Menutup Perayaan, Membuka Pintu Harapan
Paroki St. Fransiskus Asisi secara resmi menutup rangkaian Tahun Yubileum Gereja Katolik melalui Misa Penutupan Tahun Yubileum yang dilaksanakan pada Minggu, 28 Desember 2025, pukul 09.00 WIB. Perayaan Ekaristi ini menjadi momentum refleksi iman atas rahmat, pertobatan, dan pengharapan yang telah dialami umat sepanjang Tahun Yubileum.

Misa diawali dengan perarakan vandel wilayah-wilayah Paroki St. Fransiskus Asisi sebagai simbol kebersamaan dan perjalanan iman umat. Perarakan semakin semarak dengan kehadiran penari cilik, serta Luce dan teman-temannya, yang menghadirkan sukacita dan semangat iman lintas generasi. Vandel-vandel wilayah kemudian diletakkan secara khidmat di sekitar altar.
Perayaan Ekaristi dipimpin oleh RD. Yustinus Dwi Karyanto, didampingi oleh Diakon Damas Adi dan para frater. Suasana liturgi berlangsung khidmat dan mengantar umat pada permenungan mendalam akan makna Tahun Yubileum yang kini ditutup.

Makna Porta Sancta dan Tahun Yubileum
Dalam homilinya, Romo Yustinus mengajak umat untuk menyadari kembali perjalanan iman selama Tahun Yubileum. Salah satu tanda utama Tahun Yubileum adalah dibukanya Porta Sancta (Pintu Suci) di Roma. Di Indonesia, Porta Sancta juga dibuka di sembilan gereja di Jakarta, serta di Keuskupan Bogor ditetapkan sejumlah tempat ziarah.
Romo menegaskan bahwa pintu Porta Sancta yang terbuka melambangkan pintu Allah yang terbuka, agar rahmat-Nya tercurah bagi umat. Namun, ketika pintu Allah terbuka, Tuhan juga menghendaki agar pintu hati manusia terbuka, baik kepada Allah maupun kepada sesama.

Rekonsiliasi, Persatuan, dan Perubahan Hidup
Membuka pintu hati, menurut Romo, terwujud melalui kerendahan hati untuk meminta maaf dan memberi pengampunan, dimulai dari keluarga—antara ayah, ibu, dan anak—hingga kepada sesama. Umat diajak untuk tidak menyimpan kesalahan, dendam, dan amarah yang dapat menghambat persatuan.
Romo juga menekankan makna ziarah sebagai bagian dari Tahun Yubileum. Ziarah bukan sekadar perjalanan fisik atau pengumpulan tanda, melainkan kesadaran bahwa hidup adalah perjalanan menuju kehidupan abadi di surga. Ziarah menjadi ajakan untuk meninggalkan cara hidup lama dan berani berubah menuju hidup yang diperbarui oleh kasih Kristus.

Keluarga sebagai Duta Harapan
Menutup homilinya, Romo Yustinus menegaskan bahwa meskipun Tahun Yubileum secara liturgis ditutup, semangatnya harus terus hidup, terutama dalam keluarga. Keluarga Kristiani diajak untuk menjadi duta perdamaian, harapan, dan sukacita, serta berani menjadi penolong bagi keluarga-keluarga yang menderita.
Perayaan Misa kemudian dilanjutkan hingga akhir dan ditutup dengan perarakan penutup, menandai berakhirnya Tahun Yubileum di Paroki St. Fransiskus Asisi. Tahun Yubileum ditutup, namun semangat pertobatan, iman, dan pengharapan terus dibuka dalam kehidupan umat sehari-hari.
Penulis : ADH


