Jangan Sampai Kita Tanpa Sadar Tergelincir Ke Dalam Keduniawian - Paroki St. FRANSISKUS ASISI - Sukasari

Jangan Sampai Kita Tanpa Sadar Tergelincir Ke Dalam Keduniawian

Homili Paus Fransiskus Dalam Misa 13 Februari 2020: Jangan Sampai Kita Tanpa Sadar Tergelincir Ke Dalam Keduniawian.

(https://pope-at-mass.blogspot.com/2020/02/homili-paus-fransiskus-dalam-misa-7.html)

Bacaan Ekaristi : 1Raj. 11:4-13; Mzm. 106:3-4,35-36,37,40; Mrk. 7:24-30.

Seringkali kita melupakan Tuhan sehingga hati kita tanpa sadar berkeliaran ke dalam kemurtadan dan tergelincir ke dalam keduniawian. Itulah pokok homili Paus Fransiskus dalam Misa harian Kamis pagi, 13 Februari 2020, di Casa Santa Marta, Vatikan. Beliau mengacu pada Bacaan Pertama liturgi hari itu (1Raj. 11:4-13), yang menceritakan tentang “kemurtadan Salomo” ketika ia berpaling dari Tuhan di masa tuanya : “Sebab pada waktu Salomo sudah tua, isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain”.

Paus Fransiskus mengatakan bahwa pada awalnya Raja Salomo adalah “seorang anak yang baik”, yang memohon hikmat kepada Tuhan dan menerimanya. Para hakim, dan bahkan ratu negeri Syeba di Afrika, datang dengan berbagai bawaan karena mereka telah mendengar segala hikmatnya. Kala itu, memiliki lebih dari satu istri adalah memungkinkan, kendati secara hukum tidak dibenarkan menjadi “seorang lelaki mata keranjang”.

Tetapi hati Salomo menjadi lemah bukan karena ia menikahi beberapa perempuan, tetapi karena mereka berasal dari bangsa-bangsa lain yang mengabdi pada allah-allah lain. Ia jatuh ke dalam “sebuah jebakan” dengan membiarkan para istrinya meyakinkannya untuk menyembah berhala-berhala mereka, “masuk ke dalam paganisme”.

“Kemurtadannya bukan dari satu hari hingga hari berikutnya”, kata Paus Fransiskus. “Sebuah kemurtadan yang lambat”. Raja Salomo tidak hanya berdosa satu kali saja tetapi “tergelincir” ke dalam dosa.

“Para perempuan menyesatkan hatinya, dan Tuhan menegurnya : ‘Engkau memalingkan hatimu’”. Hal ini terjadi juga dalam kehidupan kita. Tak seorang pun dari kita adalah penjahat; tak seorang pun dari kita melakukan dosa besar seperti yang dilakukan Daud dengan istri Uria. Tetapi di manakah letak bahayanya? Membiarkan diri kita perlahan-lahan tergelincir, karena merupakan kejatuhan yang membius. Kamu bahkan tidak menyadarinya, tetapi perlahan-lahan kamu tergelincir. Segala sesuatunya menjadi nisbi, dan kesetiaan kepada Allah lenyap. Para perempuan ini berasal dari bangsa-bangsa lain – mereka memiliki allah-allah sendiri – dan seberapa sering kita melupakan Tuhan dan mulai berurusan dengan allah-allah lain : uang, kesombongan, kebanggaan. Tetapi hal ini dilakukan perlahan-lahan, dan tanpa rahmat Allah segalanya akan lenyap”.

Paus Fransiskus kemudian mengingat Mazmur 106, untuk menggarisbawahi bagaimana “bergaul dengan berbagai bangsa” dan mengabdi kepada berhala-berhala mereka berarti menjadi bersifat duniawi dan kafir.

“Bagi kita luncuran yang licin dalam kehidupan ini terarah menuju keduniawian. Inilah dosa berat : ‘Setiap orang melakukannya. Jangan khawatir tentang hal itu; jelas tidak ideal, tetapi … ‘kita membenarkan diri dengan kata-kata ini, dengan harga kehilangan kesetiaan kita kepada Allah yang tunggal. Berhala-berhala modern. Marilah kita memikirkan dosa keduniawian ini, kehilangan keotentikan Injil, keotentikan Sabda Allah, dan kasih Allah yang memberikan nyawa-Nya bagi kita. Tidak ada cara untuk mempertahankan hubungan yang baik dengan Tuhan dan sekaligus iblis”.

Mengakhiri homilinya, Paus Fransiskus mengundang kita untuk memohon rahmat kepada Tuhan agar menghentikan diri ketika kita menyadari bahwa hati kita mulai menjauh daripada-Nya. “Marilah kita memohonkan rahmat kepada Tuhan agar dapat memahami kapan hati kita mulai melemah dan tergelincir, sehingga kita bisa berhenti. Rahmat dan kasih-Nya akan menghentikan luncuran itu jika kita memohon dalam doa”.

(Peter Suriadi – Bogor, 13 Februari 2020)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *