Homili PAUS FRANSISKUS dalam Misa 14 Mei 2020

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 14 Mei 2020 : BANYAK PANDEMI LAIN SELAIN PANDEMI VIRUS CORONA
(https://pope-at-mass.blogspot.com/2020/05/homili-paus-fransiskus-dalam-misa-14-Mei-2020.html)

Bacaan Ekaristi : Yun 3:1-10; Mzm. 113:1-2,3-4,5-6,7-8; Yoh. 15:9-17.

Dalam Bacaan Pertama kita mendengar kisah Yunus, dengan corak masa itu. Karena, kita tidak tahu, ada “beberapa pandemi” di kota Niniwe, “pandemi moral, mungkin, [kota] akan segera dihancurkan (bdk. Yun 3:1-10). Dan Allah mengutus Yunus untuk berkhotbah : doa dan silih, doa dan puasa (bdk. ayat 7-8). Dalam menghadapi pandemi itu, Yunus menjadi takut dan melarikan diri (bdk. Yun 1:1-3). Kemudian Tuhan memanggilnya untuk kedua kalinya dan ia setuju untuk pergi dan memberitakan hal ini (bdk. Yun 3:1-2). Dan hari ini kita semua, saudara dan saudari dari semua tradisi keagamaan, berdoa. <Hari ini adalah> Hari Doa dan Puasa, Silih <Sedunia>, diadakan oleh Komite Tinggi Persaudaraan Umat Manusia. Kita masing-masing berdoa, komunitas-komunitas berdoa, para penganut agama berdoa, mereka berdoa kepada Allah: semua saudara, bersatu dalam persaudaraan, yang mendekatkan kita dalam saat dukacita dan tragedi ini.

Kita tidak sedang mengharapkan pandemi ini. Pandemi datang tanpa kita harapkan, tetapi sekarang ada. Dan begitu banyak orang meninggal. Begitu banyak orang meninggal sendirian dan begitu banyak orang meninggal tanpa bisa berbuat apa-apa. Pikiran berikut sering muncul : ‚ÄúPandemi tidak menyentuhku; syukur kepada Allah, aku telah terhindar”. Tetapi pikirkan orang lain! Pikirkan tragedi dan akibat ekonomi, akibat pendidikan, akibat-akibatnya … apa yang akan terjadi setelah itu. Dan, oleh karena itu, hari ini semua saudara dan saudari, apapun pengakuan keagamaannya, berdoa kepada Allah. Mungkin ada seseorang yang akan mengatakan : “Ini adalah penisbian keagamaan dan doa tersebut tidak boleh dilakukan”. Tetapi mengapa berdoa kepada Bapa dari semua orang tidak bisa dilakukan? Masing-masing orang berdoa sebagaimana yang ia kenal, yang ia bisa, sebagaimana yang ia terima dari budayanya. Kita tidak sedang saling mendoakan, Tradisi keagamaan ini bertentangan dengan <Tradisi keagamaan> itu, tidak! Kita semua dipersatukan sebagai umat manusia, sebagai saudara, bukan berdoa kepada Allah menurut budaya kita sendiri, menurut Tradisi kita sendiri, menurut keyakinan kita sendiri, tetapi sebagai saudara berdoa kepada Allah <dan> hal ini penting! Saudara-saudara, berpuasa, memohon pengampunan Allah atas dosa-dosa kita, agar Tuhan sudi mengasihani kita, agar Tuhan sudi mengampuni kita, agar Tuhan sudi menghentikan pandemi ini. Hari ini adalah hari persaudaraan, memandang Bapa yang satu, sumber persaudaraan – Hari Doa.

Tahun lalu, faktanya pada bulan November tahun lalu, kita tidak tahu apa itu pandemi : pandemi datang seperti air bah, pandemi tiba-tiba datang. Sekarang kita sedang sedikit terbangun. Namun, ada begitu banyak pandemi yang membuat orang meninggal dan kita tidak menyadarinya, kita melihat di tempat lain. Kita agak tidak sadar dalam menghadapi tragedi yang sedang terjadi di dunia saat ini. Saya hanya ingin menyebutkan kepadamu statistik resmi empat bulan pertama tahun ini, yang tidak merujuk pada pandemi virus Corona tetapi pandemi lainnya. Dalam empat bulan pertama tahun ini, 3,7 juta orang meninggal karena kelaparan. Ada pandemi kelaparan. Dalam empat bulan, hampir empat juta orang <meninggal>. Doa hari ini untuk memohon kepada Tuhan agar menghentikan pandemi ini, harus membuat kita memikirkan pandemi-pandemi lain di dunia. Ada begitu banyak – pandemi perang, pandemi kelaparan, dan banyak pandemi lainnya! Namun, apa yang penting adalah bahwa hari ini – bersama-sama dan terima kasih atas keberanian yang dimiliki Komite Tinggi Persaudaraan Umat Manusia – kita diundang untuk berdoa, menurut Tradisi masing-masing dan melaksanakan hari silih dan puasa dan juga amal, membantu sesama. Inilah apa yang penting. Kita mendengar dalam Kitab Yunus bahwa Tuhan – ketika Ia melihat bagaimana orang-orang bereaksi, yang bertobat, Tuhan berhenti, Ia menghentikan apa yang ingin Ia lakukan.

Semoga Allah menghentikan tragedi ini, semoga Ia menghentikan pandemi ini. Semoga Allah mengasihani kita dan juga menghentikan banyak pandemi yang mengerikan lainnya : pandemi kelaparan, pandemi perang, pandemi anak-anak tanpa pendidikan. Dan kita memohonkan hal ini sebagai saudara, semuanya bersama-sama. Semoga Allah memberkati kita semua dan mengasihani kita semua.

( Peter Suriadi – Bogor, 14 Mei 2020 )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *