Homili PAUS FRANSISKUS dalam Misa Arwah bagi 9 Kardinal dan 154 Uskup

Homili PAUS FRANSISKUS dalam Misa Arwah bagi 9 Kardinal dan 154 Uskup yang telah meninggal dalam setahun terakhir di Basilika Santo Petrus (Vatikan) 4 November 2019

(https://pope-at-mass.blogspot.com/2019/11/homili-paus-fransiskus-dalam-misa-arwah.html)

Bacaan Ekaristi : 2Mak 12:43-46; Flp 3:20-21; Yoh 6:37-40

Bacaan-bacaan yang telah kita dengar mengingatkan kita bahwa kita datang ke dunia untuk dibangkitkan : kita tidak dilahirkan untuk kematian, tetapi untuk kebangkitan. Faktanya, Santo Paulus menulis dalam Bacaan Kedua, bahkan sekarang “kewargaan kita adalah di dalam surga” (Flp 3:20) dan, seperti yang dikatakan Yesus dalam Bacaan Injil, kita akan dibangkitkan pada akhir zaman (lihat Yoh 6:40). Dan dalam Bacaan Pertama juga terlintas pemikiran akan kebangkitan dalam diri Yudas Makabe “sungguh suatu perbuatan yang sangat baik dan tepat” (2Mak 12.43). Hari ini kita juga dapat bertanya pada diri sendiri : apa yang terlintas dalam pikiran ku sehubungan dengan kebangkitan? Bagaimana aku menanggapi panggilanku untuk bangkit kembali?

Pertolongan pertama datang kepada kita dari Yesus, yang dalam Bacaan Injil hari ini mengatakan : “Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang” (Yoh 6:37). Inilah undangan-Nya: “Marilah kepada-Ku” (lihat Mat.11:28). Pergilah kepada Yesus, Pribadi yang hidup, untuk mendapatkan vaksinasi melawan kematian, melawan ketakutan bahwa segalanya akan berakhir. Pergi kepada Yesus : ini mungkin tampak seperti nasihat rohani yang di diskon dan generik. Tetapi marilah kita mencoba mewujudnyatakannya, mempertanyakan pada diri kita sendiri pertanyaan-pertanyaan seperti ini : Hari ini, dalam praktek yang ku jalani di kantor, apakah aku mendekati Tuhan? Apakah aku telah membuat berbagai alasan untuk berdialog dengan-Nya? Dan dalam diri orang-orang yang ku temui, apakah aku melibatkan Yesus, apakah aku membawa mereka kepada-Nya dalam doa? Atau apakah aku melakukan segalanya seraya tetap memikirkan diriku, hanya bersukacita dalam apa yang baik bagiku dan mengeluh tentang apa yang tidak berkenan kepadaku? Singkatnya, apakah aku hidup dengan pergi kepada Tuhan atau berputar di sekitar diriku? Apakah arah perjalananku? Apakah aku hanya berusaha membuat kesan yang baik, melindungi peran ku, waktuku dan ruang ku, atau apakah aku akan pergi kepada Tuhan?

Kalimat Yesus mengusik : Ia yang datang kepadaku, aku tidak akan mengusir-Nya. Seolah ingin mengatakan bahwa pengusiran itu diramalkan bagi orang kristiani yang tidak pergi kepada-Nya. Bagi mereka yang percaya tidak ada jalan tengah : kita tidak mungkin berasal dari Yesus dan berputar pada dirinya sendiri. Barangsiapa yang berasal dari Yesus hidup di pintu keluar menuju diri-Nya.

Hidup adalah seluruhnya pintu keluar: dari rahim ibu untuk datang kepada terang, dari masa kanak-kanak hingga memasuki masa remaja, dari masa remaja hingga kehidupan dewasa dan seterusnya, hingga ke pintu keluar dari dunia ini. Hari ini, seraya kita sedang mendoakan saudara kita, para kardinal dan para uskup, yang telah keluar dari kehidupan ini untuk pergi menemui Yesus yang bangkit, kita tidak dapat melupakan pintu keluar yang paling penting dan paling sulit, yang memberi makna kepada semua yang lainnya : keluar dari diri kita sendiri. Hanya dengan keluar dari diri kita sendiri kita membuka pintu yang menuntun kepada Tuhan. Kita memohon rahmat ini: “Tuhan, aku ingin datang kepada-Mu, melalui berbagai jalan dan sahabat sehari-hari. Tolonglah aku keluar dari diriku sendiri, untuk pergi menemui Engkau, yang adalah kehidupan“.

Saya ingin mengambil pemikiran kedua, merujuk pada kebangkitan, dari Bacaan Pertama, dari tindakan mulia yang dilakukan oleh Yudas Makabe terhadap orang mati. Dengan melakukan hal itu ia, ada tertulis, “ingat bahwa tersedialah pahala yang amat indah bagi sekalian orang yang meninggal dengan saleh” (2Mak 12.45). Artinya, orang yang meninggal dengan saleh menghasilkan pahala yang amat indah. Kesalehan terhadap orang lain membuka pintu keabadian. Membungkuk pada orang-orang yang membutuhkan guna melayani mereka adalah membuat ruang depan untuk surga. Jika memang, seperti diingatkan Santo Paulus kepada kita, “kasih tidak berkesudahan” (1 Kor 13:8), maka justru jembatan itulah yang menghubungkan bumi ke surga. Oleh karena itu, kita dapat bertanya pada diri kita sendiri apakah kita sedang berkembang di jembatan ini: apakah aku memperkenankan diriku tergerak oleh situasi seseorang yang membutuhkan? Bisakah aku menangis untuk mereka yang menderita? Aku mendoakan mereka yang tidak ada di pikiran ku? Apakah aku membantu seseorang yang tidak dapat mengembalikannya kepadaku? Itu bukan berbuat baik, itu bukan amal remeh-temeh; mereka adalah pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan, pertanyaan-pertanyaan tentang kebangkitan.

Akhirnya, rangsangan ketiga mengingat kebangkitan. Saya mengambilnya dari Latihan Rohani, yang disarankan oleh Santo Ignasius, sebelum membuat keputusan penting, membayangkan diri sendiri di hadapan Allah pada akhir zaman. Itulah panggilan untuk tampil tanpa bisa ditunda, titik kedatangan untuk semua orang, untuk kita semua. Kemudian, setiap pilihan hidup yang dihadapi dalam sudut pandang itu berorientasi dengan baik, karena lebih dekat dengan kebangkitan, yang merupakan makna dan tujuan hidup. Karena kepergian dihitung dari tujuan, sebagaimana penaburan dinilai dari panen, demikian pula kehidupan dinilai dengan baik mulai dari ujungnya, dari ujungnya. Santo Ignasius menulis : “Memikirkan bagaimana aku akan menemukan diriku pada hari penghakiman, kemudian memikirkan seolah-olah aku memutuskan tentang hal yang sekarang; dan kemudian peraturan yang ingin saya simpan, diambil sekarang” (Latihan Rohani, 187). Latihan Rohani bisa bermanfaat untuk melihat kenyataan dengan mata Tuhan dan tidak hanya dengan mata kita; memiliki pandangan yang diproyeksikan ke masa depan, kepada kebangkitan, dan tidak hanya kepada masa kini yang berlalu; membuat berbagai pilihan yang memiliki rasa keabadian, citarasa kasih.

Apakah aku pergi kepada Tuhan setiap hari? Apakah aku memiliki perasaan dan tindakan kesalehan terhadap orang-orang yang membutuhkan? Apakah aku membuat berbagai keputusan penting di hadapan Allah? Marilah kita dihasut oleh setidaknya satu dari tiga rangsangan ini. Kita akan semakin selaras dengan keinginan Yesus dalam Bacaan Injil hari ini : supaya dari semua yang telah diberikan Bapa kepada-Nya jangan ada yang hilang (lihat Yoh 6:39). Di antara banyak suara dunia yang membuat kita kehilangan makna keberadaan, marilah kita mendengarkan kehendak Yesus, dibangkitkan dan hidup : hari ini kita akan menjadikan hidup kita berkah fajar kebangkitan.

( Peter Suriadi – Bogor, 4 November 2019 )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *