Homili PAUS FRANSISKUS dalam Misa Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus 14 Juni 2020

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS 14 Juni 2020 : EKARISTI MENYEMBUHKAN INGATAN KITA YANG RAPUH
(https://pope-at-mass.blogspot.com/2020/06/homili-paus-fransiskus-dalam-misa-hari-raya-tubuh-dan-darah-Kristus-14-juni-2020.html)

Bacaan Ekaristi : Ul. 8:2-3,14b-16a; Mzm. 147:12-13,14-15,19-20; 1Kor. 10:16-17; Yoh. 6:51-58.

“Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak Tuhan, Allahmu” (Ul 8:2). Bacaan Kitab Suci hari ini dimulai dengan perintah Musa ini : Ingatlah! Tak lama setelah itu Musa mengulangi, “Jangan engkau melupakan Tuhan, Allahmu” (ayat 14). Kitab Suci telah diberikan kepada kita agar kita dapat mengatasi kelupaan kita akan Allah. Betapa pentingnya mengingat hal ini ketika kita berdoa! Seperti yang diajarkan salah satu Mazmur : “Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan Tuhan, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala” (77:11). Tetapi semua itu juga mengherankan, karena Tuhan telah bekerja dalam kehidupan kita.

Mengingat kebaikan yang telah kita terima sangat penting. Jika kita tidak mengingatnya, kita menjadi orang asing bagi diri kita sendiri, “pelewat” keberadaan. Tanpa ingatan, kita mencabut diri kita dari tanah yang memelihara kita dan membiarkan diri kita terbawa seperti dedaunan dalam angin. Namun, jika kita ingat, kita kembali mengikatkan diri pada ikatan yang terkuat; kita merasa menjadi bagian dari sejarah yang hidup, pengalaman hidup suatu umat. Ingatan bukanlah sesuatu yang bersifat pribadi; ingatan adalah jalan yang mempersatukan kita dengan Allah dan sesama. Inilah sebabnya mengapa dalam Kitab Suci ingatan akan Tuhan harus diteruskan dari generasi ke generasi. Para ayah diperintahkan untuk menceritakan kisah itu kepada anak-anak mereka, seperti yang kita baca dalam sebuah perikop yang indah. “Apabila di kemudian hari anakmu bertanya kepadamu: Apakah peringatan, ketetapan dan peraturan itu, yang diperintahkan kepadamu oleh Tuhan Allah kita? maka haruslah engkau menjawab anakmu itu: Kita dahulu adalah budak … [pikirkan seluruh sejarah perbudakan!] Tuhan membuat tanda-tanda dan mujizat-mujizat … di depan mata kita” (Ul 6:20-22). Kamu harus mewariskan ingatan ini kepada anakmu.

Tetapi ada masalah : bagaimana jika rantai penerusan ingatan tersebut terputus? Dan bagaimana kita bisa mengingat apa yang baru saja kita dengar, kecuali kita juga mengalaminya? Allah tahu betapa sulitnya itu, Ia tahu betapa lemahnya ingatan kita, dan Ia telah melakukan sesuatu yang luar biasa: Ia mewariskan kita sebuah peringatan. Ia tidak hanya mewariskan kita kata-kata, karena mudahnya melupakan apa yang kita dengar. Ia tidak hanya mewariskan kita Kitab Suci, karena mudahnya melupakan apa yang kita baca. Ia tidak hanya mewariskan kita tanda, karena kita dapat melupakan apa yang kita lihat. Ia memberi kita makanan, karena tidak mudah untuk melupakan sesuatu yang sungguh kita rasakan. Ia mewariskan kita roti yang di dalamnya Ia sungguh, hidup dan hakiki, dengan segenap rasa cinta-Nya. Menerima Dia, kita dapat mengatakan : “Ia adalah Tuhan; Ia mengingatkanku!”. Itulah sebabnya Yesus mengatakan kepada kita, “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” (1 Kor 11:24). Perbuatlah! Ekaristi bukan sekadar tindakan mengingat; Ekaristi adalah sebuah fakta : Paskah Tuhan kembali hadir untuk kita. Dalam Misa, wafat dan kebangkitan Yesus ditetapkan di hadapan kita. Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku : berkumpul dan merayakan Ekaristi sebagai komunitas, sebagai umat, sebagai keluarga, sebagai peringatan akan Aku. Kita tidak dapat melakukannya tanpa Ekaristi, karena Ekaristi adalah peringatan akan Allah. Dan Ekaristi menyembuhkan ingatan kita yang terluka.

Ekaristi pertama-tama menyembuhkan ingatan kita yang yatim. Kita sedang hidup di zaman panti asuhan yang luar biasa. Ekaristi menyembuhkan ingatan yang yatim. Begitu banyak orang memiliki ingatan yang ditandai oleh kurangnya kasih sayang dan kekecewaan yang disebabkan oleh orang-orang yang seharusnya memberi mereka cinta dan malahan hati mereka menjadi yatim. Kita ingin kembali dan mengubah masa lalu, tetapi tidak bisa. Tetapi, Allah dapat menyembuhkan luka-luka ini dengan menempatkan dalam ingatan kita kasih yang lebih besar : kasih-Nya sendiri. Ekaristi membawakan kita kasih setia Bapa, yang menyembuhkan perasaan kita sebagai anak yatim. Ekaristi memberi kita kasih Yesus, yang mengubah rupa kubur dari akhir hingga awal, dan dengan cara yang sama dapat mengubah rupa hidup kita. Ekaristi memenuhi hati kita dengan kasih Roh Kudus yang menghibur, yang tidak pernah meninggalkan kita sendirian dan senantiasa menyembuhkan luka-luka kita.

Melalui Ekaristi, Tuhan juga menyembuhkan ingatan buruk kita, hal buruk yang begitu sering meresap ke dalam hati kita. Tuhan menyembuhkan ingatan buruk ini, yang menyeret ke hal-hal lahiriah yang keliru dan mewariskan kita dengan angan-angan yang menyedihkan yang menjadikan diri kita tidak berguna, yang hanya menjadikan diri kita salah, yang menjadikan diri kita sebuah kesalahan. Yesus datang untuk memberitahu kita bahwa hal ini tidak benar. Ia ingin dekat dengan kita. Setiap kali kita menerima-Nya, Ia mengingatkan kita bahwa kita berharga, bahwa kita adalah tamu yang telah diundang ke perjamuan makan-Nya, para sahabat yang ingin Ia ajak makan. Dan bukan hanya karena Ia murah hati, tetapi karena Ia sungguh mengasihi kita. Ia memandang dan mengasihi keindahan dan kebaikan yang ada dalam diri kita. Tuhan tahu bahwa kejahatan dan dosa tidak membatasi diri kita; keduanya adalah penyakit, penularan. Dan Ia datang untuk menyembuhkan keduanya dengan Ekaristi, yang mengandung antibodi bagi ingatan buruk kita. Bersama Yesus, kita bisa menjadi kebal terhadap kesedihan. Kita akan senantiasa mengingat kegagalan, kesulitan, permasalahan kita di rumah dan di tempat kerja, impian kita yang belum terwujud. Tetapi bobot mereka tidak akan menghancurkan kita karena Yesus hadir lebih dalam lagi, mendorong kita dengan kasih-Nya. Inilah kekuatan Ekaristi, yang mengubah rupa diri kita menjadi pembawa Allah, pembawa sukacita, bukan hal-hal buruk. Kita yang menghadiri Misa dapat bertanya : Apa yang kita bawa ke dunia? Apakah kita membawa kesedihan dan kepahitan, atau sukacita Tuhan? Apakah kita menerima Komuni Kudus dan kemudian terus berkeluh kesah, melancarkan kritik, dan mengasihani diri kita? Hal ini tidak memperbaiki apa pun, sedangkan sukacita Tuhan dapat mengubah kehidupan.

Akhirnya, Ekaristi menyembuhkan ingatan kita yang tertutup. Luka-luka batin yang kita simpan menciptakan masalah tidak hanya untuk kita, tetapi juga untuk sesama kita. Luka-luka tersebut membuat kita takut dan curiga. Kita mulai dengan menjadi tertutup, serta akhirnya menjadi sinis dan acuh tak acuh. Luka-luka kita dapat membuat kita bereaksi terhadap sesama dengan keterasingan dan kesombongan, dalam khayalan bahwa dengan cara ini kita dapat mengendalikan situasi. Namun itu memang khayalan, karena hanya kasih yang dapat menyembuhkan rasa takut hingga ke akarnya dan membebaskan kita dari egoisme yang memenjarakan kita. Dan itulah apa yang dilakukan Yesus. Ia mendekati kita dengan lembut, dalam kesederhanaan Hosti yang melucuti. Ia datang ketika Roti dipecah-pecahkan untuk memecahkan cangkang keegoisan kita. Ia memberikan diri-Nya untuk mengajar kita bahwa hanya dengan membuka hati, kita dapat dibebaskan dari rintangan batin kita, dari kelumpuhan hati.

Tuhan, yang menawarkan diri kepada kita dalam kesederhanaan roti, juga mengundang kita untuk tidak menyia-nyiakan hidup kita dengan mengejar banyak khayalan yang kita pikir tidak dapat kita lakukan tanpanya, namun hal itu membuat batin kita hampa. Ekaristi memuaskan rasa lapar kita akan hal-hal jasmani dan mengobarkan hasrat kita untuk melayani. Ekaristi membangkitkan kita dari gaya hidup kita yang nyaman dan lamban serta mengingatkan kita bahwa kita tidak hanya diberi makan melalui mulut, tetapi juga tangan-Nya, yang digunakan untuk membantu memberi makan sesama. Peduli pada mereka yang lapar akan makanan dan martabat, mereka yang tidak bekerja dan mereka yang berjuang untuk melanjutkan hidup, kini sangat mendesak. Dan ini harus kita lakukan dengan cara yang nyata, senyata Roti yang diberikan Yesus kepada kita. Kedekatan yang tulus dibutuhkan, seperti ikatan kesetiakawanan yang sejati. Dalam Ekaristi, Yesus mendekati kita : janganlah kita berpaling dari orang-orang di sekitar kita!

Saudara-saudari yang terkasih, marilah kita lanjutkan perayaan Misa Kudus kita : Peringatan yang menyembuhkan ingatan kita. Marilah kita tidak pernah lupa : Misa adalah Peringatan yang menyembuhkan ingatan, ingatan hati. Misa adalah harta yang paling penting baik dalam Gereja maupun dalam kehidupan kita. Dan marilah kita juga menemukan kembali adorasi Ekaristi, yang melanjutkan karya Misa dalam diri kita. Hal ini akan banyak membantu kita, karena menyembuhkan batin kita. Apalagi sekarang, ketika kebutuhan kita begitu besar.

( Peter Suriadi – Bogor, 14 Juni 2020 )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *