Homili PAUS FRANSISKUS dalam Misa 100 TAHUN Kelahiran Santo YOHANES PAULUS II 18 Mei 2020

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 100 TAHUN KELAHIRAN SANTO YOHANES PAULUS II 18 Mei 2020 : JEJAK SANTO YOHANES PAULUS II SEBAGAI SEORANG GEMBALA YANG BAIK
(https://pope-at-mass.blogspot.com/2020/05/homili-paus-fransiskus-dalam-misa-100-tahun-kelahiran-Yohanes-Paulus-II-18-Mei-2020.html)

Bacaan Ekaristi : Kis. 16:11-15; Mzm. 149:1-2,3-4,5-6a,9b; Yoh. 15:26-16:4a.

“Tuhan berkenan kepada umat-Nya” (Mzm 149:4) kita menyanyikan, refren lagu antarbacaan dan juga kebenaran yang diulang-ulang oleh orang Israel, ia suka mengulangi : “Tuhan berkenan kepada umat-Nya” dan dalam masa-masa buruk, senantiasa “Tuhan berkenan”. Kita harus berharap bagaimana perkenanan ini dapat terwujud. Ketika Tuhan mengutus seorang nabi, seorang manusia Allah demi perkenanan ini, reaksi orang-orang adalah : “Allah telah melawat umat-Nya” (Luk 7:16, bdk. Luk 1:68; Kel 4:31), karena ia berkenan kepadanya, “Ia melawat” . Dan ayat yang sama mengatakan orang banyak yang mengikuti Yesus melihat hal-hal yang dilakukan Yesus : “Allah telah melawat umat-Nya”. Dan hari ini kita dapat mengatakan di sini : seratus tahun yang lalu Tuhan melawat umat-Nya, mengutus seorang manusia, mempersiapkannya untuk menjadi uskup dan memimpin Gereja. Mengenang Santo Yohanes Paulus II, kita kembali membicarakan hal ini : “Tuhan berkenan kepada umat-Nya”, Tuhan melawat umat-Nya, mengutus seorang gembala. Dan apa, katakanlah, “jejak” seorang gembala yang baik yang dapat kita temukan dalam diri Santo Yohanes Paulus II? Sangat banyak! Tetapi katakan saja tiga. Ketika mereka mengatakan bahwa para Yesuit selalu mengatakan sesuatu … tiga, katakanlah tiga : doa, kedekatan dengan umat, dan cinta akan keadilan. Santo Yohanes Paulus II adalah manusia Allah karena ia berdoa dan banyak berdoa. Tetapi bagaimana bisa seorang manusia yang memiliki begitu banyak yang harus dikerjakan, begitu banyak pekerjaan untuk membimbing Gereja … memiliki begitu banyak waktu doa? Ia tahu betul bahwa tugas pertama seorang uskup adalah berdoa dan hal ini tidak dikatakan oleh Konsili Vatikan II, Santo Petrus mengatakannya, ketika bersama kelompok dua belas Rasul mengangkat para diakon, mereka berkata : “Dan supaya kami para uskup, berdoa dan mewartakan Sabda”(bdk. Kis 6:4). Tugas pertama seorang uskup adalah berdoa. Dan ia mengetahuinya, ia melakukannya. Model uskup yang berdoa, tugas pertama. Dan ia mengajarkan kita bahwa ketika seorang uskup melakukan pemeriksaan batin pada malam hari ia harus bertanya pada dirinya sendiri: berapa jam aku telah berdoa hari ini? Manusia yang sedang berdoa.

Jejak yang kedua, manusia kedekatan. Ia bukan manusia yang terpisah dari umat, sebaliknya ia pergi mendapati umat dan berkeliling dunia, mendapati umatnya, mencari umatnya, mendekati. Dan kedekatan adalah salah satu ciri khas Allah dengan umat-Nya. Ingatlah bahwa Tuhan berfirman kepada orang-orang Israel : “Lihat, bangsa besar manakah yang mempunyai allah yang demikian dekat kepadanya seperti Tuhan, Allah kita?” (bdk. Ul 4:7). Kedekatan Allah dengan umat yang kemudian dipersempit di dalam diri Yesus, menjadi lebih kuat di dalam diri Yesus. Seorang gembala dekat dengan umat, sebaliknya, jika ia tidak dekat, ia bukan seorang gembala, ia adalah hirarki, ia adalah pengelola, mungkin baik tetapi ia bukan seorang gembala. Kedekatan dengan umat. Dan Santo Yohanes Paulus II memberi kita teladan kedekatan ini : dekat orang besar dan kecil, dekat dan jauh, selalu dekat, ia menjadikan dirinya dekat.

Jejak yang ketiga, cinta akan keadilan. Tetapi keadilan seutuhnya! Seorang manusia yang menginginkan keadilan, keadilan sosial, keadilan rakyat, keadilan yang mengenyahkan peperangan. Tetapi keadilan seutuhnya! Inilah sebabnya mengapa Santo Yohanes Paulus II adalah manusia kerahiman karena keadilan dan kerahiman berjalan seiring, keduanya tidak dapat dibedakan, keduanya seiring : keadilan adalah keadilan, kerahiman adalah kerahiman, tetapi satu tanpa yang lain tidak dapat ditemukan. Dan berbicara tentang manusia keadilan dan kerahiman, kita memikirkan apa yang dilakukan Santo Yohanes Paulus II untuk membuat umat memahami kerahiman Allah. Kita berpikir bagaimana ia melakukan devosi kepada Santa Faustina yang dewasa ini peringatan liturginya berlaku untuk seluruh Gereja. Ia telah mendengar bahwa kebenaran Allah memiliki rupa kerahiman ini, sikap kerahiman ini. Dan inilah karunia yang ia wariskan untuk kita : keadilan-kerahiman dan kerahiman yang sesungguhnya.

Hari ini marilah kita berdoa kepadanya untuk memberikan kepada kita semua, khususnya para gembala Gereja tetapi kepada semua umat, rahmat doa, rahmat kedekatan dan rahmat keadilan-kerahiman, kerahiman-keadilan.

( Peter Suriadi – Bogor, 18 Mei 2020 )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *