ArtikelSajian Utama

Membaca, Kegiatan Sederhana Dengan Manfaat Luar Biasa

Buku adalah mesin waktu, yang membawa kita ke masa lalu dan ke masa depan ketika kita berada di masa kini.

Buku adalah jendela dunia, yang mengajak kita ke tempat-tempat terindah di dunia, ke tempat-tempat terjauh, ke tempat-tempat luar biasa, ke dasar laut, ke dalam bumi, dan ke angkasa luar.

Buku mengajari kita tentang perbedaan, empati, dan toleransi, yang memberanikan kita berkenalan dengan orang-orang di berbagai belahan dunia, berbagai suku, berbagai ras, berbagai agama, memahami ragam budaya dan adat istiadatnya, mendorong kita masuk ke pemikiran orang lain, ke perasaan orang lain, ke kehidupan orang lain.

Buku adalah alam, memperkenalkan kita kepada keajaiban alam, keindahan alam, kekuatan alam, terus menerus mengingatkan akan kedahsyatan Sang Pencipta alam semesta, mengajak Anda untuk terus memuji dan mengucap syukur atas kebesaranNya, melihat begitu kompleks ciptaanNya, hewan, tumbuhan

Buku adalah kehidupan…

Library!” Itu adalah jawaban atau lebih tepatnya teriakan gembira dari kedua anak sepupu saya yang tinggal di Singapura ketika saya menelpon dan menanyakan apa rencana mereka akhir pekan ini. Ke perpustakaan? Really? Bukannya ke mall? Atau bermain gadget sepuasnya seperti kebanyakan anak-anak lain? Antusisme si sulung, Emerson, 7 tahun dan si bungsu, Esmeralda, 5 tahun, untuk mengunjungi perpustakaan sungguh mengagetkan saya.

Bukannya tanpa alasan kenapa saya kaget mendengar jawaban mereka. Di tengah-tengah gempuran teknologi digital saat ini, anak-anak seusia mereka dan mungkin hampir segala usia, lebih sering terpaku dengan gadget dibanding dengan membaca buku. Game online, Facebook, Instagram, Twitter, YouTube, Whatsapp, Telegram, Tiktok, news live streaming, berita online menguasai sebagian besar waktu para pemilik gadget. Coba deh perhatikan, di mana-mana banyak orang menunduk, terpaku pada gadgetnya. Tenggelam dalam dunianya sendiri. Seringkali tanpa mengindahkan bahaya dan mengabaikan keselamatan. Pernah kan melihat orang tetap menunduk melihat smartphone-nya ketika menyebrang jalan? Atau saat mengendarai motor? Atau sambil menyetir mobil? Kegiatan membaca buku dan mengunjungi perpustakaan menjadi sesuatu yang terkesan kuno dan ketinggalan jaman.

“Emer dan Esme memang senang sekali ke perpustakaan. Semakin dekat ke akhir pekan, semakin tidak sabar mereka. Tidak hanya membaca buku, Emer sering mengerjakan pekerjaan rumahnya di sana. Esme juga membawa buku mewarnai dan koleksi pensil warnanya.” Sepupu saya menjelaskan. “It’s easier for me to do my homework there, auntie. Library is a great place. I like it!” Suara Emer terdengar di latar belakang. “Colorful place!”, Esme menambahkan dengan suara cemprengnya. Sepupu saya tertawa dan menjelaskan “Maksud Esme banyak sekali buku. Dan ilustrasi sampulnya kan bermacam-macam warna dan gambar, apalagi di bagian anak-anak. Sebenarnya bukan hanya mereka yang menikmati saat-saat di perpustakaan, lho! Papa mamanya juga ada kesempatan untuk membaca buku dan bersantai. Beneran family time, deh!” Ajaib keluarga kecil sepupu saya ini! Kalau dipikir-pikir, kecintaan Emer dan Esme terhadap buku dan perpustakaan diturunkan dari kedua orang tuanya. Sepupu saya dan istrinya memang kutu buku kelas berat (banget) sejak dulu. Ditambah lagi mereka tinggal di Singapura dengan banyak perpustakaan umum dan toko bukunya.

Lalu kenapa ya di jaman now kok semakin banyak orang yang malas membaca buku?  “Ngantuk!” Jawaban umum kebanyakan teman-teman saya jika ditanya mengapa mereka tidak suka membaca buku. Jawaban umum lainnya, “Bosan. Apalagi kalau bukunya tebal. Kayaknya kok lama banget selesainya” Dan jawaban yang paling kekinian dan diamini oleh banyak orang adalah “Kan sudah ada smartphone. Semua bisa dilihat di situ. Mau cari informasi apapun juga kan tinggal Google. Lebih praktis. Singkat. Gak makan waktu kayak baca buku. Ngapain lagi baca buku? Ya kan?” Ya iya juga, sih! Tapi….

Membaca Jaman Old vs. Membaca Jaman Now

Secara garis besar, orang-orang jaman now apa-apa maunya serba cepat, serba instan karena begitulah tuntutan jaman dan gaya hidup masa kini. Bagi kebanyakan orang membaca buku dianggap membuang waktu. Sebenarnya apa yang membedakan antara membaca jaman now dan membaca jaman old? Kan sama-sama melihat rangkaian huruf, kata-kata, dan kalimat? Paling-paling cuma pilihan media dan alatnya saja yang semakin beragam. Di jaman now ini kita bisa memilih untuk membaca bahan yang dicetak di atas kertas, atau bisa memilih yang elektronik, bahkan bisa memilih yang menggunakan suara alias ada yang bacain.

Saya jadi teringat jaman dulu sekali (pake banget) saat saya masih kecil, saya sudah akrab dengan buku-buku. Ibu saya mengajarkan saya membaca saat saya berumur 3 tahun. Sejak saat itu saya menjadi si kutu buku sampai sekarang. Hal yang paling menggembirakan bagi saya adalah setumpuk buku dongeng anak-anak dan waktu untuk membaca. Begitu waktu membaca tiba, saya tenggelam dalam buku, benar-benar larut dalam cerita yang ada di dalam buku. Saya hilang masuk ke dunia yang ada di dalam buku. Dunia nyata di sekitar saya seolah hilang, berganti dengan dunia dongeng petualangan, kerajaan, binatang, tanaman, tempat-tempat di berbagai belahan dunia, dan masih banyak dunia ‘lain’ yang menakjubkan. Terus terang saya sih curiga ini akal-akalan ibu saya saja kali ya? Jadi begitu saya hilang tenggelam dalam buku, beliau bisa mengerjakan tugas-tugas rumah tangga dengan tenang, tanpa diganggu seorang anak kecil berisik yang terus menerus bertanya dan mengoceh. Hahahaha! Just kidding, mom!

Tadi saya cerita kan kalau saya hilang dan larut masuk ke dunia yang ada di dalam buku? Masa itu tidak ada internet, tidak ada laptop, tidak ada tablet, tidak ada smartphone. Hiburannya ya cuma main, nonton televisi kalau diijinkan, dan baca buku. Jadoel banget ya? Itulah kenapa saya bisa benar-benar tenggelam hilang ke dunia lain. Tidak ada gangguan sama sekali. Hanya ada saya dan buku.

Jaman sudah berubah, era internet dan teknologi digital, dengan segala sisi positif dan negatifnya sudah menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan. Bersamaan dengan itu semua, datanglah era sulit fokus atau anak-anak jaman now bilangnya gagal fokus. Saat membaca buku, notifikasi email bunyi, notifikasi whatsapp bunyi, notifikasi dari sosial media bunyi, dan notifikasi-notifikasi lain ikutan bunyi dan kita tergoda untuk beralih membukanya. Walaupun rencananya cuma sekilas saja, dengan alasan siapa tahu ada yang penting, tetap saja fokus kita sudah teralihkan. Semakin sering pikiran dan perhatian beralih dan berlompatan ke sana ke mari ke banyak hal, semakin lelah otak kita. Semakin lelah otak kita, semakin kita tidak fokus terhadap apa yang sedang kita lakukan, misalnya membaca. Semakin tidak fokus, semakin kita tidak menyerap apa yang sesungguhnya kita baca. Ujung-ujungnya, membaca buku membuat ngantuk dan membosankan. Otak kita lelah. Lelah karena berlompatan dari satu hal ke hal lainnya dalam waktu yang cepat. Bukan bukunya yang membosankan, lah kan kita yang pilih sendiri mau baca buku apa. Bayangkan hal ini terjadi seharian dan setiap hari.

Padahal membaca buku dengan fokus penuh walaupun dalam waktu yang relatif singkat misalnya 30 menit saja per hari memiliki banyak manfaat, loh! Ayo jangan lihat whtasapp dulu, baca yang di bawah ini dulu…

Manfaat Membaca (Dengan Fokus dan Tanpa Gangguan)

1. Melatih otak dan menajamkan pikiran

Seperti halnya dengan orang yang melatih tubuhnya dengan rutin berolahraga, maka tubuhnya semakin lama semakin kuat, sehat, dan bugar. Demikian pula halnya dengan otak. Otak yang tidak distimulasi dan dilatih, lama-lama akan menurun fungsinya. Penurunan fungsi otak yang banyak dialami orang-orang adalah alzheimer. Dalam membaca, konsentrasi pada kata-kata, kalimat, dan alur cerita, akan menstimulasi otak dan fungsi kognitifnya. Dengan demikian risiko Alzheimer bisa diminimalisir bahkan bisa dihindari.

Stimulasi otak melalui membaca juga akan meningkatkan ketajaman bagian otak yang bertanggung jawab terhadap konsentrasi dan analisa kritis. Bayangkan seperti mengasah sebuah pisau. Semakin sering dan rutin kita mengasah, pisau tersebut semakin tajam dan tetap tajam dalam jangka panjang. Hal ini akan meningkatkan dan memperkuat kemampuan berpikir analitis. Kemampuan ini sangat berguna untuk pengambilan keputusan penting dalam banyak sisi kehidupan.

2. Meningkatkan kemampuan untuk fokus dan konsentrasi

Membaca juga melatih bagian dari otak yang berfungsi sebagai memori dan perhatian. Bagaimana bisa meningkatkan fokus? Fokus kita akan semakin terlatih dan semakin kuat karena membutuhkan fokus untuk membaca. Ketika kita membaca buku atau artikel, kita tidak akan memahami bahan yang sedang kita baca kecuali kita fokus. Dengan demikian, semakin kita sering membaca, secara tidak langsung kita juga melatih fokus kita sehingga semakin lama kemampuan untuk fokus dalam jangka panjang akan semakin meningkat secara keseluruhan. Jadi tidak ada lagi keluhan seperti, “Kenapa ya? Kok saya kalau sedang pelatihan (atau meeting, atau kuliah, atau seminar, atau bahkan di dalam misa, dan lain-lain) cepat sekali bosan dan gagal fokus?” Jawabannya adalah otak yang kelelahan karena disuruh oleh pemiliknya untuk lompat sana lompat sini dengan cepat. Bagaimana membuat otak kembali ‘normal’? Lah, barusan itu di atas apa? Gagal fokus ya?

Pentingkah fokus dan konsentrasi dalam kehidupan sehari-hari? Untuk pertanyaan satu ini, jawab sendiri ya!

3. Menambah pengetahuan, memperluas wawasan, dan meningkatkan daya ingat.

Semakin banyak kita membaca berbagai macam buku, semakin luas wawasan dan pengetahuan kita. Secara tidak sadar, apa yang kita baca akan disimpan oleh otak. Bahasa kerennya subconscious mind. Koleksi pengetahuan, wawasan, pengalaman, pelajaran dalam subconscious mind ini akan muncul pada saat kita membutuhkan.

Contoh kecil saja, saat kita membaca dalam bahasa Inggris dan menemukan kata-kata yang tidak kita mengerti, kita akan terdorong untuk mencari artinya. Tambahan pengetahuan tentang arti kata-kata baru ini akan tersimpan di dalam otak. Pada kesempatan lain, misalnya ketika kita menulis laporan, otak memunculkan kata-kata ini pada saat dibutuhkan. Luar biasa ya bagaimana Bapa menciptakan kita.

4. Memperluas perbendaharaan kata dan meningkatkan kemampuan menulis.

“Aduuuuh, ada tugas menulis, nih! Mati gaya deh gue! Susah amat sih? Mana gue gak bisa nulis lagi! Gimana mulainya?” Pernah dengar kan keluhan seperti itu? Dari anak-anak, remaja, mahasiswa, bahkan sampai orang dewasa pernah mengeluh seperti itu. Seringkali alasannya ‘gak bisa nulis’ Halah! Udah sekolah kok gak bisa nulis? Yang bukan-bukan aja. Yang dimaksud dengan ‘gak bisa nulis’ adalah tidak bisa menuangkan ide di kepala mereka ke dalam bentuk tulisan. Memang tidak mudah. Yang ada malah melototin kertas kosong dan menggigit-gigit bolpen. Atau memelototi layar monitor yang kosong, lalu mengetik, menghapus, mengetik, menghapus. Atau mata menerawang jauh berusaha mendapatkan wangsit. Ayo ngaku, pasti pernah mengalami hal itu kan?

Nah, ini fakta penting. Seorang penulis biasanya adalah pembaca kelas berat. Para penulis buku terkenal adalah juga pembaca yang luar biasa. Jauh lebih mudah bagi seseorang yang memiliki pengetahuan yang luas dan perbendaharaan kata yang banyak untuk menuangkan ide-ide di dalam kepala mereka ke dalam sebuah tulisan yang jelas dan terstruktur. Stephen King, seorang penulis novel horror yang sangat terkenal, yang sudah menulis ratusan buku, yang sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, pernah mengatakan, “If you don’t have the time to read, you don’t have the time or the tools to write.”. Jika Anda tidak punya waktu untuk membaca, Anda tidak punya waktu atau ‘senjata’ untuk menulis.”

5. Mengurangi stress, mengurangi depresi, relaksasi

What? Beneran membaca bisa mengurangi stress? Kedengarannya mustahil ya? Serius loh ini! Dengan memusatkan perhatian pada buku yang kita baca, secara otomatis pikiran kita akan fokus dan tenggelam pada kata-kata, alur cerita, bahkan lebih jauh lagi imajinasi kita juga berkembang mengikuti isi buku. Dengan demikian, pikiran kita juga teralihkan dari stress yang kita hadapi. Memang bukan berarti sumber stress dan masalah kita hilang, lho! Tapi dengan membaca kita sudah memberikan waktu pada diri kita untuk menjadi lebih tenang, tentu pikiran kita juga menjadi lebih jernih dalam menganalisa masalah dan mengambil keputusan.

Membaca juga menstimulasi bagian otak yang berurusan dengan perasaan depresi. Buku-buku dengan genre self-help dan buku-buku baik fiksi dan non fiksi yang memberikan inspirasi tentang kehidupan akan membantu mengatasi perasaan depresi dan putus asa. 

Setelah menjalani hari yang panjang dan padat, entah itu sekolah, kuliah, dan pekerjaan, membaca buku yang baik sebelum tidur membantu kita untuk rileks. Tubuh dan pikiran yang rileks membuat kita mudah tidur dan beristirahat total. Seperti yang kita tahu, tidur dan beristirahat sangat berguna bagi kesehatan tubuh, pikiran, dan jiwa. Kita bangun lebih segar keesokan harinya dan siap untuk kembali beraktivitas. Apa yang kita baca sebelum tidur, secara tidak langsung akan masuk ke dalam alam bawah sadar kita. Oleh sebab itu, pilihlah buku-buku yang menyenangkan, menenangkan, dan menginspirasi.

Masih ragu juga? Coba kita lihat, yuk beberapa orang yang benar-benar kutu buku kelas berat.

Para Kutu Buku Kelas Dunia

1.Warren Buffet

Warren Edward Buffet adalah seorang pebisnis Amerika yang berpengaruh besar, investor, dan filantropi, yang menjadi chairman dan CEO dari perusahaan yang didirikannya yaitu Berkshire Hathaway. Beliau adalah investor paling sukses di dunia dengan jumlah kekayaan US$ 88,9 milyar (per Desember 2019).

Ketika beliau ditanya tentang kunci kesuksesannya, jawaban beliau adalah buku. Sejak pertama beliau merintis karirnya sebagai investor, beliau membaca sekitar 750 sampai 1000 halaman per hari. Sampai saat ini pun, beliau meluangkan 60% waktunya untuk membaca. Selain membaca, Warren Buffet adalah penulis yang produktif. Buku-bukunya sudah banyak yang diterbitkan. 

Warren Buffet, sang legenda dunia investasi dan salah satu orang terkaya di dunia, mengatakan “Jika ingin menjadi salah satu orang terkaya di dunia, bacalah banyak buku”. Beliau sendiri mengatakan kegemarannya membaca telah membantunya untuk mengambil keputusan finansial yang besar. “Kunci kesuksesan adalah membaca 500 halaman setiap hari. Begitulah cara pengetahuan bekerja. Bertambah dan berlipat ganda, sama seperti bunga berbunga dalam dunia investasi dan keuangan. Anda semua bisa melakukannya, tapi saya jamin, tidak banyak dari Anda yang mau melakukannya.”

2. Bill Gates

Siapa yang tidak tahu William Henry Gates alias Bill Gates, sang maestro Microsoft? Dalam salah satu sesi wawancara, Bill Gates ditanya tentang apakah membaca adalah sesuatu yang penting dalam mencapai kesuksesannya, dan juga apakah hal yang sama juga berlaku bagi orang lain.

Beliau menjawab, “Tentu saja, Anda tidak benar-benar mulai menjadi tua sampai Anda berhenti belajar.” Beliau juga menjelaskan bahwa setiap buku mengajarkan sesuatu yang baru dan membantunya untuk melihat dari sudut pandang berbeda. Membaca juga meningkatkan rasa keingintahuan tentang dunia yang telah membantunya bergerak maju dalam karirnya dan juga membantunya dengan apa yang dia lakukan saat ini dengan perusahaan dan yayasan yang didirikannya.

Bill Gates si kutu buku yang membaca tidak hanya buku-buku yang berkaitan dengan bisnisnya, tapi juga buku-buku dari berbagai genre atau jenis. Bill Gates pun sering merekomendasikan buku-buku yang dibacanya kepada orang lain, bahkan seringkali memberikan buku-buku yang menurutnya sangat bagus kepada para teman-temannya.

Mau tahu rekomendasi buku dari seorang Bill Gates? Lihat-lihat deh di blognya Bill Gates, https://www.gatesnotes.com/

3. Oprah Winfrey

Oprah Gail Winfrey adalah seorang eksekutif media Amerika, aktris, pemandu gelar wicara atau talk show host, produser televisi, dan juga filantropis. Oprah Winfrey juga terkenal sebagai pebisnis wanita yang brilian dan selebriti yang menginspirasi.

Dalam suatu wawancara, Oprah berbicara tentang kecintaannya membaca dan bagaimana buku-buku tetelah membantunya dalam meniti karir. Dulu beliau adalah seseorang yang menghadapi kebingungan dan keraguan dalam perjalanan hidupnya dan buku-buku yang dibacanya telah mengubahnya menjadi seseorang yang sukses saat ini. 

Oprah juga memiliki klub buku, loh! Coba cek di http://www.oprah.com/app/books.html

Mau contoh lagi tentang orang-orang sukses yang menjadikan membaca sebagai habit atau kebiasaan yang tidak terpisahkan dalam perjalanan karir dan kehidupannya setiap hari? Sudah 3 dulu aja, ya! Banyak sekali soalnya.

Jadikan Membaca Sebagai Habit Atau Kebiasaan

Susah ya? Apalagi dengan gaya hidup jaman now, tidak melihat smartphone semenit aja rasanya tersiksa. Tapi jika kita menyadari manfaat membaca buku tanpa gangguan, saya pikir hal ini patut diusahakan dan diperjuangkan. Mulailah dengan baby steps alias langkah bayi, sabar, sedikit demi sedikit, satu demi satu. Mulailah dengan…

1. Memilih buku, sebaiknya buku cetak, yang disukai. Mungkin buku-buku tentang hobi, buku rohani, buku tentang sesuatu yang ingin dipelajari sejak lama, buku manajemen, buku produktifitas, buku self-help, bahkan buku novel dan fiksi yang bagus pun bisa memberikan pelajaran tentang kehidupan. Intinya apa saja yang menurut Anda menarik dan bermanfaat.

2. Dedikasikan waktu untuk membaca tanpa gangguan. Usahakan setiap hari. Sebagian orang memilih membaca di pagi hari sebelum anggota keluarga lain bangun. Ada juga yang suka membaca di malam hari sebelum tidur. Pilih waktu yang sesuai dengan Anda sendiri, mungkin malah siang hari ketika istirahat makan siang. Atau sore hari, ketika kegiatan sudah tidak sepadat pagi hari. Tidak perlu lama-lama, 15 menit cukup. Atau bisa juga ambil patokan 1 bab saja. Tujuannya adalah menjadikan membaca buku tanpa gangguan sebagai kebiasaan dulu.

3 orang kutu buku kelas dunia di atas adalah orang-orang dengan segudang kegiatan, sebagai pemilik dan pemimpin perusahaan kelas dunia, karir yang sukses, dan kesibukan yang kelihatannya membutuhkan waktu lebih dari 24 jam sehari. Tapi mereka bisa memprioritaskan dan mendidikasikan sebagian waktunya untuk membaca buku tanpa gangguan. Kita juga bisa.

4. Jauhkan smartphone, matikan televisi, tutup laptop, apapun juga yang bisa menyebabkan Anda terganggu. Itulah kenapa sebaiknya memilih buku cetak. Buku cetak tidak bisa bunyi memberikan notifikasi. Hanya 15 menit, kok! Awalnya 15 menit serasa 1 jam, wajar. Keep going and keep doing it. Teruslah melakukannya. Jangan menyerah. Setelah menjadi habit, 15 menit terasa kurang.

Tunggu apa lagi? Baby steps, one, two, three

“Acquiring literacy is an empowering process, enabling millions to enjoy access to knowledge and information which broadens horizons, increases opportunities and creates alternatives for building a better life.” – Kofi Annan, Secretary General United Nations from 1997 to 2006

“Kemampuan membaca adalah proses yang memberdayakan, yang memungkinkan jutaan orang menikmati akses ke pengetahuan dan informasi yang dapat memperluas cakrawala, meningkatkan kesempatan, dan menciptakan banyak pilihan untuk membangun kehidupan yang lebih baik.” Kofi Annan, Sekretaris Jendral PBB, masa jabatan 1997 – 2006.

Yakin kan kalau membaca itu luar biasa? Mari kita budayakan membaca!

( Melinda Liu )

Photo by Daria Shevtsova from Pexels

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *