Homili PAUS FRANSISKUS dalam Misa 24 Maret 2020 - Paroki St. FRANSISKUS ASISI - Sukasari

Homili PAUS FRANSISKUS dalam Misa 24 Maret 2020

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 24 Maret 2020 : KEGANJILAN ORANG LUMPUH YANG DISEMBUHKAN YESUS ADALAH CERMINAN DIRI KITA
(https://pope-at-mass.blogspot.com/2020/03/homili-paus-fransiskus-dalam-misa-24.html)

Bacaan Ekaristi : Yeh. 47:1-9,12; Mzm. 46:2-3,5-6,8-9; Yoh. 5:1-16.

“Saya menerima berita bahwa pada hari-hari ini, sejumlah dokter dan imam telah meninggal dunia, saya tidak tahu entah ada beberapa perawat. Mereka terpapar … karena mereka sedang melayani orang sakit. Marilah kita mendoakan mereka, keluarga-keluarga mereka. Saya bersyukur kepada Allah atas teladan kepahlawanan yang mereka berikan kepada kita dalam merawat orang sakit”, kata Paus Fransiskus mengawali Misa harian Selasa pagi, 24 Maret 2020, di Casa Santa Marta, Vatikan.

Dalam homilinya Paus Fransiskus berfokus pada tema air yang ditawarkan oleh Bacaan-bacaan liturgi hari itu (Yeh 47:1-9,12; Yoh 5:1-16). Paus Fransiskus mengawali homilinya dengan mengatakan bahwa Bacaan-bacaan hari itu menghadirkan air sebagai tanda dan sarana keselamatan. Air ini membawa kehidupan, dan memulihkan “air laut”, menjadikannya “air yang baru”.

Di tepi sebuah kolam Yesus berjumpa dengan seorang yang lumpuh. Ia sudah menunggu untuk disembuhkan di tepi kolam itu selama 38 tahun. Paus Fransiskus kemudian menggali keganjilan orang yang menunggu selama itu tanpa melakukan apa pun untuk membantu dirinya sendiri. “Keganjilan itu membuat kita berpikir. Berpikir agak lama, bukan? Karena seseorang yang ingin disembuhkan akan mengusahakan berbagai hal agar seseorang sudi menolongnya ….”.

Jawabannya juga membuat kita heran. “Ia tidak mengatakan ‘Ya’; ia protes. Tentang penyakitnya? Tidak”, kata Paus Fransiskus. Kita juga tidak melihatnya melonjak kegirangan atau “menceritakan kepada seluruh dunia” seperti yang dilakukan orang lain setelah mereka disembuhkan. Ia bahkan tidak berterima kasih kepada Yesus ketika mereka bertemu lagi di Bait Suci. Sebaliknya, ia pergi untuk memberitahu pihak berwenang. Apa yang salah dengan orang ini?

“Hatinya sakit. Jiwanya sakit. Ia sakit karena pesimisme … karena kesedihan … karena suam-suam kuku. Inilah penyakit orang itu. ‘Ya, aku ingin hidup’, dan ia hanya berdiam di sana. Apakah jawabannya : ‘Ya, aku ingin disembuhkan’? Tidak, jawabannya ‘selalu orang lain yang lebih dulu’. Jawabannya selalu orang lain. Jawaban atas tawaran penyembuhan Yesus adalah mengeluh tentang orang lain … selama 38 tahun … tidak melakukan apa pun untuk disembuhkan”.

Paus Fransiskus kemudian menggambarkan hal ini sebagai “dosa bertahan hidup dan mengeluh tentang kehidupan orang lain”. Dosa tersebut menghambat orang ini untuk “membuat keputusan apa pun demi hidupnya sendiri”. “‘Aku adalah korban kehidupan ini’. Orang-orang semacam ini bernafas dengan mengeluh”, kata Paus Fransiskus. Kita tidak melihat “sukacita dan ketegasan” yang dimiliki orang yang buta sejak lahir itu setelah disembuhkan. “Banyak dari kita orang Kristiani hidup dalam keadaan suam-suam kuku ini”, kata Paus Fransiskus.

“Mereka tidak mampu melakukan banyak hal tetapi mereka mengeluh tentang segalanya. Suam-suam kuku adalah racun. Suam-suam kuku adalah kabut yang mengelilingi jiwa yang tidak memperkenankannya hidup. Suam-suam kuku juga suatu obat karena jika kamu sering mencicipinya, kamu menyukainya. Kamu akhirnya kecanduan kesedihan, kecanduan suam-suam kuku … Inilah dosa yang agak biasa di antara kita. Kesedihan, suam-suam kuku … Saya tidak akan mengatakan kemurungan, tetapi sangat mirip …. Kehidupan yang abu-abu, abu-abu oleh karena semangat yang buruk dari suam-suam kuku, kesedihan, kemurungan”.

Paus Fransiskus mengakhiri homilinya dengan mendorong kita untuk membaca ulang Injil Yohanes bab 5. “Marilah kita memikirkan air, air yang merupakan lambang kekuatan kita, lambang kehidupan kita – air yang digunakan Yesus untuk membangkitkan kita dalam pembaptisan. Marilah kita juga memikirkan diri kita – jika ada bahaya bahwa salah seorang dari kita mungkin tergelincir ke dalam suam-suam kuku ini, ke dalam dosa “netral” ini – tidak hitam maupun tidak putih …. Inilah sebuah dosa yang dapat digunakan iblis untuk menenggelamkan kehidupan rohani kita dan kehidupan pribadi kita. Semoga Tuhan membantu kita memahami betapa mengerikan dan jahatnya dosa ini”.

( Peter Suriadi – Bogor, 24 Maret 2020 )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *