Homili PAUS FRANSISKUS dalam Misa 12 Mei 2020

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 12 Mei 2020 : DAMAI SEJAHTERA YANG DIBERIKAN YESUS
(https://pope-at-mass.blogspot.com/2020/05/homili-paus-fransiskus-dalam-misa-12-Mei-2020.html)

Bacaan Ekaristi : Kis. 14:19-28; Mzm. 145:10-11,12-13ab,21; Yoh. 14:27-31a.

Paus Fransiskus mengawali Misa harian Selasa pagi, 12 Mei 2020, di kapel Casa Santa Marta, Vatikan, dengan mendoakan para perawat. Lebih dari sekadar profesi, beliau mengatakan, perawat adalah sebuah panggilan. Beliau mengakui bahwa perawat adalah sebuah panggilan yang, terutama di masa pandemi ini, ditandai oleh kepahlawanan – bahkan sampai memberikan nyawanya.

Dalam homilinya, Paus Fransiskus bercermin pada kata-kata Yesus dalam Bacaan Injil Yoh. (14:27-31a) : “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu” (Yoh 14:27). Damai sejahtera ini bukan “damai sejahtera universal”, damai sejahtera yang berasal dari ketiadaan perang, kata Paus Fransiskus. Melainkan “damai sejahtera” di dalam hati, damai sejahtera dalam jiwa kita, damai sejahtera yang ada di dalam diri kita semua”.

Dalam Bacaan Injil, Yesus mengatakan bahwa damai sejahtera yang akan Ia berikan bukanlah damai sejahtera duniawi : “Tidak seperti yang diberikan dunia Aku memberikannya kepadamu”. Damai sejahtera dunia ini, kata Paus Fransiskus, adalah damai sejahtera yang diberikan oleh hal-hal yang secara dangkal menyenangkan bagi saya. Damai sejahtera itu adalah semacam “kepunyaan pribadi, sesuatu yang saya miliki dalam keterasingan dari orang lain, sesuatu yang saya simpan untuk diri saya sendiri”. Tanpa disadari, damai sejahtera semacam ini dapat meninabobokan kita menjadi ketenangan yang mengantuk, di mana kita akhirnya tertutup pada diri kita sendiri. “Agak bersifat egois”, kata Paus Fransiskus.

Juga damai sejahtera yang “mahal”, karena orang-orang yang mencarinya harus selalu mengubah apa yang memberi mereka damai sejahtera itu. “Damai sejahtera tersebut mahal karena bersifat sementara dan gersang”.

Damai sejahtera yang diberikan Yesus sangat berbeda, kata Paus Fransiskus. “Damai sejahtera yang membuatmu bergerak. Damai sejahtera tersebut tidak mengasingkanmu”. Sebaliknya, damai sejahtera yang diberikan Yesus menuntunmu untuk menjangkau orang lain, “menciptakan komunitas dan komunikasi”. Sementara damai sejahtera yang diberikan dunia berbiaya sangat besar, damai sejahtera yang diberikan Yesus sepenuhnya cuma-cuma, karunia Tuhan.

Paus Fransiskus memberikan contoh dari Injil tentang orang kaya yang lumbungnya dipenuhi gandum, yang mengira ia baik-baik saja, dan bahkan ingin membangun lumbung lebih banyak lagi. “Tetapi Tuhan berkata kepadanya, ‘Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?’ (Luk 12:20)”. Damai sejahtera duniawi ini “tidak membukakan pintu menuju masa depan, menuju surga”, kata Paus Fransiskus, tetapi hanya mementingkan dirinya sendiri.

Damai sejahtera yang diberikan Yesus, di sisi lain, selalu berfokus pada Tuhan. Damai sejahtera yang bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa depan : “Damai sejahtera adalah memulai untuk hidup di surga, dengan kelimpahan surga”. Damai sejahtera duniawi dapat meninabobokan kita untuk tidur laksana obat … tetapi kita terus-menerus membutuhkan “dosis” lain. Damai sejahtera duniawi ini terbatas, karena selalu bersifat sementara; tetapi damai sejahtera yang diberikan Yesus, “pasti, berlimpah, dan memapar”.

Mengakhiri homilinya, Bapa Suci berdoa, “Semoga Tuhan memberi kita damai sejahtera yang memberi harapan, yang menciptakan komunitas, dan yang memandang damai sejahtera surga yang pasti ini”.

( Peter Suriadi – Bogor, 12 Mei 2020 )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *