Wejangan Paus Tentang Kisah Para Rasul Bagian Ke-19

Wejangan Paus Fransiskus Dalam Audiensi Umum Tanggal 15 Januari 2020: Tentang Kisah Para Rasul (28:16. 30-31) – Bagian 19/ Terakhir

(https://katekesekatolik.blogspot.com/2020/01/wejangan-paus-fransiskus-dalam-audiensi_16.html)

Saudara dan saudari yang terkasih!

Hari ini kita mengakhiri katekese tentang Kisah Para Rasul dengan tahapan terakhir misi Santo Paulus, yaitu, Roma (bdk. Kis 28:14).

Perjalanan Paulus, yang merupakan kesatuan dengan perjalanan Injil, adalah bukti bahwa rute manusia, jika hidup dalam iman, dapat menjadi wilayah transit keselamatan Allah, melalui Sabda iman, yang merupakan peragian yang aktif dalam sejarah, yang mampu mengubah situasi dan membuka jalan baru. Kitab Kisah Para Rasul berakhir dengan kedatangan Paulus di jantung Kekaisaran, yang tidak dekat dengan kemartiran Paulus, tetapi dengan penaburan Sabda yang berlimpah. Akhir dari kisah Lukas berporos pada perjalanan Injil di dunia, mencakup dan mengikhtisarkan seluruh dinamika Sabda Allah, Sabda yang tak terbendung yang ingin dijalankan untuk menyampaikan keselamatan kepada semua orang.

Di Roma, Paulus pertama-tama bertemu dengan seluruh saudaranya dalam Kristus, yang menerimanya dan menanamkan keberanian dalam dirinya (bdk. Kis 28:15), dan yang keramahannya membuat kita berpikir betapa kedatangannya ditunggu dan diinginkan. Kemudian ia diperkenankan tinggal sendirian di bawah penjagaan militer, yaitu, dengan seorang prajurit yang menjaganya. Ia berada dalam tahanan rumah. Terlepas dari kondisinya sebagai tahanan, Paulus dapat bertemu dengan para pemimpin Yahudi untuk menjelaskan mengapa ia terpaksa memohon kepada Kaisar dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah. Ia berusaha meyakinkan mereka tentang Yesus, mulai dari Kitab Suci dan menunjukkan kesinambungan antara kebaruan Kristus dan “pengharapan Israel” (Kis 28:20). Paulus mengakui dirinya sendiri sangat Yahudi dan ia melihat dalam Injil yang ia beritakan, yaitu, dalam pewartaan Kristus yang wafat dan bangkit, penggenapan janji-janji yang dibuat kepada Umat Pilihan.

Setelah pertemuan tak resmi yang pertama ini, yang mendapati orang-orang Yahudi bersikap baik, sebuah pertemuan yang lebih resmi mengikuti di mana selama satu hari, Paulus mewartakan Kerajaan Allah dan berusaha untuk membuka mata teman-teman bicaranya untuk beriman kepada Yesus, dimulai “dari hukum Musa dan dari para nabi” (Kis 28:23). Karena tidak semua dari mereka yakin, ia menyesali kekerasan hati Umat Allah, penyebab kutukan mereka (bdk. Yes 6:9-10), serta merayakan dengan penuh semangat keselamatan bangsa-bangsa yang, sebaliknya, menunjukkan diri mereka peka terhadap Allah dan mampu mendengarkan Sabda Injil kehidupan (lih. Kis 28:28).

Pada titik narasi ini, Lukas mengakhiri bahwa karyanya tidak menunjukkan kepada kita kematian Paulus melainkan dinamika pemberitaannya, dinamika Sabda yang “tidak dibelenggu” (2Tim 2:9) – Paulus tidak memiliki kebebasan untuk bergerak tetapi ia bebas berbicara karena Sabda tidak dibelenggu – Sabda yang siap untuk membiarkan dirinya ditabur dengan tangan penuh oleh Rasul Paulus. Paulus melakukannya “dengan terus terang dan tanpa rintangan” (Kis 28:31), di sebuah rumah tempat ia menerima semua orang yang ingin menerima pewartaan Kerajaan Allah dan mengenal Kristus. Rumah ini, terbuka untuk seluruh hati yang mencari, adalah gambaran Gereja yang, meskipun dianiaya, disalahpahami dan dibelenggu, tidak pernah lelah menerima setiap manusia dengan hati keibuan, mewartakan kepada mereka kasih Bapa yang menjadikan diri-Nya terlihat di dalam Yesus.

Saudara dan saudari yang terkasih, di akhir perjalanan ini, menghayati bersama-sama rentetan perjalanan Injil di dunia, semoga Roh Kudus menghidupkan kembali di dalam diri kita masing-masing panggilan untuk menjadi penginjil yang berani dan penuh sukacita. Semoga Ia juga menjadikan kita mampu, seperti Paulus, untuk meresapi rumah kita dengan Injil dan menjadikannya ruang atas persaudaraan, tempat Kristus yang hidup diterima, yang “datang untuk menemui kita masing-masing sepanjang masa” (bdk. Prefasi Adven).

[Sambutan dalam bahasa Italia]

Sambutan hangat tertuju pada para peziarah berbahasa Italia. Secara khusus, saya menyambut para Suster Fransiskan Alcantarine – para suster ini membuat gaduh! – yang sedang mengadakan Kapitel Umum mereka, dan saya mendorong mereka untuk semakin meningkatkan karisma mereka untuk melayani Gereja. Selain itu, saya menyambut Kelompok Doa Padre Pio Pariana, San Carlo Terme dan Antona; para peserta dalam pertemuan yang diselenggarakan oleh BMW Italia; Masyarakat Oftalmologikal Italia dan Lembaga Kim.

Akhirnya, saya menyambut kaum muda, kaum tua, orang-orang sakit dan para pengantin baru. Bukalah hati kalian terhadap kebutuhan Gereja dan, pada teladan Yesus, dekatlah dengan saudara-saudara kalian, membangun dunia yang semakin adil.

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh penutur]

Saudara dan saudari yang terkasih : Hari ini kita mengakhiri katekese kita tentang Kisah Para Rasul dengan kedatangan Paulus di Roma, dengan dibelenggu, untuk mengajukan banding kasusnya kepada Kaisar. Seperti yang telah kita lihat, kisah Santo Lukas tentang penyebaran Injil sebagian besar bersamaan dengan perjalanan misioner Paulus. Di Roma, Paulus disambut oleh jemaat Kristiani dan diperkenankan untuk tetap dikenakan tahanan rumah. Lukas mengakhiri Kitab Kisah Para Rasul bukan dengan kemartiran Paulus tetapi dengan menggambarkan pemberitaan Injilnya yang tak kenal lelah, menunjukkan kuasa sabda Allah yang tidak pernah dapat dibelenggu (bdk. 2Tim 2:9). Perjalanan misioner Paulus, yang berpuncak di kota Roma ini, mengungkapkan kuasa rahmat Allah untuk membuka hati terhadap Injil dan pesannya yang menyelamatkan. Setelah dalam bulan-bulan terakhir ini mengikuti penyebaran Kabar Baik ke seluruh dunia, marilah kita mohon Roh Kudus untuk memperbarui di dalam diri kita masing-masing panggilan menjadi murid-murid misioner Kristus yang berani dan penuh sukacita. Dengan cara ini, kita – di bawah jejak Paulus – akan memenuhi dunia kita dengan Injil dan menjadikan jemaat kita tempat persaudaraan di mana semua orang dapat berjumpa dengan Tuhan yang bangkit.

Saya menyambut para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, terutama kelompok-kelompok dari Finlandia dan Amerika Serikat. Atas kalian dan keluarga-keluarga kalian, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Semoga Allah memberkati kalian!

(Peter Suriadi – Bogor, 15 Januari 2020)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *