Wejangan PAUS FRANSISKUS dalam Audiensi Umum, 13 November 2019

Wejangan PAUS FRANSISKUS dalam Audiensi Umum, 13 November 2019 : Tentang Kisah Para Rasul (18:1-3) – bagian 15

(https://katekesekatolik.blogspot.com/2019/11/wejangan-paus-fransiskus-dalam-audiensi_13.html)

Saudara-saudari yang terkasih, selamat pagi!

Audiensi ini dilakukan dalam dua kelompok : orang-orang sakit berada di Aula Paulus VI – saya bersama mereka, saya menyapa dan memberkati mereka; ada sekitar 250 orang. Mereka lebih nyaman di sana, mengingat hujan – dan kita di sini, tetapi mereka melihat kita di layar raksasa. Kita saling menyapa dalam dua kelompok dengan tepuk tangan.

Kisah Para Rasul menceritakan Paulus, penginjil yang tak kenal lelah bahwa ia, setelah tinggal di Atena, yang dicirikan oleh permusuhan tetapi juga oleh buah-buah seperti pertobatan Dionisius dan Damaris, meneruskan perjalanan biblisnya di dunia. Tahap baru perjalanannya adalah Korintus, ibukota provinsi Akaya, kota komersial dan kosmopolitan Romawi, berkat kehadiran dua pelabuhan penting.

Seperti yang kita baca dalam Kisah Para Rasul bab 18, Paulus menerima keramah tamahan di rumah pasutri Akwila dan Priskila (atau Priska), yang terpaksa pergi dari Roma ke Korintus setelah Kaisar Klaudius memerintahkan pengusiran orang-orang Yahudi (bdk. Kis 18:2). Saya ingin membuat tanda kurung <di sini>. Orang-orang Yahudi telah sangat menderita dalam sejarah. Mereka diusir, dianiaya … Dan di abad yang lalu, kita melihat begitu banyak, begitu banyak kebrutalan yang dilakukan terhadap orang-orang Yahudi dan kita semua yakin bahwa hal ini sudah berakhir. Namun, hari ini kelahiran kembali kebiasaan menganiaya orang Yahudi dimulai. Saudara-saudari, hal ini tidak manusiawi atau kristiani. Orang-orang Yahudi adalah saudara kita! Dan mereka tidak harus dianiaya. Mengerti?

Para pasutri ini [misalnya Akwila dan Priskila] menunjukkan bahwa mereka memiliki hati yang penuh iman kepada Allah dan murah hati terhadap orang lain, mampu memberikan ruang bagi orang yang, seperti mereka, mengalami kondisi orang asing. Kepekaan mereka menuntun mereka untuk tidak berpusat pada diri mereka sendiri untuk melaksanakan seni keramah tamahan kristiani (bdk. Rm 12:13; Ibr 13:2) dan membuka pintu rumah mereka untuk menerima Rasul Paulus. Jadi mereka tidak hanya menerima sang penginjil tetapi juga pemberitaan yang dibawanya dalam dirinya : Injil Kristus adalah “kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya” (Rm 1:16). Dan sejak saat itu rumah mereka dipenuhi dengan aroma Sabda yang “hidup” (Ibr 4:12), yang menggairahkan hati.

Akwila dan Priskila juga berbagi dengan Paulus kegiatan mata pencahariannya, yaitu keahlian membuat tenda. Faktanya, Paulus sangat menghargai pekerjaan tangan dan menganggapnya sebagai tempat yang istimewa bagi kesaksian kristiani (bdk. 1Kor 4:12), selain menjadi cara yang benar untuk menjaga diri sendiri tanpa menjadi beban bagi orang lain (bdk. 1Tes 2:9; 2Tes 3:8), atau bagi jemaat.

Rumah Akwila dan Priskila di Korintus tidak hanya membuka pintu bagi Rasul Paulus tetapi juga bagi saudara-saudari di dalam Kristus. Faktanya, Paulus dapat berbicara tentang jemaat yang berkumpul di rumah mereka (1Kor 16:19), yang menjadi “sebuah rumah Gereja”, “domus ecclesiae”, tempat mendengarkan Sabda Allah dan tempat merayakan Ekaristi. Hari ini juga, di beberapa negara di mana tidak ada kebebasan beragama dan tidak ada kebebasan bagi umat kristiani, Umat kristiani berkumpul di sebuah rumah, agak tersembunyi, untuk berdoa dan merayakan Ekaristi. Juga hari ini ada rumah-rumah ini, keluarga-keluarga ini yang menjadi tempat kudus untuk Ekaristi

Setelah satu setengah tahun tinggal di Korintus, Paulus meninggalkan kota itu bersama dengan Akwila dan Priskila, yang menetap di Efesus. Di sana juga rumah mereka menjadi tempat katekese (bdk. Kis 18:26). Akhirnya, pasutri tersebut kembali ke Roma dan merupakan para penerima pujian yang luar biasa yang dituliskan Rasul Paulus dalam Surat kepada jemaat di Roma. Ia memiliki hati yang bersyukur dan karena itu Paulus menulis tentang pasutri ini dalam Surat kepada jemaat di Roma. Dengarkanlah : “Sampaikan salam kepada Priskila dan Akwila, teman-teman sekerjaku dalam Kristus Yesus. Mereka telah mempertaruhkan nyawanya untuk hidupku. Kepada mereka bukan aku saja yang berterima kasih, tetapi juga semua jemaat bukan Yahudi” (16:3-4). Berapa banyak keluarga yang pada saat penganiayaan mengambil resiko kepala mereka untuk menyembunyikan orang yang dianiaya! Inilah contoh pertama : keramah tamahan keluarga, juga di saat-saat yang mengerikan.

Di antara banyak rekan kerja Paulus, Akwila dan Priskila muncul sebagai “model kehidupan suami-istri yang dilakukan secara bertanggung jawab untuk melayani seluruh jemaat kristiani : dan mereka mengingatkan kita bahwa, berkat iman dan keteguhan hati dalam penginjilan yang dilakukan oleh begitu banyak umat awam, seperti mereka, kekristenan telah turun kepada kita. Sebenarnya, “berakar di tanah rakyat, mengembangkan secara mendalam, keteguhan hati keluarga-keluarga ini diperlukan. Tetapi pikirkan bahwa sejak awal agama Kristen diberitakan oleh kaum awam. Kamu kaum awam juga bertanggung jawab, melalui baptisan mu, untuk mengembangkan iman. Adalah keteguhan hati dari begitu banyak keluarga, pasutri ini, jemaat kristiani ini, umat awam yang menawarkan ‘humus“ untuk pertumbuhan iman” (Benediktus XVI, Katekese, 7 Februari 2007). Ungkapan Paus Benediktus XVI ini indah: umat awam memberi humus bagi pertumbuhan iman.

Marilah kita memohon kepada Bapa, yang memilih menjadikan pasutri “seni pahat”-Nya yang sungguh hidup (Seruan Apostolik Amoris Laetitia, 11) – saya percaya ada pengantin baru di sini : dengarkanlah panggilanmu, kamu harus menjadi seni pahat yang sungguh hidup – untuk mencurahkan Roh-Nya kepada semua pasutri kristiani sehingga, berlandaskan teladan Akwila dan Priskla, mereka dapat membuka pintu hati mereka terhadap Kristus dan terhadap saudara-saudara mereka dan mengubah rumah mereka menjadi gereja-gereja rumah tangga. Kata yang indah: rumah adalah gereja rumah tangga, di mana persekutuan dihidupkan dan ibadat dipersembahkan dari sebuah kehidupan yang dihayati dengan iman, harapan, dan amal kasih. Kita harus berdoa kepada kedua orang kudus ini, Akwila dan Priska agar mereka mengajari keluarga-keluarga kita untuk menjadi seperti mereka : sebuah gereja rumah tangga di mana ada humus sehingga iman bertumbuh.

[Sambutan dalam bahasa Italia]

Sambutan hangat tertuju kepada para peziarah berbahasa Italia. Secara khusus, saya menyambut para Suster Misionaris Santo Charles Borromeo (Scalabrinian), yang sedang mengadakan Kapitel Umum, dan saya mendorong mereka untuk lebih mementingkan karisma mereka untuk melayani Gereja. Saya menyapa Asisten Rohani dari Ordo Fransiskan Sekuler; Misionaris Pria dan Wanita Salesian; para peserta dalam Sidang Operator Bersama Guanelliani Sedunia dan kelompok-kelompok paroki, khususnya Paroki Canosa Puglia. Selain itu, saya menyambut Federasi Sekolah Pembibitan Italia, Lembaga Adisco; pekerja kesehatan diabetologi dan Lembaga Para Ahli Masak Italia.

Akhirnya, saya menyapa kaum muda, kaum tua, orang-orang sakit dan para pengantin baru, khususnya pasangan muda dari Keuskupan Fabriano-Matelica. Saya mengundang kalian semua untuk mendoakan Perjalanan Kerasulan saya yang akan datang ke Thailand dan Jepang, agar Tuhan sudi menganugerahkan kepada umat lawatan karunia kasih karunia yang berlimpah.

[Seruan Bapa Suci]

Secara khusus saya memikirkan Burkina Faso yang terkasih, selama beberapa waktu dicobai dengan kekerasan berulang dan di mana baru-baru ini sebuah serangan menelan korban hampir seratus orang. Saya percayakan kepada Tuhan semua korban, yang terluka, banyak pengungsi dan semua yang menderita karena tragedi ini. Saya memohonkan adanya perlindungan terhadap orang yang paling rentan; dan saya mendorong pihak penguasa sipil dan keagamaan serta semua orang yang digerakkan oleh niat baik untuk melipatgandakan upaya mereka dalam semangat Dokumen Abu Dhabi tentang Persaudaraan Manusia, mengembangkan dialog dan kerukunan antar agama.

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

Saudara-saudari yang terkasih : Dalam katekese lanjutan kita tentang Kisah Para Rasul, kita sekarang melihat Santo Paulus disambut di Korintus oleh pasangan suami istri yang saleh, Akwila dan Priskila, yang, seperti Rasul Paulus, adalah pembuat tenda untuk diperdagangkan. Pasutri ini – penuh iman kepada Allah dan murah hati kepada orang lain – adalah paradigma keramah tamahan kristiani; dengan membuka rumah mereka bagi Rasul Paulus, mereka juga merangkul Injil yang hendak ia wartakan. Sebagai tempat pertemuan umat kristen perdana di Korintus, rumah mereka menjadi “gereja rumah tangga” yang sesungguhnya. Ketika Paulus meninggalkan Korintus menuju Efesus, mereka terus menemaninya dalam pelayanannya, dan kemudian kembali ke Roma. Sebagai model kehidupan pernikahan kristiani, Akwila dan Priskila juga mengingatkan kita tentang banyak keluarga yang, dengan iman dan upaya mereka untuk memberitakan Kabar Baik, telah, di setiap generasi, membuka hati mereka terhadap Kristus dan menjadikan rumah mereka tempat persekutuan dan penyembahan kepada Allah dalam iman, harapan dan amal kasih.

Saya menyambut para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, terutama kelompok-kelompok dari Inggris, Denmark, Australia, Malaysia, dan Amerika Serikat. Atas kalian semua, dan keluarga kalian, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Semoga Allah memberkati kalian!

( Peter Suriadi – Bogor, 13 November 2019 )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *