HIDUP IMAN YANG MENYENANGKAN ALLAH

1. Pengertian

Hidup iman yang menyenangkan Allah adalah hidup yang berakar pada kepercayaan penuh kepada Allah dan diwujudkan secara nyata dalam seluruh aspek kehidupan. Iman bukan hanya pengakuan bahwa Allah ada, melainkan sikap hati yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak-Nya. Orang yang hidup dalam iman menyadari bahwa hidupnya adalah anugerah, dan karena itu ia berusaha menanggapi anugerah tersebut dengan ketaatan, kasih, dan kesetiaan.

“Tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah, sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada dan bahwa Ia memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” (Ibrani 11:6).

Dasar firman ini yang, membuat seseorang memahami pentingnya beriman kepada Allah, karena melalui iman dengan segenap hati, Ia mampu menjalani kehendak Allah walau tidak memahami tujuan hidup yang diberikan Allah.

Iman yang menyenangkan Allah bukanlah iman yang sempurna tanpa kelemahan, tetapi iman yang terus bertumbuh. Allah tidak hanya melihat keberhasilan lahiriah, melainkan ketulusan hati dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan Tuhan. Walaupun pertumbuhannya sedikit dan lambat, tetapi buahnya akan nampak dan memberikan kontribusi yang positif bagi sesamanya.

“Hiduplah berpadanan dengan Tuhan serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal dan berbuahlah dalam segala pekerjaan yang baik.” (Kolose 1:10)

Hidup iman berarti membiarkan Allah membimbing pikiran, perasaan, perkataan, dan tindakan, sehingga seluruh hidup menjadi pujian bagi kemuliaan-Nya.

“Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” (Amsal 3:5).

Setiap tindakan, perilaku maupun perkataan hendaknya memohon bimbingan Roh Kudus, agar berjalan dengan baik dan ketulusan, karena apa yang dikerjakan bukan untuk kepentingan diri sendiri melainkan untuk memuliakan Allah, sehingga menjadi pribadi yang rendah hati.

2. Kisah Kehidupan Nyata

Seorang ayah sederhana bekerja sebagai buruh harian untuk menghidupi keluarganya. Penghasilannya tidak besar, bahkan sering kali tidak cukup. Namun, ia tetap setia berdoa bersama keluarganya setiap malam. Ia mengajarkan anak-anaknya untuk bersyukur dalam segala keadaan dan selalu mengandalkan Tuhan.

Suatu ketika, ia ditawari pekerjaan dengan upah lebih besar, tetapi harus melakukan kecurangan kecil. Tawaran itu sangat menggoda karena keluarganya sedang membutuhkan uang. Setelah berdoa dan merenung, ia menolak tawaran tersebut. Keputusan itu tidak mudah, tetapi ia percaya bahwa hidup jujur lebih menyenangkan Allah daripada keuntungan sesaat. Beberapa waktu kemudian, ia mendapatkan pekerjaan lain yang lebih baik tanpa harus mengorbankan nilai imannya.

Kisah ini menunjukkan bahwa iman yang menyenangkan Allah sering kali menuntut keberanian untuk memilih kehendak Tuhan, meskipun tampak berat di awal.

3. Refleksi

Sering kali iman dipahami sebatas kewajiban keagamaan: pergi ke gereja, berdoa, atau mengikuti kegiatan rohani. Semua itu baik dan penting, tetapi iman yang menyenangkan Allah melampaui rutinitas tersebut. Iman menyentuh cara kita bersikap terhadap pasangan, anak, rekan kerja, dan bahkan terhadap orang-orang yang menyakiti kita.

Refleksi iman mengajak kita bertanya pada diri sendiri:

  • Apakah keputusan-keputusan hidup saya sudah melibatkan Tuhan?
  • Apakah iman saya terlihat dalam kejujuran, kesabaran, rendah hati dan kasih?

Ketika iman sungguh dihidupi, hidup kita perlahan diubah, bukan oleh kekuatan sendiri, melainkan oleh rahmat Allah yang bekerja dalam diri kita. Amin

(Oleh : Stefanus Indra Wahyu)