Homili PAUS FRANSISKUS dalam Misa 15 Mei 2020

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 15 Mei 2020 : BAHAYA KEKAKUAN
(https://pope-at-mass.blogspot.com/2020/05/homili-paus-fransiskus-dalam-misa-15-Mei-2020.html)

Bacaan Ekaristi : Kis. 15:22-31; Mzm. 57:8-9,10-12; Yoh. 15:12-17.

Dalam Kitab Kisah Para Rasul kita melihat bahwa di dalam Gereja, pada awalnya, ada masa-masa damai, dikatakan berkali-kali : Gereja tumbuh, dalam kedamaian, dan Roh Tuhan menyebar (bdk. Kis 9:31); masa-masa damai. Ada juga masa-masa penganiayaan, dimulai dengan penganiayaan terhadap Stefanus (bdk. bab 6-7), kemudian Paulus sang penganiaya, yang bertobat, kemudian juga dianiaya … Masa-masa damai, masa-masa penganiayaan, dan ada juga masa-masa gangguan . Dan ini adalah topik dari bacaan pertama hari ini: masa kekacauan (bdk. Kis 15:22-31). “Kami telah mendengar – para Rasul menulis kepada orang-orang Kristiani bukan Yahudi – kami mendengar bahwa ada beberapa orang di antara kami, yang tiada mendapat pesan dari kami, telah menggelisahkan dan menggoyangkan hatimu dengan ajaran mereka” (ayat 24).

Apa yang telah terjadi? Orang-orang Kristiani bukan Yahudi ini percaya kepada Yesus Kristus dan menerima baptisan, dan bahagia : mereka telah menerima Roh Kudus. Dari kafir menjadi kristen, tanpa tahap peralihan. Sebaliknya, orang-orang yang menyebut diri mereka “kaum Yudais” berpendapat bahwa hal ini tidak dapat dilakukan. Jika ia adalah orang kafir, pertama-tama ia harus menjadi orang Yahudi, orang Yahudi yang baik, dan kemudian menjadi orang Kristiani, berada di garis pemilihan umat Allah. Dan orang-orang Kristiani ini tidak memahami hal ini: “Tetapi bagaimana, kami adalah orang-orang Kristiani kelas dua? Tidak bisakah kita beralih dari kafir langsung ke Kristen? Bukankah kebangkitan Kristus meniadakan hukum kuno dan membawanya kepada kepenuhan yang lebih besar?”. Mereka bermasalah dan ada banyak perdebatan di antara mereka. Dan mereka yang menginginkan hal ini adalah orang-orang yang dengan argumen pastoral, argumen teologis, bahkan beberapa moral, berpendapat bahwa tidak, bahwa kita seharusnya mengambil langkah seperti ini! Dan hal ini mempertanyakan kebebasan Roh Kudus, juga kecuma-cumaan kebangkitan dan rahmat Kristus, mereka metodis, dan juga kaku.

Tentang semua ini, tentang para pengajar mereka, tentang para ahli Taurat, Yesus berkata, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka”. Kurang lebih inilah yang dikatakan Yesus dalam Injil Matius bab 23 (bdk. ayat 15). Orang-orang ini, yang “ideologis” ketimbang “dogmatis”, “ideologis”, telah mereduksi Hukum, dogma menjadi sebuah ideologi : “ini harus dilakukan, dan ini, dan ini …”. Agama resep, dan dengan ini mereka mengambil kebebasan Roh. Dan orang-orang yang mengikuti mereka adalah orang-orang yang kaku, orang-orang yang tidak merasa nyaman, tidak mengenal sukacita Injil. Kesempurnaan cara mengikuti Yesus adalah kekakuan : “Kamu harus melakukan ini, ini, ini, ini …”. Orang-orang ini, para ahli Taurat ini “memanipulasi” hati nurani umat dan juga membuat hati nurani umat kaku atau lenyap.

Karena alasan ini, saya mengulanginya berkali-kali dan saya mengatakan bahwa kekakuan bukan berasal dari Roh yang baik, karena kekakuan tersebut mempertanyakan kecuma-cumaan penebusan, kecuma-cumaan kebangkitan Kristus. Dan ini adalah persoalan yang lama : selama sejarah Gereja, ini telah berulang. Pikirkan para pengikut Pelagian, ini … ini kaku, terkenal. Dan bahkan di zaman kita, kita telah melihat beberapa organisasi kerasulan yang kelihatannya terkelola dengan sangat baik, yang bekerja dengan baik …, tetapi semuanya kaku, semuanya setara satu sama lain, dan kemudian kita belajar tentang korupsi yang ada di dalamnya, bahkan di dalam para pendirinya.

Di mana ada kekakuan tidak ada Roh Allah, karena Roh Allah adalah kebebasan. Dan orang-orang ini ingin mengambil langkah-langkah dengan menghilangkan kebebasan Roh Allah dan kecuma-cumaan penebusan: “Untuk dibenarkan, kamu harus melakukan ini, ini, ini, ini …”. Pembenaran cuma-cuma. Wafat dan kebangkitan Kristus cuma-cuma. Kamu tidak membayar, kamu tidak membeli : suatu karunia! Dan kekakuan tidak mau melakukan hal ini.

Jalannya [cara selanjutnya] indah : para rasul berkumpul di sidang ini dan pada akhirnya menulis surat yang mengatakan: “Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban dari pada yang perlu ini … ” (Kis 15:28), dan mereka menempatkan lebih banyak kewajiban moral dan akal sehat ini : tidak merancukan kekristenan dengan paganisme, dengan menjauhkan diri dari daging yang dipersembahkan kepada berhala, dan lainnya. Dan pada akhirnya, orang-orang Kristiani yang bermasalah ini berkumpul dalam sidang, menerima surat itu dan, “setelah membaca surat itu, jemaat bersukacita karena isinya yang menghiburkan” (ayat 31). Dari gangguan menjadi sukacita. Roh kekakuan selalu membuatmu bingung, “Tetapi apakah aku melakukan ini dengan baik? Apakah aku tidak melakukannya dengan baik?”. Kegelisahan. Roh kebebasan injili menuntunmu pada sukacita, karena inilah yang dilakukan Yesus dengan kebangkitan-Nya : Ia membawa sukacita! Hubungan dengan Allah, hubungan dengan Yesus bukanlah hubungan yang demikian, dengan “melakukan sesuatu” : “Aku melakukan ini dan kamu memberiku ini”. Hubungan seperti itu, saya katakan – maafkan saya Tuhan – komersial, tidak! Cuma-cuma, sama seperti hubungan Yesus dengan para murid cuma-cuma. “Kamu adalah sahabat-Ku” ( Yoh 15:14). “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, tetapi Aku menyebut kamu sahabat” (bdk. ayat 15). “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu” (ayat 16). Ini adalah kecuma-cumaan.

Kita mohon kepada Tuhan untuk membantu kita membedakan kecuma-cumaan buah-buah Injil dari buah-buah kekakuan yang tidak injili, dan untuk membebaskan kita dari berbagai gangguan orang-orang yang menempatkan iman, kehidupan iman di bawah resep-resep kasus, resep-resep yang tidak masuk akal. Saya merujuk pada resep-resep yang tidak masuk akal ini, bukan pada Perintah. Hal itu membebaskan kita dari roh kekakuan yang merenggut kebebasanmu.

( Peter Suriadi – Bogor, 15 Mei 2020 )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *