Kepatuhan Terhadap Sabda Allah - Paroki St. FRANSISKUS ASISI - Sukasari

Kepatuhan Terhadap Sabda Allah

Homili Paus Fransiskus Dalam Misa 20 Januari 2020: Kepatuhan Terhadap Sabda Allah.

(https://pope-at-mass.blogspot.com/2020/01/homili-paus-fransiskus-dalam-misa-20.html)

Bacaan Ekaristi : 1Sam. 15:16-23; Mzm. 50:8-9,16bc-17,21,23; Mrk. 2:18-22.

Dalam homilinya pada Misa harian Senin pagi, 20 Januari 2020, di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus Fransiskus berbicara tentang “kepatuhan” terhadap Sabda Allah, yang “senantiasa baru”. Berkaca pada Bacaan Pertama liturgi hari itu (1Sam. 15:16-23), Paus Fransiskus berfokus pada penolakan Allah terhadap Saul sebagai raja, sebuah “nubuat” yang diungkapkan kepada Samuel.

Paus Fransiskus mengatakan bahwa intisari dosa Saul adalah “kurangnya kepatuhan” terhadap Sabda Allah karena Saul membayangkan telah “menafsirkan” perintah Allah dengan “lebih benar”. Tuhan telah memerintahkan bangsa Israel untuk tidak mengambil apa pun dari bangsa yang telah mereka taklukkan, tetapi mereka tidak menuruti perintah tersebut, Paus Fransiskus menjelaskan.

Ketika Samuel pergi untuk menolak Saul atas nama Allah, Saul mencoba menjelaskan : “Tetapi rakyat mengambil dari jarahan itu kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dari yang dikhususkan untuk ditumpas itu, untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu”. Saul tidak memasukkan apa pun ke dalam sakunya, meskipun orang lain memasukkannya. Sebaliknya, dengan sikap menafsirkan Sabda Allah yang tampaknya benar baginya ini, ia membiarkan orang lain menaruh sesuatu dari hasil jarahan ke dalam saku mereka. Tahap-tahap korupsi : dimulai dengan sedikit ketidakpatuhan, kurangnya kepatuhan, dan terus melangkah lebih jauh, lebih jauh, lebih jauh.

Setelah “menumpas” orang-orang Amalek, Paus Fransiskus mengatakan, orang-orang mengambil dari hasil jarahan “binatang buas besar dan kecil, buah sulung dari apa yang disumpahkan untuk ditumpas, untuk dikorbankan kepada Tuhan”. Tetapi Samuel menunjukkan bahwa Tuhan lebih berkenan pada “kepatuhan terhadap suara Allah” daripada pemusnahan dan pengorbanan; serta ia menjelaskan “hierarki nilai” : memiliki “hati yang patuh”, dan “mematuhi”, lebih penting daripada “mempersembahkan korban, berpuasa, melakukan penebusan dosa”. “Dosa karena kurangnya kepatuhan”, lanjut Paus Fransiskus, tepatnya terletak pada kecenderungan terhadap “apa yang kupikirkan dan bukan apa yang diperintahkan Tuhan terhadap diriku yang tidak kupahami”. Ketika kamu memberontak menentang “kehendak Tuhan”, beliau mengatakan, kamu tidak patuh; “ibarat dosa meramal nasib”. Seolah-olah, meskipun kamu mengatakan kamu percaya pada Allah, “kamu harus pergi ke peramal nasib agar telapak tanganmu dibaca ‘untuk berjaga-jaga'”. Menolak untuk mematuhi Tuhan, kurangnya kepatuhan, Paus Fransiskus mengulangi, adalah ibarat “meramal nasib”.

Ketika kamu bersikeras melakukan berbagai hal dengan caramu sendiri di hadapan kehendak Tuhan, kamu adalah seorang penyembah berhala, karena kamu berkenan pada apa yang kamu pikirkan, berhala itu, daripada kehendak Tuhan. Dan bagi Saul, ketidakpatuhan ini menyebabkannya kehilangan kerajaan : “Karena engkau telah menolak firman Tuhan, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja”. Hal ini seharusnya membuat kita sedikit memikirkan kepatuhan kita. Kita sering berkecenderungan menafsirkan Injil menurut selera kita […] misalnya, ketika kita jatuh ke dalam permainan kata-kata … Hal ini bukan kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan jelas; Ia membuat kehendak-Nya dikenal melalui perintah-perintah dalam Kitab Suci, dan membuat kehendak-Nya dikenal melalui Roh Kudus di dalam hatimu. Tetapi ketika saya keras kepala, dan mengubah Sabda Tuhan menjadi sebuah ideologi, saya adalah seorang penyembah berhala, saya tidak patuh.

Beralih ke Bacaan Injil liturgi hari itu (Mrk. 2:18-22), Paus Fransiskus mengingatkan bahwa para murid dikritik “karena mereka tidak berpuasa”. Yesus menggunakan sebuah analogi : tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya; dan tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. “Tetapi”, Tuhan bersabda, “anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula”.

Kebaruan Sabda Tuhan – karena Sabda Tuhan senantiasa baru, senantiasa membawa kita maju – selalu unggul, Sabda Tuhan lebih baik dari segalanya. Sabda Tuhan mengatasi penyembahan berhala, Sabda Tuhan mengatasi kesombongan, dan Sabda Tuhan mengatasi sikap terlalu yakin akan diri kita ini, bukan melalui [komitmen terhadap] Sabda Tuhan, tetapi terhadap berbagai ideologi yang telah saya bangun di sekitar Sabda Tuhan. Ada ungkapan Yesus yang sangat indah yang menjelaskan semua hal ini dan berasal dari Allah, yang diambil dari Perjanjian Lama : “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan”.

Paus Fransiskus mengatakan bahwa menjadi “seorang Kristiani yang baik” berarti “patuh” terhadap Sabda Tuhan, mendengarkan apa yang dikatakan Tuhan tentang keadilan, amal kasih, pengampunan, dan belas kasihan; serta bukan “hidup tidak karuan”, menggunakan “sebuah ideologi agar dapat bergerak maju”. Memang benar, beliau menambahkan, bahwa Sabda Tuhan terkadang “membuat kita berada dalam kesulitan”, tetapi “iblis melakukan hal yang sama”, “memperdaya”. Maka, menjadi seorang Kristiani, Paus Fransiskus mengakhiri homilinya, “harus bebas”, melalui “kepercayaan” pada Allah.

( Peter Suriadi – Bogor, 20 Januari 2020 )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *