimana kita menjalani kehidupan saat ini, antara masa lalu yang sudah terjadi dan masa depan yang belum terjadi? Seperti apa kenangan dan gambaran tentang kita yang ingin kita tinggalkan pada anak cucu, keluarga, dan teman-teman?  

Memento mori bukan hanya sekedar pengingat tentang kematian. Tapi adalah pengingat tentang anugrah luar biasa berupa kehidupan yang sedang kita jalani saat ini. Memento mori juga mengingatkan kita tentang satu lagi anugrah yang juga luar biasa yaitu waktu. Live a life here and now. Jalani kehidupan kita di sini dan saat ini. Mulai dari dalam diri sendiri, sekarang dan saat inilah kita bisa terus menerus melakukan perbaikan dan kemajuan untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. 

Sekali lagi, memento mori, ingatlah akan kematian, dengan demikian kita lebih menghargai kehidupan. Paskah adalah tentang kematian dan kebangkitan. Mari kita mengikuti teladan Yesus dengan menjalani ‘Paskah’ kita sekarang, saat ini dan di sini. Kesengsaraan dan kesulitan hidup kita karena kebiasaan buruk, perilaku buruk, pemikiran negatif, dan banyak hal buruk lainnya harus ‘mati’. Dengan demikian kita ‘bangkit dan lahir kembali’ menjadi manusia baru.  

Selamat Hari Raya Paskah! 

(Melinda Liu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *