Doa Sederhana Bisa Membuat Hati Allah Tergerak

Homili Paus Fransiskus Dalam Misa 16 Januari 2020: Doa yang Sederhana Bisa Membuat Hati Allah Tergerak

(https://pope-at-mass.blogspot.com/2020/01/homili-paus-fransiskus-dalam-misa-16.html)

Bacaan Ekaristi : 1Sam. 4:1-11; Mzm. 44:10-11,14-15,24-25; Mrk. 1:40-45.

Pokok homili Paus Fransiskus dalam Misa harian Kamis pagi, 16 Januari 2020, di Casa Santa Marta, Vatikan, mengacu pada Bacaan Injil (Mrk. 1:40-45). Bacaan Injil menceritakan seorang yang menderita kusta mendekati Yesus dan mengatakan, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku”. Permohonan orang yang menderita kusta tersebut merupakan suatu permohonan yang berasal dari lubuk hati, yang juga mengungkapkan sesuatu tentang Yesus dan belas kasih-Nya untuk kita. Yesus menderita “bersama dan untuk kita”, Ia menanggung penderitaan sesama, menghibur mereka dan menyembuhkan mereka dengan nama kasih Bapa.

Bercermin pada kisah “sederhana” tentang penyembuhan seorang yang menderita kusta, Paus Fransiskus mengatakan bahwa kalimat “Kalau Engkau mau …” merupakan doa yang “mendapat perhatian Allah”. “Suatu tantangan, tetapi juga tindakan kepercayaan : Aku tahu Ia dapat melakukannya, dan karenanya aku mempercayakan diri kepada-Nya”.

Orang yang menderita kusta dapat melakukan doa ini, Paus Fransiskus berkata, “karena ia melihat bagaimana Yesus bertindak. Orang ini telah melihat belas kasih Yesus”. Belas kasih, bukan perasaan kasihan, adalah “refren dalam Injil” – tema umum yang terlihat dalam kisah janda dari Nain, serta dalam perumpamaan orang Samaria yang baik dan anak yang hilang.

Belas kasih terlibat, belas kasih berasal dari hati dan terlibat, serta belas kasih menuntunmu untuk melakukan sesuatu. Belas kasih adalah “menderita bersama”, mengambil penderitaan sesama ke atas dirimu guna menyelesaikannya, menyembuhkannya. Dan inilah perutusan Yesus. Yesus tidak datang untuk memberitakan hukum Taurat dan kemudian pergi. Yesus datang dengan belas kasih, yaitu, menderita bersama dan untuk kita serta memberikan kita kehidupan itu sendiri. Kasih Yesus begitu besar sehingga belas kasih justru menuntun-Nya ke kayu Salib, memberikan nyawa-Nya.

Yesus tidak cuci tangan, tetapi berdiri di samping kita. Paus Fransiskus mengajak kita untuk kerap mengulangi “frasa kecil ini”. Karena Yesus memiliki belas kasih, beliau menjelaskan, “Ia mampu melibatkan diri-Nya dalam kesedihan kita, dalam permasalahan orang lain”. Yesus tidak datang hanya untuk memberikan beberapa khotbah dan kemudian kembali ke surga; bukan cuci tangan. Ia datang untuk menjadi dekat dengan kita, dan Ia senantiasa tinggal di samping kita.

Paus Fransiskus menjelaskan bagaimana ungkapan berikut ini dapat diubah menjadi doa yang dapat kita gunakan setiap hari : “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkanku; kalau Engkau mau, Engkau dapat mengampuniku; kalau Engkau mau, Engkau dapat menolongku”. Atau, kalau Engkau mau, [Engkau dapat menjadikannya] sedikit lebih lama”. Tuhan, aku orang berdosa, kasihanilah aku, kasihanilah aku”. Sebuah doa yang sederhana yang bisa diucapkan berkali-kali dalam sehari. “Tuhan, aku, orang berdosa, memohon kepada-Mu : kasihanilah aku”. Berkali-kali dalam sehari, dari lubuk hati, dari hati, tanpa mengucapkannya dengan lantang : “Tuhan, kalau Engkau mau, Engkau dapat; kalau Engkau mau, Engkau dapat. Kasihanilah aku”. Ulangilah kalimat ini.

Orang yang menderita kusta, dengan doanya yang sederhana dan “menakjubkan”, dapat memperoleh kesembuhan berkat belas kasih Yesus, yang mengasihi kita terlepas dari kedosaan kita.

Ia tidak malu dengan diri kita. “Ya Bapa, aku orang berdosa, bagaimana aku bisa mengucapkan ini? …” [Ini] lebih baik! Karena Ia datang justru untuk kita orang-orang berdosa, dan semakin besar dosamu, kamu semakin dekat dengan Tuhan, karena Ia telah datang untukmu, orang yang berdosa paling besar; untukku, orang yang berdosa paling besar; untuk kita semua. Marilah kita biasakan mengulangi doa ini, senantiasa : “Tuhan, kalau Engkau mau, Engkau dapat melakukannya. Kalau Engkau mau, Engkau dapat melakukannya”, dengan keyakinan bahwa Tuhan dekat dengan kita; dan dengan belas kasih-Nya, Ia akan mengambil ke atas diri-Nya permasalahan kita, dosa-dosa kita, penyakit batin kita, segala sesuatunya.

(Peter Suriadi – Bogor, 16 Januari 2020)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *