Homili PAUS FRANSISKUS dalam Misa 8 April 2020

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 8 April 2020 : “YUDAS-YUDAS” KECIL ADA DI DALAM DIRI KITA
(https://pope-at-mass.blogspot.com/2020/04/homili-paus-fransiskus-dalam-misa-8.html)

Bacaan Ekaristi : Yes. 50:4-9a; Mzm. 69:8-10,21bcd-22,31,33-34; Mat. 26:14-25.

“Hari ini marilah kita mendoakan orang-orang yang selama masa pandemi ini, berdagang dengan mengorbankan orang-orang yang membutuhkan dan mengambil keuntungan dari kebutuhan orang lain, seperti para mafia, para rentenir dan lainnya. Semoga Tuhan menjamah hati mereka dan mempertobatkan mereka”, kata Paus Fransiskus mengawali Misa harian Rabu pagi, 8 April 2020, di kapel Casa Santa Marta, Vatikan.

Dalam homilinya, Paus Fransiskus mengacu pada Bacaan Injil (Mat. 26:14-25) yang menceritakan bagaimana Yudas mencapai kesepakatan dengan para imam kepala untuk mengkhianati Yesus dengan 30 uang perak.

Paus Fransiskus mengatakan bahwa Hari Rabu dalam Pekan Suci – juga dikenal sebagai “Hari Rabu Mata-mata” atau “Hari Rabu Pengkhianatan” – ketika Yudas menjual Gurunya. membuat kita berpikir tentang perdagangan budak dari Afrika ke Amerika. Perdagangan tersebut mungkin sudah lama sekali dan nun jauh di sana tetapi bahkan hari ini, setiap hari, orang-orang menjual sesamanya, seperti gadis-gadis Yazidi yang dijual kepada Daesh. Ada “Yudas-yudas”, yang menjual saudara-saudari mereka, mengeksploitasi mereka dalam pekerjaan mereka, tanpa upah yang adil, tanpa menghargai tugas mereka.

Mereka bahkan menjual benda-benda yang mereka sayangi. Paus Fransiskus memikirkan orang-orang yang merasa nyaman memindahkan jauh-jauh orangtua mereka ke panti jompo demi “keamanan” dan tidak melihat mereka lagi. “Mereka sedang menjualnya”, kata Paus Fransiskus. Oleh karena itu, ada pepatah umum bahwa orang semacam itu “mampu menjual ibunya sendiri”. Orang-orang seperti itu merasa damai karena orangtua mereka tetap aman dan diperhatikan.

Paus Fransiskus berbicara tentang perdagangan manusia dewasa ini, seperti pada masa-masa sebelumnya. Yesus memberikan status tuan kepada uang, ketika Ia berkata, “Kamu tidak bisa melayani Allah dan uang” – dua tuan. Dan Yesus memberikan dua pilihan kepada kita : “melayani Allah serta kamu akan leluasa dalam menyembah dan melayani, atau melayani uang dan kamu akan menjadi hamba uang”.

Tetapi kebanyakan ingin melayani Allah dan uang, kata Paus Fransiskus, yang tidak mungkin. Seraya berpura-pura melayani Allah dan uang, mereka berubah menjadi “pengeksploitasi yang tersembunyi, tanpa cacat sosial, tetapi di bawah meja mereka bahkan memperdagangkan manusia, bukan masalah”. “Eksploitasi manusia adalah menjual sesama kita”, Paus Fransiskus memperingatkan.

Berbicara tentang masa lalu Yudas, Paus Fransiskus berkata, kita tidak tahu. Ia pastilah seorang anak kebanyakan, mungkin dengan kecemasan, tetapi Tuhan memanggilnya untuk menjadi seorang murid. Namun, Yudas tidak pernah berhasil memiliki “lidah dan hati seorang murid”, seperti dikatakan Bacaan Pertama (Yes. 50:4-9a).

Meskipun Yudas lemah dalam pemuridan, Yesus mengasihinya. Dari kisah di rumah Lazarus, di mana Maria mengurapi kaki Yesus dengan minyak wangi yang mahal, Injil membuat kita mengerti bahwa Yudas menyukai uang. Santo Yohanes menjelaskan bahwa Yudas menyesali pemborosan minyak wangi bukan karena ia mengasihi orang-orang miskin tetapi karena ia adalah seorang pencuri.

Cinta uang, kata Paus Fransiskus, membawanya melampaui aturan, serta “antara mencuri dan mengkhianati, hanya ada satu langkah kecil”. “Mereka yang terlalu mencintai uang, mengkhianati [sesama] untuk mendapatkan semakin banyak, senantiasa”, adalah sebuah aturan dan kaidah umum. “Karena itu, Yudas, mungkin seorang anak yang baik, dengan niat yang baik, akhirnya menjadi pengkhianat sampai pergi ke pasar untuk menjual”.

Terlepas dari semua ini, Paus Fransiskus menunjukkan, secara pribadi Yesus tidak pernah menyebut Yudas sebagai “pengkhianat”. Sebaliknya, Yesus memanggilnya “sahabat” dan menciumnya. Paus Fransiskus mengatakan inilah misteri Yudas.

Namun, Yesus menghardik sang pengkhianat tersebut : “Celakalah orang yang olehnya Putra Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan”. Apakah Yudas ada di neraka, kita tidak yakin, kata Paus Fransiskus, memberi perhatian pada perkataan Yesus, “sahabat”.

Paus Fransiskus mengatakan bahwa kisah Yudas juga menunjukkan fakta bahwa Iblis adalah kasir yang miskin. “Ia tidak bisa diandalkan; ia menjanjikan segalanya, menunjukkan segalanya dan pada akhirnya meninggalkanmu sendirian dalam keputusasaan hingga menggantung diri”.

Gelisah dan tersiksa di antara keserakahan dan mengasihi Yesus, Yudas kembali kepada para imam untuk memohon pengampunan, memohon keselamatan, tetapi disambut dengan, “Apa urusan kami dengan itu? Itu urusanmu sendiri!”. Paus Fransiskus mengatakan ini cara iblis berbicara, membuat kita putus asa.

Dalam hal ini, Bapa Suci berbicara tentang banyak “Yudas yang dilembagakan di dunia ini yang mengeksploitasi orang-orang”. Ada juga jenis Yudas kecil dalam diri kita masing-masing, terutama ketika “memilih antara loyalitas dan kepentingan”.

“Kita masing-masing”, Paus Fransiskus menunjukkan, “memiliki kemampuan untuk mengkhianati, menjual, memilih untuk kepentingan kita sendiri”. “Kita masing-masing memiliki kesempatan untuk membiarkan diri kita tertarik oleh cinta uang, barang atau kesejahteraan masa depan”.

( Peter Suriadi – Bogor, 8 April 2020 )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *