Mendobrak Keterbatasan Menuju Harapan

Kalau ada ajang penghargaan untuk kategori ‘Tahun Ter-Luar Biasa’, saya yakin semua orang akan setuju bahwa 2020 ini patut jadi juaranya. Ramai-ramai orang mengharapkan nasib baik dari tahun dengan ‘angka cantik’ ini. Tapi nyatanya, 2020 ini membawa dampak yang lain. Ia istimewa, namun bukan dalam cara yang diharapkan. Hampir seluruh penduduk dunia dari segala usia, bangsa, dan status sosial, terkena dampak dari pandemi COVID-19 yang menjadi highlight dari tahun 2020 ini.

Para OMK juga tidak luput dari beragam konsekuensinya. Kebutuhan kaum muda untuk berjumpa dan bersosialisasi harus dicukupkan melalui pertemuan-pertemuan melalui media virtual seperti Zoom atau Google Meet. Kesulitan-kesulitan pun muncul. Proses belajar menjadi kurang efektif, lowongan kerja dan peluang bisnis menyempit, perkumpulan di Gereja ditiadakan, rasa frustrasi karena tidak bisa hang out dan travelling dengan bebas pun menghantui.

Namun di balik keluh kesah dan keterbatasan-keterbatasan itu, harapan tetap selalu ada. Tak henti-hentinya Roh Kudus menginspirasi dan menggerakkan hati para kaum muda untuk tetap berjalan dan melampaui segala tantangan.

Tidak Berhenti Bergerak

Bersama dengan beberapa pastor dan teman-teman OMK Keuskupan Bogor, saya memulai gerakan #JalanBersama OMK. Gerakan ini terinspirasi dari semangat Sinode II Keuskupan Bogor yang menekankan semangat Sukacita, Injili, Sederhana, dan Misioner. Sinode OMK telah membangkitkan kesadaran bahwa identitas kami sebagai OMK tidak hanya melekat pada saat kami ikut serta dalam kegiatan di Gereja, melainkan juga dalam setiap hal yang kami lakukan dalam hidup sehari-hari. Oleh karena itu, dalam masa-masa krisis yang dihadapi dunia saat inilah, justru kami dipanggil untuk keluar dan membawa Kabar Sukacita kepada lebih banyak orang.

Melalui platform Kitabisa.com, kami membuka laman penggalangan dana untuk menghimpun donasi. Para frater dari Seminari Tinggi Santo Petrus-Paulus Keuskupan Bogor juga turut memberi dukungan dengan mengadakan konser daring dalam rangka mengumpulkan lebih banyak donasi. Gerakan ini disambut baik tidak hanya oleh para OMK, namun juga umat umum yang ikut memberikan sumbangan. Dalam waktu 25 hari, kami berhasil mengumpulkan Rp 45.913.885 dari 214 donatur.

Seluruh dana yang terkumpul melalui penggalangan dana ini kami salurkan kepada beberapa organisasi yang telah lebih dulu bergerak melakukan aksi-aksi peduli COVID-19. Salah satunya adalah kepada Biro Caritas Keuskupan Bogor(Carior). Selain kepada Carior, dana juga diberikan kepada Impact Lives Project yang diinisiasi oleh dua OMK Paroki St. Fransiskus Asisi-Sukasari, yakni Handy Santoso dan Gladysa Valerie. Dana yang diperoleh pun digunakan Carior dan Impact Lives Project untuk mendukung proses pengadaan APD serta kebutuhan pangan dasar bagi saudarasaudara kita yang membutuhkan.

Teman-teman OMK dari paroki-paroki lain serta Gereja Mahasiswa St. Thomas Aquinas Keuskupan Bogor juga melakukan gerakan serupa. Adanya kebijakan-kebijakan pembatasan sosial bukan menjadi halangan bagi OMK untuk tetap aktif dan berkontribusi menyebarkan kebaikan di masa-masa sulit. Dengan tetap menaati protokol kesehatan, OMK tidak berhenti bergerak dengan caranya masing-masing.

Harapan Pada Janji Tuhan

Selain perbuatan amal kasih berbagi perlengkapan dan makanan, hidup doa dan persekutuan juga tidak luput dari perhatian OMK. Pertemuan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) dan doa Rosario bersama para kaum muda Katolik dari berbagai negara menjadi bentuk-bentuk upaya OMK untuk tetap merawat optimisme di masa-masa sulit.

Kehadiran pandemi COVID-19 yang mengharuskan kita untuk membuat begitu banyak perubahan dalam rencana maupun gaya hidup mungkin sempat melemahkan semangat kita. Namun demikian, dengan menilik aksi-aksi yang dilakukan OMK selama masa pandemi tersebut, kita dapat menyuburkan kembali harapan kita untuk menjelang tahun yang baru. Masalah dan tantangan hidup akan selalu ada; pandemi hanya salah satu bentuknya. Tanggapan kita terhadap kesulitan-kesulitan itulah justru yang penting: apakah kita hanya mau berdiam diri mengutuki keadaan, atau justru memanfaatkan apapun yang kita punya saat ini dengan sebaik-baiknya.

Allah tidak pernah ingkar janji. Penyertaan yang dijanjikan-Nya tidak berubah dari dulu, sekarang, hingga nanti. Karena penyertaan-Nya inilah, kita dimampukan untuk bertahan dan melampaui setiap keterbatasan yang kita khawatirkan. Kita juga bisa belajar dari kisah Nabi Yeremia yang disoroti dalam Pesan Natal 2020 dari PGI dan KWI. Keraguan akan dirinya yang masih muda dan tidak cakap berbicara akhirnya dikalahkan oleh kepercayaan Nabi Yeremia akan janji penyertaan Tuhan. Dengan sikap hati yang sama, semoga kita pun tetap dapat melihat hari-hari depan dengan penuh semangat dan harapan.

OMK, jangan kasih kendor!

( Mentari )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *