Artikel

PAUS FRANSISKUS Memberkati Patung Beato Carlo Acutis

PAUS FRANSISKUS MEMBERKATI PATUNG BEATO CARLO ACUTIS YANG AKAN DIKIRIM KE KAIRO, MESIR

Pada hari Rabu, 18 Maret 2021 setelah Audiensi Umum mingguannya, Paus Fransiskus menerima keluarga Beato Carlo Acutis dalam sebuah audiensi pribadi di Istana Apostolik Vatikan. Kedua orangtua Acutis, Andrea dan Antonia, hadir untuk memberkati patung putra mereka yang baru saja dibeatifikasi, begitu pula kedua adik kembar Carlo, Francesca dan Michele.

Patung seukuran seorang Carlo Acutis muda diciptakan oleh Matteo dan Daniela Perathoner, seniman Italia utara yang mengkhususkan diri pada pembuatan salib kayu yang diukir dengan tangan. Patung tersebut menggambarkan sang beato muda tersebut sedang mengenakan kemeja polo berwarna merah dengan gambar Ekaristi yang terpancar dari hatinya dan sepatu tenis.

Dari usia 12 hingga 14 tahun, Acutis merancang situs web yang mendata mukjizat Ekaristi di seluruh dunia, yang ia luncurkan pada tahun 2005. Tetapi, setahun kemudian ia meninggal pada usia 15 tahun karena menderita leukemia. Pada saat sakitnya, ia mempersembahkan penderitaannya untuk Paus dan Gereja.

Acutis menjadi kaum milenial pertama yang dibeatifikasi oleh Gereja Katolik pada 10 Oktober 2020. Misa live streaming beatifikasinya di Asisi menjadi viral dengan ratusan ribu orang yang menontonnya secara daring.

Patung Acutis akan dikirim ke Oasis Panti Asuhan Pietà, sebuah prakarsa Lembaga Asosiasi Bambino Gesù Kairo, yang juga mengelola rumah sakit wanita dan anak-anak di ibu kota Mesir tersebut. Sebelumnya, menurut L’Osservatore Romano, Paus Fransiskus telah menyumbangkan salinan Pieta Michelangelo ke panti asuhan ini pada bulan Juni 2019.

Mgr. Yoannis Lahzi Gaid, ketua Lembaga Bambino Gesu Kairo dan mantan wakil sekretaris pribadi Paus, juga hadir pada audiensi pribadi dengan Paus Fransiskus tersebut, begitu pula kedua seniman dan Uskup Agung Domenico Sorrentino dari Asisi, tempat makam Acutis berada.

Pada 11 Oktober 2020 Paus Fransiskus mengatakan bahwa “anak laki-laki berusia 15 tahun yang jatuh cinta dengan Ekaristi” tersebut tidak “puas dengan kenyamanan tidak berbuat apa-apa, tetapi memahami kebutuhan pada masanya karena pada saat yang paling lemah ia melihat wajah Kristus”. “Kesaksiannya menunjukkan kepada kaum muda dewasa ini bahwa kebahagiaan sejati ditemukan dengan mengutamakan Allah dan melayani-Nya dalam diri saudara-saudari kita, terutama yang paling hina”, ujar Paus Fransiskus lebih lanjut.

( Peter Suriadi – Bogor, 20 Maret 2021 )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *