Homili PAUS FRANSISKUS dalam Misa Hari Minggu Paskah II – 19 April 2020

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI MINGGU PASKAH II (HARI MINGGU KERAHIMAN ILAHI) DI GEREJA ROH KUDUS – SASSIA (ROMA) 19 April 2020
(https://pope-at-mass.blogspot.com/2020/04/homili-paus-fransiskus-dalam-misa-hari-minggu-kerahiman-ilahi-19April2020.html)

Bacaan Ekaristi : Kis. 2:42-47; Mzm. 118:2-4,13-15, 22-24; 1Ptr. 1:3-9; Yoh. 20:19-31.

Hari Minggu yang lalu kita merayakan kebangkitan Tuhan; hari ini kita menyaksikan kebangkitan murid-Nya. Sudah sepekan, sepekan sejak para murid melihat Tuhan yang bangkit, tetapi meskipun demikian, mereka tetap ketakutan, meringkuk di balik “pintu-pintu terkunci” (Yoh 20:26), bahkan tidak dapat meyakinkan Thomas, satu-satunya murid yang tidak hadir, akan kebangkitan. Apa yang dilakukan Yesus dalam menghadapi kurangnya kepercayaan yang mengkhawatirkan ini? Ia kembali dan, berdiri di tempat yang sama, “di tengah-tengah” para murid, Ia mengulangi sapaan-Nya : “Damai sejahtera bagi kamu!” (Yoh 20:19,26). Ia mulai dari awal. Kebangkitan murid-Nya dimulai di sini, dari kerahiman yang setia dan tekun ini, dari penemuan bahwa Allah tidak pernah lelah meraih untuk mengangkat kita ketika kita jatuh. Ia ingin kita melihat-Nya, bukan sebagai pemberi tugas yang harus kita selesaikan, tetapi sebagai Bapa kita yang senantiasa mengangkat kita. Dalam hidup kita berjalan maju dengan mencoba-coba, tidak pasti, seperti seorang anak kecil yang mengambil beberapa langkah dan jatuh; beberapa langkah lagi dan jatuh lagi, namun setiap kali ayahnya mengangkatnya kembali. Tangan yang senantiasa mengangkat kita kembali adalah kerahiman : Allah tahu bahwa tanpa kerahiman kita akan tetap berada di tanah, karena untuk terus berjalan, kita harus diangkat kembali.

Kamu mungkin keberatan : “Tetapi aku terus jatuh!”. Tuhan tahu hal ini dan Ia senantiasa siap untuk mengangkatmu. Ia tidak ingin kita terus memikirkan kegagalan kita; melainkan, Ia ingin kita memperhatikan-Nya. Karena ketika kita jatuh, Ia melihat anak-anak yang perlu diangkat kembali; dalam kegagalan kita, Ia melihat anak-anak yang membutuhkan kasih-Nya yang rahim. Hari ini, di gereja yang telah menjadi tempat kudus kerahiman di Roma ini, dan pada hari Minggu ini, yang didedikasikan oleh Santo Yohanes Paulus II untuk Kerahiman Ilahi dua puluh tahun yang lalu, kita dengan penuh percaya diri menyambut pesan ini. Yesus berkata kepada Santa Faustina : “Aku adalah cinta dan belas kasih itu sendiri. Tidak ada kesengsaraan yang dapat menjadi pertandingan bagi belas kasihan-Ku” (Buku Harian, 14 September 1937). Pada suatu waktu, Santa Faustina, dengan riang gembira, memberitahu Yesus bahwa ia telah mempersembahkan seluruh hidupnya dan semua yang ia miliki kepada-Nya. Tetapi jawaban Yesus mengejutkannya : “Engkau belum pernah mempersembahkan kepada-Ku apa yang sungguh-sungguh menjadi milikmu”. Apa yang disimpan biarawati yang kudus tersebut untuk dirinya sendiri? Yesus berkata kepadanya dengan ramah, “Putri-Ku, berikanlah kepapaanmu sebab itulah satu-satunya milikmu” (Buku Harian, 10 Oktober 1937). Kita juga dapat bertanya kepada kita diri sendiri: “Apakah aku telah menyerahkan kepapaanku kepada Tuhan? Apakah aku telah memperkenankan-Nya melihat aku jatuh sehingga Ia bisa mengangkatku?” Atau ada sesuatu yang masih kusimpan di dalam diriku? Dosa, penyesalan masa lalu, luka yang kumiliki di dalam diriku, dendam terhadap seseorang, gagasan tentang orang tertentu … Tuhan menunggu kita untuk menyerahkan kepada-Nya kepapaan kita sehingga Ia dapat membantu kita mengalami kerahiman-Nya.

Mari kita kembali kepada para murid. Mereka telah meninggalkan Tuhan pada sengsara-Nya dan merasa bersalah. Tetapi bertemu dengan mereka, Yesus tidak memberikan khotbah yang panjang. Kepada mereka, yang luka batin, Ia menunjukkan luka-luka-Nya. Tomas sekarang dapat menjamah luka-luka-Nya dan memahami kasih Yesus serta betapa Yesus telah menderita untuknya, meskipun ia telah meninggalkan-Nya. Dalam luka-luka itu, ia menjamah dengan tangannya kedekatan Allah yang lembut. Tomas datang terlambat, tetapi begitu ia menerima kerahiman, ia menyusul murid-murid yang lain : ia tidak hanya percaya pada kebangkitan, tetapi juga pada kasih Allah yang tanpa terbatas. Dan ia membuat pengakuan iman yang paling sederhana dan indah : “Ya Tuhanku dan Allahku!” (ayat 28). Inilah kebangkitan murid : kebangkitan murid terjadi ketika umat manusia yang rapuh dan terluka masuk ke dalam diri Yesus. Di sana, setiap keraguan terselesaikan; di sana, Allah menjadi Allahku; di sana, kita mulai menerima diri kita dan mencintai kehidupan apa adanya.

Saudara dan saudari yang terkasih, pada masa pencobaan yang sedang kita alami sekarang, kita juga, seperti Tomas, dengan ketakutan dan keraguan kita, telah mengalami kerapuhan kita. Kita membutuhkan Tuhan, yang melihat melampaui kerapuhan itu keindahan yang tak tertahankan. Bersama-Nya kita menemukan kembali betapa berharganya diri kita bahkan dalam kerentanan kita. Kita menemukan bahwa kita seperti kristal-kristal yang indah, rapuh dan sekaligus berharga. Dan jika, seperti kristal, kita tembus pandang di hadapan-Nya, terang-Nya – terang kerahiman – akan bersinar di dalam diri kita dan melalui diri kita di dunia. Seperti yang dikatakan dalam Surat Petrus, inilah alasan untuk “bergembiralah, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan” (1Ptr 1:6).

Pada Pesta Kerahiman Ilahi ini, pesan yang terindah datang dari Tomas, murid yang datang terlambat; ia satu-satunya yang tidak hadir. Tetapi Tuhan menunggu Tomas. Kerahiman tidak meninggalkan mereka yang tertinggal. Sekarang, sementara kita menantikan pemulihan pandemi yang lambat dan sulit, ada bahaya bahwa kita akan melupakan mereka yang tertinggal. Resikonya yakni kita mungkin akan terkena virus yang lebih buruk, yaitu ketidakpedulian yang egois. Sebuah virus yang menyebar dengan pemikiran bahwa hidup lebih baik jika aku menjadi lebih baik, dan bahwa semuanya akan baik-baik saja jika aku baik-baik saja. Virus tersebut dimulai di sana dan akhirnya memilih satu orang di atas orang lain, mencampakkan kaum miskin, dan mengorbankan mereka yang tertinggal di altar kemajuan. Namun, pandemi sekarang ini mengingatkan kita bahwa tidak ada perbedaan atau batas antara orang-orang yang menderita. Kita semua rapuh, semuanya setara, semuanya berharga. Semoga kita sangat terguncang oleh apa yang sedang terjadi di sekitar kita : waktunya telah tiba untuk menghilangkan ketimpangan, memulihkan ketidakadilan yang merongrong kesehatan seluruh keluarga umat manusia! Marilah kita belajar dari jemaat Kristen perdana yang dijelaskan dalam Kisah Para Rasul. Jemaat Kristen perdana menerima kerahiman dan hidup dengan kerahiman : “Semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing”(Kis 2:44-45). Ini bukan beberapa ideologi : ini adalah kekristenan.

Dalam jemaat tersebut, setelah kebangkitan Yesus, hanya satu orang yang tertinggal dan yang lain menunggunya. Hari ini yang terjadi sebaliknya : sebagian kecil keluarga umat manusia telah bergerak maju, sementara sebagian besar masih tertinggal. Kita masing-masing dapat mengatakan : “Ini adalah permasalahan yang rumit, bukan tugasku untuk mengurus orang yang membutuhkan, orang lain yang harus peduli dengannya!”. Santa Faustina, setelah bertemu Yesus, menulis: “Dalam suatu jiwa yang menderita, kita hendaknya melihat Yesus yang tersalib, dan bukan seorang pemalas atau beban … [Tuhan] Engkau memberi kami kesempatan untuk mempraktikkan perbuatan-perbuatan kerahiman, tetapi kami melatih kepandaian dalam penghakiman” (Buku Harian, 6 September 1937). Namun suatu hari ia sendiri mengeluh kepada Yesus bahwa, karena berbelas kasih, ia dianggap bersahaja. Ia berkata, “Tuhan, mereka sering memanfaatkan kebaikanku”. Dan Yesus menjawab : “Itu bukan urusanmu. Hendaklah engkau selalu berbelas kasih terhadap orang lain” (Buku Harian, 24 Desember 1937). Kepada semua orang : janganlah kita hanya memikirkan kepentingan kita, kepentingan pribadi kita. Marilah kita sambut masa pencobaan ini sebagai kesempatan untuk mempersiapkan masa depan kita bersama. Karena tanpa visi yang merangkul semua orang, tidak akan ada masa depan bagi siapa pun.

Hari ini, kasih Yesus yang sederhana dan melucuti menghidupkan kembali hati murid-Nya. Seperti rasul Tomas, marilah kita menerima kerahiman, keselamatan dunia. Dan marilah kita menunjukkan kerahiman kepada mereka yang paling rentan; karena hanya dengan cara ini kita akan membangun sebuah dunia yang baru.

( Peter Suriadi – Bogor, 19 April 2020 )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *