Mengangkat Baku Kemanusiaan Kita Dengan Mengasihi Dan Mengampuni Musuh - Paroki St. FRANSISKUS ASISI - Sukasari

Mengangkat Baku Kemanusiaan Kita Dengan Mengasihi Dan Mengampuni Musuh

Homili Paus Fransiskus Dalam Misa Hari Minggu Biasa VII Di Bari, Italia, 23 Februari 2020: Mengangkat Baku Kemanusiaan Kita Dengan Mengasihi Dan Mengampuni Musuh.

(https://pope-at-mass.blogspot.com/2020/02/homili-paus-fransiskus-dalam-misa-hari.html)

Bacaan Ekaristi : Im. 19:1-2,17-18; Mzm. 103:1-2,3-4,8,10,12-13; 1Kor. 3:16-23; Mat. 5:38-48.

Yesus mengutip hukum kuno : “Mata ganti mata dan gigi ganti gigi” (Mat 5:38; Kel 21:24). Kita tahu apa arti hukum tersebut : ketika seseorang mengambil sesuatu dari dirimu, kamu harus mengambil hal yang sama darinya. Hukum pembalasan ini sebenarnya merupakan suatu tanda kemajuan, karena mencegah pembalasan yang berlebihan. Jika seseorang berbuat jahat kepadamu, maka kamu dapat membalasnya dengan kadar yang sama; kamu tidak dapat melakukan sesuatu yang lebih buruk. Mengakhiri persoalan di sana, dalam suatu pertukaran yang adil, adalah sebuah langkah maju.

Tetapi Yesus jauh melampaui hal ini : “Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu” (Mat 5:39). Tetapi bagaimana, Tuhan? Jika seseorang berpikir buruk tentang aku, jika seseorang menyakitiku, mengapa aku tidak bisa membalasnya dengan perlakuan yang sama? “Tidak”, kata Yesus. Tanpa kekerasan. Tidak ada tindak kekerasan.

Kita mungkin berpikir bahwa ajaran Yesus adalah bagian dari sebuah rencana; pada akhirnya, orang fasik akan terhenti. Tetapi itu bukan alasan mengapa Yesus meminta kita untuk mengasihi bahkan orang-orang yang berbuat jahat kepada kita. Lalu, apa alasannya? Alasannya karena Bapa, Bapa kita, terus mengasihi semua orang, bahkan ketika kasih-Nya tidak terbalaskan. Bapa “menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (ayat 45). Dalam Bacaan Pertama hari ini, Ia mengatakan kepada kita, “Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan, Allahmu, kudus” (Im 19:2). Dengan kata lain : “Hiduplah seperti Aku, usahakanlah hal-hal yang Kuusahakan”. Dan itulah persisnya yang dilakukan Yesus. Ia tidak mengacungkan jari pada orang-orang yang salah menghukum-Nya dan menempatkan-Nya pada kematian yang kejam, tetapi merentangkan tangan-Nya bagi mereka di kayu salib. Dan Ia mengampuni orang-orang yang memaku pergelangan tangan-Nya (bdk. Luk 23:33-34).

Jika kita ingin menjadi murid-murid Kristus, jika kita ingin menyebut diri kita umat Kristiani, inilah satu-satunya cara; tidak ada cara lain. Setelah dikasihi Allah, kita dipanggil untuk mengasihi sebagai balasannya; setelah diampuni, kita dipanggil untuk mengampuni; setelah tersentuh oleh kasih, kita dipanggil untuk mengasihi tanpa menunggu orang lain mengasihi terlebih dahulu; setelah diselamatkan secara cuma-cuma, kita dipanggil untuk tidak mencari imbalan atas kebaikan yang kita lakukan. Kamu mungkin secara fasih berkata, “Tetapi Yesus berjalan terlampau jauh! Ia bahkan mengatakan : ‘Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu’ (Mat 5:44). Tentunya Ia berbicara seperti ini untuk mendapatkan perhatian orang-orang, tetapi Ia tidak benar-benar memaksudkannya”. Tetapi Ia benar-benar melakukannya. Di sini Yesus tidak berbicara dalam paradoks atau menggunakan peralihan frasa yang bagus. Ia berbicara langsung dan gamblang. Ia mengutip hukum kuno dan dengan sungguh-sungguh memberitahu kita : “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu”. Perkataan-Nya disengaja dan tepat.

Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Inilah inovasi Kristiani. Itulah perbedaan umat Kristiani. Doa dan kasih : inilah yang harus kita lakukan; dan tidak hanya berkenaan dengan orang-orang yang mengasihi kita, tidak hanya berkenaan dengan sahabat-sahabat kita atau orang-orang kita sendiri. Kasih Yesus tidak mengenal batas atau rintangan. Tuhan menuntut kita berani memiliki kasih tanpa pamrih. Karena ukuran Yesus adalah kasih tanpa batas. Berapa kali kita mengabaikan permintaan itu, berperilaku seperti orang lain! Namun perintah kasih-Nya bukan sekadar tantangan; perintah kasih-Nya adalah pokok Injil. Keprihatinan terhadap perintah kasih universal janganlah membuat kita menerima berbagai alasan atau memberitakan kewaspadaan. Tuhan tidak berwaspada; Ia tidak tunduk pada berbagai kompromi. Ia meminta kita ekstremisme amal kasih. Inilah satu-satunya jenis ekstremisme Kristiani yang sah: ekstremisme kasih.

Kasihilah musuhmu. Kita melakukannya dengan baik hari ini, pada Misa dan sesudahnya, mengulangi kata-kata ini untuk diri kita sendiri dan menerapkannya pada orang-orang yang memperlakukan kita dengan buruk, yang menjengkelkan kita, yang sulit kita terima, yang mengganggu ketenangan kita. Kasihilah musuhmu. Kita juga sebaiknya bertanya kepada diri kita sendiri : “Apa yang benar-benar menjadi keprihatinanku dalam kehidupan ini? Musuh-musuhku, atau orang-orang yang membenciku? Atau kasih?”. Jangan mengkhawatirkan kejahatan orang lain. orang-orang yang berpikir buruk tentang kamu. Sebaliknya, mulailah melucuti hatimu demi mengasihi Yesus. Mereka yang mengasihi Allah tidak memiliki musuh di dalam hati mereka.

Menyembah Allah bertentangan dengan budaya kebencian. Dan budaya kebencian diperangi dengan memerangi kegemaran berkeluh kesah. Berapa kali kita berkeluh kesah tentang hal-hal yang bukan urusan kita, tentang hal-hal yang berjalan keliru! Yesus tahu tentang semua hal yang tidak berjalan baik. Ia tahu bahwa akan selalu ada seseorang yang tidak menyukai kita. Atau seseorang yang menyengsarakan hidup kita. Yang Ia minta kita lakukan hanyalah berdoa dan mengasihi. Inilah revolusi Yesus, revolusi terbesar dalam sejarah : dari membenci musuh kita menjadi mengasihi musuh kita; dari kegemaran berkeluh kesah menjadi budaya karunia. Jika kita milik Yesus, inilah cara yang harus kita ambil! Tidak ada cara lain.

Cukup masuk akal, kamu dapat mengajukan keberatan : “Aku memahami keagungan cita-cita tersebut, tetapi itu bukan bagaimana sesungguhnya kehidupan! Jika aku mengasihi dan mengampuni, aku tidak akan bertahan di dunia ini, di mana nalar kekuasaan berlaku dan orang-orang tampaknya hanya mementingkan diri sendiri”. Apakah demikian nalar Yesus, cara Ia memandang sesuatu, nalar para pecundang? Di mata dunia, memang demikian, tetapi di mata Allah, nalar Yesus adalah nalar para pemenang. Seperti dikatakan Santo Paulus dalam Bacaan Kedua : “Janganlah ada orang yang menipu dirinya sendiri … Karena hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah” (1Kor 3:18-19). Allah melihat apa yang tidak bisa kita lihat. Ia tahu bagaimana cara untuk menang. Ia tahu bahwa kejahatan hanya bisa ditaklukkan oleh kebaikan. Begitulah cara Ia menyelamatkan kita : bukan dengan pedang, tetapi dengan salib. Mengasihi dan mengampuni berarti hidup sebagai seorang penakluk. Kita akan kalah jika kita mempertahankan iman dengan kekuasaan.

Kepada kita Tuhan akan mengulangi perkataan yang Ia sampaikan kepada Petrus di Taman Getsemani : “Sarungkan pedangmu itu” (Yoh 18:11). Di Taman Getsemani dewasa ini, di dunia kita yang acuh tak acuh dan tidak adil yang tampaknya memberi kesaksian tentang susah payahnya pengharapan, orang Kristiani tidak bisa seperti para murid yang pertama-tama mengambil pedang dan kemudian melarikan diri tersebut. Tidak, penyelesaiannya adalah tidak menarik pedang kita bagi orang lain, atau melarikan diri dari zaman yang di dalamnya kita hidup. Penyelesaiannya adalah cara Yesus : kasih yang aktif, kasih yang rendah hati, kasih “sampai kepada kesudahannya” (Yoh 13:1).

Saudara dan saudari yang terkasih, hari ini Yesus, dengan kasih-Nya yang tak terbatas, mengangkat baku kemanusiaan kita. Pada akhirnya, kita dapat bertanya pada diri sendiri : “Apakah kita mampu mewujudkannya?” Jika pada akhirnya tidak mungkin terjadi, Tuhan tidak akan meminta kita untuk memperjuangkannya. Dengan usaha kita sendiri, sulit untuk mencapai; perlu dimohonkan rahmat. Mintalah kekuatan untuk mengasihi Allah. Katakan kepada-Nya: “Tuhan, tolong aku untuk mengasihi, ajari aku untuk mengampuni. Aku tidak bisa melakukannya sendiri, aku membutuhkan Engkau”. Tetapi kita juga harus memohon rahmat untuk dapat melihat orang lain bukan sebagai rintangan dan kesukaran, tetapi sebagai saudara dan saudari yang harus dikasihi. Betapa sering kita berdoa untuk bantuan dan pertolongan bagi diri kita sendiri, namun betapa jarangnya kita berdoa untuk mempelajari cara mengasihi! Kita perlu lebih sering mendoakan rahmat untuk menghayati intisari Injil, untuk menjadi benar-benar kristiani. Karena “di senja kehidupan, kita akan dihakimi berdasarkan kasih” (Santo Yohanes dari Salib, Pepatah Terang dan Kasih, 57).

Hari ini marilah kita memilih kasih, berapa pun biayanya, bahkan jika memilih kasih berarti melawan arus. Janganlah kita takluk pada pemikiran dunia ini, atau memuaskan diri kita dengan setengah ukuran. Marilah kita menerima tantangan Yesus, tantangan amal kasih. Maka kita akan menjadi umat Kristiani yang sejati dan dunia kita akan menjadi lebih manusiawi.

(Peter Suriadi – Bogor, 23 Februari 2020)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *