Homili PAUS FRANSISKUS dalam Misa 26 Maret 2020 - Paroki St. FRANSISKUS ASISI - Sukasari

Homili PAUS FRANSISKUS dalam Misa 26 Maret 2020

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 26 Maret 2020 : BERHALA-BERHALA TERSEMBUNYI DI DALAM HATI KITA
http://(https://pope-at-mass.blogspot.com/2020/03/homili-paus-fransiskus-dalam-misa-26.html)

Bacaan Ekaristi : Kel. 32:7-14; Mzm. 106:19-20,21-22,23; Yoh. 5:31-47.

“Pada hari-hari ini ada begitu banyak penderitaan. Ada banyak ketakutan”, kata Paus Fransiskus mengawali Misa harian Kamis pagi, 26 Maret 2020, di Casa Santa Marta, Vatikan. “Rasa takut orang-orang yang lanjut usia yang sendirian di panti jompo, atau rumah sakit, atau di rumah mereka sendiri, dan tidak tahu apa yang akan terjadi. Ketakutan mereka yang tidak memiliki pekerjaan tetap dan memikirkan cara memberi makan anak-anak mereka. Mereka memperkirakan anak-anak tersebut akan kelaparan. Ketakutan banyak pegawai negeri. Saat ini mereka sedang bekerja untuk menjaga agar masyarakat tetap berfungsi dan mereka mungkin sakit. Ada juga ketakutan, berbagai ketakutan, berbagai ketakutan kita masing-masing. Kita masing-masing tahu apa ketakutan mereka. Kita berdoa kepada Tuhan agar Ia sudi membantu kita untuk percaya, serta sabar menghadapi dan mengatasi ketakutan ini”.

Dalam homilinya, Paus Fransiskus mengajak untuk merenungkan bagaimana penyembahan berhala mempengaruhi segenap hidup kita. Beliau mengacu pada Bacaan Pertama liturgi hari itu (Kel 32:7-14). Paus Fransiskus menjelaskan bagaimana bangsa terpilih berubah menjadi bangsa yang menyembah berhala. Mereka kehilangan kesabaran menunggu kembalinya Musa dari gunung Sinai. Mereka “bosan”, kata Paus Fransiskus. “Nostalgia penyembahan berhala” menyalip mereka.

“Penyembahan berhala adalah kemurtadan yang sesungguhnya. Dari Allah yang hidup menjadi penyembahan berhala …. tidak tahu bagaimana menunggu Allah yang hidup. Nostalgia ini merupakan sebuah penyakit, yang merupakan penyakit kita. Kita mulai berjalan dengan antusias menuju kebebasan, tetapi kemudian mulai berkeluh kesah : ‘Ini benar-benar sulit. Berada di sebuah padang gurun. Aku haus. Aku ingin air. Aku ingin daging … Di Mesir kita makan enak. Di sini tidak ada apa-apa'”.

Paus Fransiskus kemudian menggambarkan bagaimana penyembahan berhala “pilih-pilih”. “Penyembahan berhala membuat mu memikirkan hal-hal baik yang diberikan kepadamu. Tetapi penyembahan berhala tidak memungkinkan kamu melihat hal-hal buruk”. Bangsa terpilih mengingat semua hal baik yang ada di meja mereka ketika mereka berada di Mesir. “Tetapi mereka lupa bahwa itu adalah meja perbudakan”, Paus Fransiskus menunjukkan.

Para penyembah berhala kehilangan segalanya, lanjut Paus Fransiskus. Bangsa terpilih menyerahkan semua emas dan perak yang mereka miliki untuk membuat anak lembu emas. Mereka membangun anak lembu emas dengan pemberian Tuhan. Tuhanlah yang seharusnya meminta emas kepada orang Mesir sebelum mereka melarikan diri.

“Mekanisme ini juga terjadi pada kita. Ketika kita melakukan hal-hal yang menuntun kita pada penyembahan berhala, kita menjadi terikat pada hal-hal yang menjauhkan kita dari Allah. Kita membuat ilah lain dengan karunia yang telah diberikan Tuhan : dengan kecerdasan kita, kehendak kita, cinta kita, hati kita. Kita menggunakan karunia Tuhan untuk membuat berhala-berhala”.

Salib atau gambar Bunda Maria yang kita miliki di rumah kita bukanlah berhala kita. “Berhala-berhala ada di hati kita”, kata Paus Fransiskus. Kita masing-masing harus mengajukan pertanyaan pada diri kita berhala-berhala apakah yang telah kita sembunyikan di dalam hati kita. Penyembahan berhala bahkan dapat memengaruhi doa kita. Akhirnya, bangsa terpilih ingin menyembah berhala-berhala yang mereka buat. Salah satu cara kita melakukan hal ini adalah dengan mengubah “perayaan sakramen menjadi perayaan sekuler”, kata Paus Fransiskus.

“Apakah berhala-berhalaku?” “Di mana aku menyembunyikan mereka?” Inilah pertanyaan yang harus diajukan kepada diri kita hari ini, kata Paus Fransiskus mengakhiri homilinya. “Semoga Tuhan tidak mendapati kita di akhir hayat kita dan berkata kepada kita : ‘Kamu sesat. Kamu menyimpang dari jalan yang Ku tandai. Kamu menyembah berhala’. Kita memohonkan kepada Tuhan rahmat untuk mengenali berhala-berhala kita”.

( Peter Suriadi – Bogor, 26 Maret 2020 )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *