Homili PAUS FRANSISKUS dalam Misa 23 April 2020

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 23 April 2020 : MENOLAK PERMUFAKATAN IMAN DEMI MENYELAMATKAN DIRI SENDIRI
(https://pope-at-mass.blogspot.com/2020/04/homili-paus-fransiskus-dalam-misa-23April2020.html)

Bacaan Ekaristi : Kis. 5:27-33; Mzm. 34:2,9,17-18,19-20; Yoh. 3:31-36.

“Di banyak tempat, salah satu dampak dari pandemi ini adalah banyak keluarga mendapati diri mereka berkekurangan, dan mereka lapar”, kata Paus Fransiskus mengawali Misa harian Kamis pagi, 23 April 2020, di kapel Casa Santa Marta, Vatikan. Sayangnya para lintah darat yang tidak bermoral mendapatkan keuntungan dari situasi ini. “Inilah pandemi lain, virus lain : sebuah pandemi sosial”, lanjut Paus Fransiskus.

Banyak keluarga yang sedang tidak bekerja dan tidak memiliki makanan untuk diletakkan di atas meja bagi anak-anak mereka, lanjut Paus Fransiskus, menjadi mangsa para lintah darat yang akhirnya mengambil kepunyaan mereka yang sedikit itu.

“Marilah kita mendoakan”, kata Paus Fransiskus, “keluarga-keluarga ini, martabat mereka, dan marilah kita juga mendoakan para lintah darat : agar Tuhan sudi menjamah hati mereka dan mempertobatkan mereka.

Dalam homilinya Paus Fransiskus berkaca pada Bacaan Pertama liturgi hari itu (Kis. 5:27-33). Beliau mengatakan bahwa Bacaan Pertama menceritakan saat Petrus dan Yohanes dibawa oleh para pengawal untuk dihadapkan kepada Mahkamah Agama dan Imam Besar mulai menanyai mereka dengan mengatakan, “Dengan keras kami melarang kamu mengajar dalam Nama itu, nama Yesus”. Namun, Paus Fransiskus melanjutkan, “ternyata, kamu telah memenuhi Yerusalem dengan ajaranmu dan kamu hendak menanggungkan darah Orang itu kepada kami”.

Tetapi Paus Fransiskus mengatakan, para Rasul, dan terutama Petrus, “dengan berani dan tidak gentar” menjunjung imannya dengan mengatakan, “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia. Kita taat kepada Allah dan kamu bersalah”. Paus Fransiskus mencatat bahwa Petrus, adalah orang telah menyangkal Yesus, sekaligus “penuh ketakutan dan bahkan seorang pengecut”. “Bagaimana ia sampai pada titik ini?”, beliau bertanya.

Roh Kuduslah, Paus Fransiskus menjelaskan, mengutip kitab Kisah Para Rasul, “yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia” (5:32). Petrus, lanjut Paus Fransiskus, dapat memilih untuk bermufakat, memilih nada yang lebih lembut ketika berkhotbah dengan orang-orang agar diperkenankan dalam damai. Tetapi ia memilih untuk melakukan sebuah perjalanan yang di dalamnya ia menunjukkan keberanian dan tidak gentar, kata Paus Fransiskus. Beliau mencatat bahwa “dalam sejarah Gereja, umat Gereja harus sering melakukan hal ini untuk menyelamatkan umat Allah”. Dalam kesempatan lain, para pemimpin Gereja telah bermufakat untuk menyelamatkan diri mereka sendiri, ketimbang “Gereja yang kudus”.

Menjunjung sosok Petrus yang menolak untuk melakukan permufakatan iman, tetapi memilih untuk berani. Paus Fransiskus mengatakan, “Ia mengasihi dengan penuh gairah, tetapi ia juga takut”. “Ia adalah orang yang terbuka kepada Allah sampai-sampai Allah menyatakan kepadanya bahwa Yesus adalah Putra Allah, tetapi kemudian ia jatuh ke dalam godaan untuk menyangkal Yesus”, Paus Fransiskus mengingatkan. Tetapi kemudian ia beralih dari godaan menuju anugerah.

Berasal darimanakah kekuatan itu – rahasianya? – Paus Fransiskus bertanya. Ada sebuah ayat, beliau menjelaskan, yang akan membantu kita memahami : “Sebelum sengsara-Nya Yesus berkata kepada para rasul, ‘Iblis ingin kamu ditampi seperti gandum’, inilah saat pencobaan, kamu akan ditampi seperti gandum”. “Dan kepada Petrus Yesus berkata : ‘tetapi Aku telah berdoa untukmu, agar imanmu tidak jatuh'”, kata Paus Fransiskus.

“Marilah kita memikirkan bagaimana Petrus dapat berkembang di jalan ini dari seorang pengecut menjadi orang yang berani dengan karunia Roh Kudus. Terima kasih atas doa Yesus, (…) dan marilah kita bersyukur bahwa Ia mendoakan kita masing-masing”.

Paus Fransiskus mengakhiri homilinya dengan mengatakan bahwa sama seperti Yesus mendoakan Petrus, Ia pun mendoakan kita semua. Kemudian beliau menganjurkan umat beriman untuk tidak hanya berdoa kepada Yesus agar Ia sudi “memberikan kita suatu rahmat atau lainnya” tetapi juga merenungkan Yesus yang menunjukkan luka-luka-Nya kepada Bapa.

“Mari kita memikirkan bagaimana Petrus dapat berkembang di jalan ini dari seorang pengecut menjadi orang yang berani dengan karunia Roh Kudus. Terima kasih atas doa Yesus, (…) dan marilah kita bersyukur bahwa Ia mendoakan kita masing-masing”.

“Kita perlu lebih percaya diri”, kata Paus Fransiskus, “lebih daripada doa kita sendiri”, dalam doa di mana Yesus, Sang Pengantara, mengatakan kepada kita : “Marilah kita memohonkan rahmat untuk memperkenankan Tuhan mengajari kita bagaimana memohonkan kepada-Nya rahmat saling mendoakan”.

( Peter Suriadi – Bogor, 23 April 2020 )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *