Wejangan PAUS FRANSISKUS dalam Audiensi umum – 6 November 2019

Wejangan PAUS FRANSISKUS dalam Audiensi umum – 6 November 2019 : tentang kisah para rasul (17:22-23) – bagian 14

(https://katekesekatolik.blogspot.com/2019/11/wejangan-paus-fransiskus-dalam-audiensi.html)

Saudara-saudari yang terkasih, selamat pagi!

Kita melanjutkan “perjalanan” kita bersama Kisah Para Rasul. Setelah berbagai pencobaan yang dialaminya di Filipi, Tesalonika, dan Berea, Paulus mendarat di Atena, tepatnya di ibukota Yunani (bdk. Kis 17:15). Kota ini, yang hidup dalam bayang-bayang kejayaan kuno meskipun mengalami kemunduran politik, masih memiliki keunggulan budaya. Di sini “semangat” Rasul Paulus terpicu dalam dirinya ketika ia melihat bahwa kota itu penuh dengan patung-patung berhala” (Kis 17:16). Namun, “dampak” dunia kafir ini bukannya membuatnya melarikan diri, malahan mendorongnya untuk membuat jembatan untuk berdialog dengan budaya itu.

Paulus memilih untuk akrab dengan kota itu sehingga ia mulai sering mengunjungi tempat-tempat dan orang-orang yang paling penting. Ia pergi ke sinagoga, lambang kehidupan iman; ia pergi ke alun-alun, lambang kehidupan kota; dan ia pergi ke Areopagus, lambang kehidupan politik dan budaya. Ia bertemu dengan orang-orang Yahudi, para filsuf Epicurean dan Stoa, dan banyak lainnya. Ia bertemu semua orang, ia tidak menutup diri, ia pergi untuk berbicara dengan semua orang. Maka, Paulus mengamati budaya itu, ia mengamati lingkungan Atena, “dengan pandangan kontemplatif” yang melihat “allah berdiam di rumah-rumah mereka, di jalan-jalan dan lapangan-lapangan mereka” (Evangelii Gaudium, 71). Paulus tidak memandang kota Atena dan dunia kafir dengan permusuhan, tetapi dengan mata iman. Dan ini membuat kita bertanya pada diri sendiri tentang cara kita memandang kota kita : apakah kita mengamatinya dengan acuh tak acuh, dengan jijik? Atau dengan iman, yang mengakui anak-anak Allah di tengah-tengah orang banyak yang tanpa nama?

Paulus memilih pandangan yang mendorongnya untuk menemukan celah antara Injil dan dunia kafir. Di Areopagus, pusat salah satu lembaga paling terkenal di dunia kuno, ia memberikan teladan inkulturasi yang luar biasa tentang pesan iman : ia mewartakan Yesus Kristus kepada para penyembah berhala, dan ia tidak melakukannya dengan menyerang mereka, tetapi dengan menjadikan dirinya “pembangun jembatan” (Homili di Casa Santa Marta, 8 Mei 2013). Paulus menyampaikannya dari altar kota yang didedikasikan untuk “Allah yang tidak dikenal” (Kis. 17:23) – ada sebuah mezbah dengan tulisan “kepada Allah yang tidak dikenal” – tidak ada gambar, tidak ada sesuatu pun, hanya tulisan itu. Dimulai dari “devosi” kepada Allah yang tidak dikenal itu, <agar> memasuki para pendengarnya, ia menyatakan bahwa Allah “tinggal di antara mereka” (Evangelii Gaudium, 71) dan “Ia tidak menyembunyikan diri dari mereka yang mencari-Nya dengan hati tulus, meskipun mereka melakukan itu dengan ragu-ragu, dengan cara yang samar dan kebetulan” (Evangelii Gaudium, 71). Kehadiran inilah yang ingin diungkapkan oleh Paulus : “Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu” (Kis 17:23).

Untuk mengungkapkan jati diri Allah yang disembah oleh orang-orang Atena, para rasul mengawali dari penciptaan, yaitu, dari iman akan pewahyuan Allah dalam Kitab Suci, hingga penebusan dan penghakiman, yaitu pesan kristiani itu sendiri. Ia menunjukkan ketidak sebandingan antara kemegahan Sang Pencipta dan kuil-kuil yang dibangun oleh manusia, dan ia menjelaskan bahwa Sang Pencipta selalu menjadikan diri-Nya dicari sehingga setiap orang dapat menemukan-Nya. Dengan demikian, menurut ungkapan indah Paus Benediktus XVI, Paulus “memberitakan Dia yang ditolak manusia, tetapi dikenal : Yang Tak Diketahui-Dikenal” (Benediktus XVI, Pertemuan dengan Dunia Kebudayaan di Kolese Bernardin, 12 September 2008). Kemudian ia mengundang semua orang untuk melampaui “masa ketidaktahuan” dan memutuskan untuk bertobat mengingat penghakiman yang akan segera terjadi. Dengan demikian, Paulus sampai pada kerigma dan menyinggung tentang Kristus, tanpa menyebut-Nya, menggambarkan-Nya sebagai “manusia yang ditentukan oleh Allah, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati” (Kis 17:31) .

Dan inilah masalahnya. Kata-kata Paulus, yang hingga kini telah menahan lawan bicaranya dengan napas yang tertahan – karena kata-kata tersebut adalah penemuan yang menarik, bertemu dengan batu sandungan : wafat dan kebangkitan Kristus tampaknya “bodoh” (1Kor 23) serta membangkitkan cemoohan dan ejekan. Maka Paulus pergi : usahanya tampak gagal; namun, beberapa orang melekat pada kata-katanya dan membuka diri terhadap iman, di antaranya seorang pria, Dionisius, anggota majelis Areopagus, dan seorang wanita, Damaris. Di Atena juga Injil berakar dan berjalan dengan dwisuara : suara pria dan suara wanita!

Marilah hari ini kita juga memohon kepada Roh Kudus untuk mengajar kita membangun jembatan dengan budaya, dengan orang-orang yang tidak percaya atau memiliki kepercayaan yang berbeda dari kita. Senantiasa membangun jembatan, senantiasa <memiliki> tangan yang terulur, tidak ada permusuhan. Marilah kita mohon kepada-Nya kemampuan untuk berinkulturasi dengan kelezatan pesan iman, menempatkan orang-orang yang tidak mengenal Kristus sebagai pandangan kontemplatif, tergerak oleh kasih yang menghangatkan hati yang paling keras sekalipun.

[Sambutan dalam bahasa Italia]

Sambutan hangat tertuju kepada para peziarah berbahasa Italia. Saya menyambut para Dominikan dari Yang Dikandung Tanpa Noda; Para Rasul Hati Kudus Yesus dan kelompok-kelompok paroki, khususnya Paroki Andria dan Paroki San Ferdinando Puglia. Selain itu, saya menyambut pertahanan kelompok olahraga Grande Termoli; dan sekolah dasar Rimini dan Riccione.

Akhirnya, saya menyapa kaum muda, kaum tua, orang-orang sakit dan para pengantin baru. Semoga bulan November, yang didedikasikan untuk mengenang dan mendoakan orang-orang yang telah meninggal menjadi segala kesempatan memikirkan makna keberadaan manusia dan kehidupan kekal. Semoga saat ini menjadi dorongan untuk memahami bahwa hidup memiliki nilai yang besar jika dijalani sebagai karunia, tidak hanya untuk diri sendiri tetapi untuk Allah dan sesama kita.

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

Saudara-saudari yang terkasih : Dalam katekese kita tentang Kisah Para Rasul, kita sekarang melihat Rasul Paulus berkhotbah di depan Areopagus, Atena, ibu kota budaya dunia kafir. Di sebuah kota yang dipenuhi berhala, Paulus memberitakan Injil dengan mengaitkannya pada keyakinan para pendengarnya dan keinginan mereka untuk mengetahui kebenaran. Melihat sebuah altar yang didedikasikan untuk “Allah yang tidak dikenal”, Paulus menyatakan bahwa Allah, Pencipta dunia yang transenden, memang telah menjadikan diri-Nya dikenal, dan mengutus Putra-Nya di antara kita dengan memanggil semua orang untuk bertobat dan dipenuhi kebenaran. Namun ketika Paulus mulai berbicara tentang wafat dan kebangkitan Kristus, para pendengarnya kehilangan minat. Misteri salib, yang di dalamnya hikmat dan kuasa Allah dinyatakan, muncul sebagai kebodohan di mata orang-orang Yunani (bdk. 1Kor 1:23). Namun pemberitaan Paulus menghasilkan buah dalam pertobatan beberapa orang Atena, termasuk Dionisius, anggota majelis Areopagus, dan Damaris. Ketika kita memikirkan budaya kita sendiri, semoga kita, seperti Paulus, peka terhadap kerinduan terdalam dari orang-orang terhadap pemaparan misteri Kristus dan kasih-Nya yang menyelamatkan.

Saya menyambut semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, terutama yang berasal dari Inggris, Skotlandia, Malta, Zimbabwe, India, Indonesia, Israel, Malaysia, Filipina dan Amerika Serikat. Atas kalian semua, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Tuhan memberkati kalian!

( Peter Suriadi – Bogor, 6 November 2019 )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *