Sabda Bahagia Bagian 3

Wejangan Paus Fransiskus Dalam Audiensi Umum 12 Februari 2020: Tentang Sabda Bahagia (Mat 5:1-12) – Bagian 3

(https://katekesekatolik.blogspot.com/2020/02/wejangan-paus-fransiskus-dalam-audiensi_12.html)

Saudara-saudari yang terkasih, selamat pagi!

Kita telah melakukan perjalanan dalam Sabda Bahagia dan hari ini kita berhenti sejenak pada Sabda Bahagia yang kedua : “Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur” (Mat 5:4).

Dalam bahasa Yunani, bahasa asli Injil, Sabda Bahagia ini diungkapkan dengan sebuah kata kerja yang bukan berbentuk pasif – sesungguhnya, orang-orang yang berbahagia tidak dirundung dukacita ini – tetapi dalam bentuk aktif : mereka menderita. ”Mereka berdukacita tetapi dari dalam diri. Sikap yang menjadi pusat dalam spiritualitas kristiani dan yang oleh para Bapa Padang Gurun, para rahib perdana dalam sejarah, disebut “penthos”, suatu kesedihan batin yang membuka suatu hubungan dengan Tuhan dan dengan sesama kita – menuju suatu hubungan yang diperbarui dengan Tuhan dan dengan sesama kita.

Dalam Kitab Suci, dukacita ini dapat memiliki dua segi : segi yang pertama adalah karena kematian atau penderitaan seseorang. Segi lainnya adalah air mata karena dosa – karena dosa kita, ketika hati berdarah karena telah menyinggung perasaan Allah dan sesama. Oleh sebab itu, perihal mengasihi sesama sedemikian rupa dengan maksud mengikatkan diri kita kepadanya untuk ambil bagian dalam rasa sakitnya. Ada orang-orang yang tetap nun jauh, mundur selangkah. Sebaliknya,orang lain menerobos hati kita adalah penting.

Saya sering berbicara tentang karunia air mata, dan betapa berharganya karunia tersebut.  Bisakah kita mengasihi tanpa kehangatan? Bisakah kita mengasihi karena jabatan, karena tugas? Tentu tidak; ada orang yang menderita untuk menghibur, tetapi kadang-kadang ada juga orang yang terhibur yang akan menderita, untuk membangunkan orang-orang yang tidak dapat digerakkan oleh rasa sakit orang lain.

Misalnya, dukacita adalah suatu jalan yang pahit, tetapi dapat bermanfaat untuk membuka mata tentang kehidupan serta tentang nilai sakral dan tak tergantikan dari setiap orang, dan pada saat itu kita menyadari betapa singkatnya waktu.

Ada makna kedua dari Sabda Bahagia yang berlawanan asas ini : menangisi dosa. Pentingnya untuk membuat perbedaan di sini : ada orang-orang yang marah karena mereka bersalah, tetapi ini adalah kesombongan. Sebaliknya, ada orang-orang yang menangisi kejahatan yang mereka perbuat, karena terenyahkannya kebaikan, karena terkhianatinya hubungan dengan Tuhan. Inilah orang-orang yang berdukacita karena tidak memiliki kasih, yang mengalir dari memiliki kehidupan sesama di dalam hatinya. Di sini kita menangis karena kita tidak bersesuaian dengan Tuhan, yang sangat mengasihi kita, dan pikiran tersebut menyedihkan kita karena kita tidak berbuat baik. Inilah perasaan dosa. Mereka berkata : “Aku telah melukai orang yang kukasihi”, dan hal ini menyakitkan sampai-sampai kita menangis. Allah berbahagia jika air mata ini tiba!

Inilah pokok kesalahan yang harus kita hadapi – sulit tetapi vital. Kita memikirkan air mata Santo Petrus, yang menuntunnya menuju suatu kasih yang baru dan lebih sungguh : suatu tangisan yang memurnikan, yang memperbarui. Petrus memandang Yesus dan menangis : hatinya diperbarui. Berbeda dengan Yudas, yang tidak terima akan kesalahan yang telah ia perbuat dan, hal yang buruk, bunuh diri. Memahami dosa adalah karunia Allah; memahami dosa adalah karya Roh Kudus. Kita sendiri tidak bisa memahami dosa. Memahami dosa adalah rahmat yang harus kita panjatkan. Tuhan, agar aku dapat memahami kejahatan yang telah kuperbuat atau yang dapat kuperbuat. Inilah karunia yang sangat luar biasa dan, setelah memahami hal ini, tibalah tangisan pertobatan.

Salah satu rahib perdana, Santo Efrem dari Siria, mengatakan bahwa suatu wajah yang bermandikan air mata sangatlah indah (bdk. Wejangan Pertapaan). Keindahan pertobatan, keindahan tangisan, keindahan penyesalan! Sebagaimana biasanya, kehidupan kristiani memiliki ungkapan yang terbaik dalam belas kasihan. Orang yang bijaksana dan berbahagia adalah orang yang menerima rasa sakit yang terkait dengan kasih, karena ia akan menerima penghiburan Roh Kudus yang merupakan kelembutan Allah, yang mengampuni dan membetulkan. Allah senantiasa mengampuni : jangan lupakan hal ini. Allah senantiasa mengampuni, bahkan dosa yang paling mengerikan sekalipun, senantiasa. Masalahnya ada pada kita, yang bosan untuk memohonkan pengampunan. Kita menutup diri dan tidak memohonkan pengampunan. Ini masalahnya, tetapi Ia ada di sana untuk mengampuni. Jika kita senantiasa tetap hadir agar Allah ”tidak melakukan kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak membalas kepada kita setimpal dengan kesalahan kita” (Mzm 103:10), kita hidup dalam belas kasihan dan kasih sayang, serta kasih muncul di dalam diri kita. Semoga Tuhan menganugerahkan kita untuk mengasihi dalam kelimpahan, mengasihi dengan senyuman, kedekatan, dengan pelayanan dan juga dengan air mata.

(Sambutan dalam bahasa Italia)

Sambutan hangat tertuju kepada umat berbahasa Italia. Secara khusus, saya menyambut para peserta dalam peziarahan para devosan Bait Kudus Gua Maria Loreto, bersama Sang Uskup Agung, Monsinyur Fabio Dal Cin; dan umat Keuskupan Agung Trani-Barletta-Bisceglie – ini hingar bingar! Mereka antusias! – dan umat Coldiretti San Ferdinando dari Puglia, didampingi oleh sang Uskup Agung, Monsinyur Leonardo D’Ascenzo. Selain itu, saya menyambut kelompok-kelompok paroki dan lembaga-lembaga pendidikan. Akhirnya, saya menyambut kaum muda, kaum lajut usia, orang-orang sakit dan para pengantin baru. Semoga Tuhan senantiasa mendukung kalian dengan rahmat-Nya, sehingga kalian dapat terus-menerus dalam pengharapan, setiap hari mempercayakan kepada Penyelenggaraan Ilahi.

(Seruan Bapa Suci)

Saya ingin kita semua pada saat ini mendoakan Suriah yang tercinta dan bermartir. Begitu banyak keluarga, begitu banyak kaum lanjut usia, anak-anak harus melarikan diri dari perang. Suriah telah berdarah selama bertahun-tahun. Marilah kita mendoakan Suriah.

Marilah kita juga mendoakan saudara-saudara kita rakyat Tiongkok yang menderita penyakit yang sangat kejam ini. Semoga cara penyembuhan ditemukan sesegera mungkin.

(Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur)

Saudara dan saudari yang terkasih : Dalam katekese lanjutan kita tentang Sabda Bahagia, kita sekarang beralih ke pemberitaan yang kedua : “Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur” (Mat 5:4). kesedihan semacam itu – digambarkan oleh para bapa padang gurun dengan kata Yunani “penthos” – lebih dari sekadar kesedihan : sebuah kesedihan batin yang dapat membuka diri kita menuju hubungan yang otentik dengan Tuhan dan dengan sesama. Kitab Suci berbicara tentang dua kesedihan semacam itu. Kesedihan yang pertama adalah rasa sakit yang kita rasakan ketika berhadapan dengan penderitaan atau kematian saudara-saudari kita. Kesedihan yang kedua melibatkan dukacita karena dosa. Keduanya berlandaskan kepedulian yang penuh kasih sayang terhadap sesama, tetapi yang terpenting adalah mengasihi Tuhan. Kesedihan karena dosa – seperti yang terlihat dalam air mata Santo Petrus setelah ia mengkhianati Yesus – muncul sebagai karunia Roh Kudus Sang Penghibur. Marilah kita senantiasa memohon rahmat untuk berdukacita atas dosa-dosa kita dan terbuka terhadap rahmat penyembuhan Roh Kudus, sehingga kita dapat menghibur sesama dengan penghiburan yang serupa dengan yang telah kita terima.

Saya menyambut para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, terutama kelompok-kelompok dari Inggris, Irlandia, Jepang, dan Amerika Serikat. Atas kalian semua dan keluarga-keluarga kalian, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Semoga Tuhan memberkati kalian!

(Peter Suriadi – Bogor, 12 Februari 2020)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *